Selasa, 14 Juni 2016

RAMADHAN 1437 H SARANA MEMAHAMI HAKIKAT DIRI

SELAMAT DATANG BULAN SUCI RAMADHAN 1437 H
Ramadhan Sarana Introspeksi dan Memahami Hakikat Diri


Oleh : Ridwan Mubarak
(Penulis adalah Dosen Fidkom UIN SGD Bandung)

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu, bahwasanya Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam bersabda: ( Allah Azza wa Jalla berfirman : “ Setiap amal anak Adam adalah baginya kecuali puasa, sesungguhnya ia untuk –Ku, Aku yang akan membalasnya. Puasa adalah perisai, jika kalian sedang berpuasa janganlah berkata kotor atau menghardik. Apabila seseorang mengumpat atau memusuhinya, katakana: “Aku sedang berpuasa.” Demi Dzat yang jiwa Muhammad ditangan-Nya, bau mulut orang yang berpuasa lebih harum disisi Allah dari pada minyank wangi, bagi orang yang berpuasa ada dua kebahagiaan, ketika berbuka puasa ia bergembira dan ketika bertemu Rabbnya ia gembira dengan pahala puasanya.”( HR. Bukhari Muslim )

            Ahlan Wasahlan Ya Ramadhan, selamat datang bulan suci Ramdhan 1437 H. Tak terasa, waktu terus berlalu masa tegas berganti, satu tahun sudah segenap umat Islam diseantero bumi telah meninggalkan bulan suci Ramadhan 1436 H, dan kini, genap satu tahun kemudian pada hitungan tahun Hijriyah, umat Islam diseantero bumi bersiap-siap kembali menyambut kedatangan bulan yang teramat istimewa, bulan suci Ramadhan 1437 H.  Bulan yang lebih mulia daripada 1000 bulan, bulan yang penuh dengan berkah dan ampunan, demikian firman Alloh SWT dan sabda Baginda Rasulullah SAW melalui beberapa keterangan dalam Al-Qur’an dan Hadits dalam memuliakan bulan yang satu ini.
            Bulan suci Ramadhan adalah bulan penuh ilmu, bulan penuh barokah dan ampunan, bulan yang lebih utama dari seribu bulan. Ragam aktivitas keilmuan digelar dimana-mana, mulai dari kuliah subuh, ceramah tarawih, diskusi, seminar, dan bedah buku bernuansa agama di kampus-kampus, pengajian di kantor-kantor adalah kegiatan khas bulan suci Ramadhan. Dari sisi teologis-pun, amalan dan ibadah kita di bulan ini nilai pahalanya dilipatgandakan, fakir miskin akan tersejahterakan dengan zakat dan Shadaqoh, para musafir yang tetap berpuasa disediakan ta’jil dan menu berbuka puasa di mesjid-mesjid dan langgar, inilah sebagian kecil keberkahan bulan sejuta kebaikan. Ramadhan datang menjelang, seluruh umat muslim dunia menyambutnya dengan sukacita, menyongsongnya dengan ragam aktivitas positif dan berjuta harapan akan datangnya kehidupan yang lebih baik, lahirnya hamba-hamba Alloh SWT yang bertakwa dan paripurna. Inilah salahsatu keunikan sekaligus keajaiban Ramadhan, bulan yang mampu menggerakan segenap jiwa dan raga umat Islam untuk berlomba-lomba dalam kebajikan, menyingkirkan berbagai keburukan dan kekejian. Syahdan, Rasulullah SAW-pun sempat melakukan gencatan senjata dan menghentikan peperangan dengan kaum kufar Quraisy demi menghormati datangnya bulan penuh ampunan ini. Ahlan wasahlan ya Ramadhan…
            Melalui pancaran suci keberkahan Ramadhan, kaum muslim memiliki kesempatan untuk dapat melakukan otokritik perilaku, evaluasi diri, introspeksi amal dan mempersiapkan ibadah secara khusyu kini dan seterusnya. Tentunya setiap ibadah kita akan memiliki nilai dihadapan Alloh SWT manakala ibadah kita disertai dengan ilmunya, paham akan syarat dan rukunnya dan tertib dalam pelaksanaannya. Ilmu tidak akan kita dapatkan jika proses belajar tidak kita tempuh, kapan dan dimanapun kita berada, niatkan dalam hati untuk senantiasa belajar dan belajar. Manusia mulia karena ilmunya, