SELAMAT
DATANG BULAN SUCI RAMADHAN 1437 H
“Ramadhan Sarana Introspeksi dan Memahami Hakikat
Diri”

Oleh :
Ridwan Mubarak
(Penulis adalah Dosen Fidkom UIN SGD
Bandung)
“ Dari Abu
Hurairah Radhiyallahu Anhu, bahwasanya Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam
bersabda: ( Allah Azza wa Jalla berfirman
: “ Setiap amal anak Adam adalah baginya kecuali puasa, sesungguhnya ia untuk
–Ku, Aku yang akan membalasnya. Puasa adalah perisai, jika kalian sedang
berpuasa janganlah berkata kotor atau menghardik. Apabila seseorang mengumpat
atau memusuhinya, katakana: “Aku sedang berpuasa.” Demi Dzat yang jiwa Muhammad
ditangan-Nya, bau mulut orang yang berpuasa lebih harum disisi Allah dari pada
minyank wangi, bagi orang yang berpuasa ada dua kebahagiaan, ketika berbuka puasa
ia bergembira dan ketika bertemu Rabbnya ia gembira dengan pahala puasanya.”( HR. Bukhari Muslim )
Ahlan Wasahlan Ya Ramadhan, selamat datang bulan suci Ramdhan 1437 H. Tak terasa, waktu terus berlalu masa tegas
berganti, satu tahun sudah segenap umat Islam diseantero bumi telah meninggalkan
bulan suci Ramadhan 1436 H,
dan kini, genap satu tahun kemudian pada hitungan tahun Hijriyah, umat Islam diseantero bumi bersiap-siap kembali menyambut kedatangan
bulan yang teramat istimewa, bulan suci Ramadhan 1437 H. Bulan
yang lebih mulia daripada 1000 bulan, bulan yang penuh dengan berkah dan
ampunan, demikian firman Alloh SWT dan sabda Baginda Rasulullah SAW melalui
beberapa keterangan dalam Al-Qur’an dan Hadits dalam memuliakan bulan yang satu
ini.
Bulan suci Ramadhan adalah bulan penuh ilmu, bulan
penuh barokah dan ampunan, bulan yang lebih utama dari seribu bulan. Ragam
aktivitas keilmuan digelar dimana-mana, mulai dari kuliah subuh, ceramah
tarawih, diskusi, seminar, dan bedah buku bernuansa agama di kampus-kampus,
pengajian di kantor-kantor adalah kegiatan khas bulan suci Ramadhan. Dari sisi teologis-pun,
amalan dan ibadah kita di bulan ini nilai pahalanya dilipatgandakan, fakir
miskin akan tersejahterakan dengan zakat dan Shadaqoh, para musafir yang
tetap berpuasa disediakan ta’jil dan menu berbuka puasa di mesjid-mesjid
dan langgar, inilah sebagian kecil keberkahan bulan sejuta kebaikan. Ramadhan
datang menjelang, seluruh umat muslim dunia menyambutnya dengan sukacita,
menyongsongnya dengan ragam aktivitas positif dan berjuta harapan akan
datangnya kehidupan yang lebih baik, lahirnya hamba-hamba Alloh SWT yang
bertakwa dan paripurna. Inilah salahsatu keunikan sekaligus keajaiban Ramadhan,
bulan yang mampu menggerakan segenap jiwa dan raga umat Islam untuk
berlomba-lomba dalam kebajikan, menyingkirkan berbagai keburukan dan kekejian.
Syahdan, Rasulullah SAW-pun sempat melakukan gencatan senjata dan
menghentikan peperangan dengan kaum kufar Quraisy demi menghormati datangnya
bulan penuh ampunan ini. Ahlan wasahlan ya Ramadhan…
Melalui pancaran suci keberkahan Ramadhan,
kaum muslim memiliki kesempatan untuk dapat melakukan otokritik perilaku,
evaluasi diri, introspeksi amal dan mempersiapkan ibadah secara khusyu kini
dan seterusnya. Tentunya setiap ibadah kita akan memiliki nilai dihadapan Alloh
SWT manakala ibadah kita disertai dengan ilmunya, paham akan syarat dan
rukunnya dan tertib dalam pelaksanaannya. Ilmu tidak akan kita dapatkan jika
proses belajar tidak kita tempuh, kapan dan dimanapun kita berada, niatkan
dalam hati untuk senantiasa belajar dan belajar. Manusia mulia karena ilmunya,
ilmu yang bersumber dari sesuatu yang hak Alloh aza wajalla sang kreator
agung. Bukankah ada keterangan yang menyatakan :
Jika kita ingin mendapatkan kemuliaan dunia maka
kuncinya ilmu, jika kita menginginkan kemuliaan akhirat maka kuncinya ilmu, dan
barang siapa menginginkan kemuliaan dunia dan akhirat, maka kuncinya tetap
ilmu.
Ilmu
memiliki peranan yang sangat luar biasa dalam kehidupan manusia. Manusia dengan
hakikat nilai kemanusiaannya akan kentara jika manusia yang bersangkutan
menguasai ilmu, begitupun sebaliknya, seorang anak manusia tidak akan dapat
mengenal dirinya dengan baik tanpa menguasai ilmu. Al ilmu nurrun, Ilmu
adalah cahaya penerang dalam gulita jahiliyyah.
Setiap anak manusia terlahir dari
rahim ibundanya dalam keadaan yang sama, menangis, meronta dan menjerit serta
tiada mngenakan sehelai benang-pun ditubuh rapuhnya. Asing dengan dunianya yang
baru, alam raya dengan berjuta fenomenanya, alam kasar yang mungkin tidak
sehangat dan seramah alam rahim ibunda tercinta. Di sisi lain, ayahanda, kakek,
nenek dan handaitolan tertawa gembira menyambut lahirnya mahluk baru sang anak
manusia, kenduri-pun digelar sebagai wujud rasa syukur atas karunia yang telah
Tuhan berikan. Dalam perjalanannya, bayi beranjak remaja, remaja berganti
dewasa, dewasa berubah menjadi tua dan tibalah ajal menjemput, sang malakal
maut merampas berbagai kesenangan kita di dunia.
Kematian adalah babak baru perjalanan panjang alam akhirat, yang harus kita
songsong dengan tercukupinya perbekalan amal saleh selama di dunia. Kematian
kita haruslah berbeda dengan kelahiran kita dulu, jika dulu kita terlahir
dengan jeritan dan tangisan, ajal harus kita sambut dengan senyum dan
keikhlasan. Dulu semua orang bersukacita dan tertawa riang menyaksikan kita
terlahir dialam fana ini, apakah lantas ketika ajal menjemput dan merenggut
nyawa kondisi yang sama harus terulang, tidak tentunya. Semua orang yang
menyaksikan kematian kita harus berduka dan bersedih hati karena kehilangan
orang yang mereka cintai, hamba yang selalu menebar kebaikan kepada sesamanya.
Celakalah jiwa raga ini, tatkala kematian kita menjadi sesuatu yang
menggembirakan bagi lingkungan sekitar, pupus harapan untuk memperoleh syurga karena
perilaku nirca dan keji selama hidup di dunia, jauh akan syari’at dan malah
mendekati maksiat, Naudzubillah summa Naudzubillah.
Seluruh anak manusia terlahir dengan
tiga potensi yang sama yang diberikan Alloh SWT. Benjamin S. Bloom
(1965) dalam Tacsonomy of Educational Objective menyatakan, Pertama
potensi kognitif (akal), dengan kekuatan akal pikirannya, manusia mampu
mencipta budaya dan peradabannya. Ilmu pengetahuan berkembang dengan pesat
ketika manusia mampu memaksimalkan fungsi akal. Bulan dijejaki, Mars
disinggahi, galaksi diteliti, atom nuklir ditemukan dan bumi seakan dalam
genggaman, tanpa batas ruang dan waktu. Inilah salah satu kehebatan akal yang
telah Tuhan ciptakan, namun dengan akal pula manusia berada pada titik nadir
kehinaannya. Senjata dicipta sebagai alat pembunuh paling ampuh, alat perang
yang menyebabkan musnahnya nilai kemanusiaan dan hancurnya ekosistem alam raya
yang Tuhan titipkan kepada manusia. Inilah salahsatu kepongahan akal jika tidak
diimbangi kekuatan hati.
Kedua, potensi Apektif (hati dan intuisi). Imam Al-Ghazali dalam
tulisannya keajaiban-keajaiban hati menyatakan bahwa hati adalah sesuatu yang lathifah
halus, lembut tidak kasat mata, tak berupa dan tak dapat diraba yang bersifat Rabbani
ruhani meski ada juga kaitannya dengan organ hati. Makna latihifah sendiri
sesungguhnya adalah hakikat jati diri manusia itu sendiri. Hati adalah kekuatan
peyeimbang akal, dalam hati pula tersimpan keimanan terhadap sesuatu yang hak,
setelah mengalami proses akliyah lantas ditransformasikan dan
bersemayamlah keimanan dalam hati.
Ketiga, potensi Psikomotorik
(pancaindera). Potensi ini merupakan implementasi dari apa yang direspon
oleh akal dan dirasa oleh hati. Akal dan hati yang orientasinya positif, maka
akan melahirkan perbuatan-perbuatan yang baik, sesuai dengan syari’at, dan
begitu pula sebaliknya, akal dan hati yang berorientasi negatif maka akan
memunculkan perilaku keji yang tak dapat membedakan mana yang hak dan
mana yang bathil.
Menjadi inti permasalahan sekarang
ini adalah sampai sejauh mana kita dapat memadukan tiga potensi ini menjadi
sesuatu yang utuh. Satu kekuatan yang sinergis guna menemukan
kebenaran-kebenaran yang telah Tuhan ciptakan. Islam sebagai way of life
sesuatu yang diciptakan oleh Alloh SWT untuk manusia, adalah jalan kebenaran dan keselamatan yang harus
dipelajari secara sempurna melalui teks suci al-Qur’an dan Sunnah. Qur’an dan
Sunnah tidak akan mampu mentransformasikan nilai-nilai kebenarannya
kepada manusia jika kita tidak membaca, mengkaji dan mengamalkannya dalam
keseharian.
Mengapa saat ini banyak umat Islam diberbagai belahan dunia yang miskin dan
terbelakang, padahal Islam menjanjikan kemuliaan dunia dan akhirat? Bahwa
ternyata tidak sedikit dari kita manakala memahami Islam hanya parsial
(sebagian saja) tidak secara menyeluruh (komprehensif/ kaffah), bukankah
Alloh telah memerintahkan kepada hambanya untuk masuk kedalam Islam secara kaffah?.
Berikutnya tidak sedikit dari kita yang pintar mengaji al-Qur’an namun tidak
pintar mengkajinya. Tadarrus al-Qur’an hanya sebatas ceremonial
keagamaan, tanpa memahami pesan moral apa yang termaktub dalam teks dan konteks
al-qur’an, nilai-nilai apa yang dapat ditanamkan dalam sanubari, ia tidak
memahami hingga masa tuanya, ironis memang.
Menjadi tua itu pasti sedangkan
menjadi dewasa adalah pilihan, terbukti, ada remaja yang usianya belasan tahun
namun perilakunya mencerminkan orang dewasa. Sebaliknya tidak sedikit orangtua
yang usianya udzur, berperilaku kekanak-kanakan karena tak mampu memilih
menjadi manusia dewasa dalam hidupnya. Salahsatu kriteria manusia dewasa adalah
mampu memadukan tiga potensi yang telah Tuhan berikan dan mampu mengenal siapa
dirinya, who am I?. Siapakah aku, darimana aku dan akan kemana
aku? Adalah pertanyaan yang redaksinya sangat sederhana namun membutuhkan
pemikiran yang mendalam untuk dapat menjawab salah satu dari pertanyaan
tersebut.
Berbahagialah mereka yang telah mampu menjadikan bulan suci Ramadahan tahun
ini sebagai ajang mengenal hakikat dirinya. Parameternya cukup sederhana,
patuh dan taat kepada Alloh SWT yang termaktub dalan teks suci al-Qur’an dan
Sunnah. Amalan fardhu dilaksankan dan amalan sunah diperbanyak, kepekaan hati
menyikapi realitas (kemiskinan, kelaparan, kebodohan) meningkat sebagai wujud
kesalehan sosial terhadap sesama melalui zakat, infaq, dan sadaqoh,
serta empati dengan penderitaan orang lain melalui aktivitas shaum mulai
dari terbit fajar hingga terbenamnya matahari. Akhirnya hanya kepada Alloh
jualah kita berserah diri. ( wassalam )
Cianjur,
30 Mei 2016
Penulis
Tidak ada komentar:
Posting Komentar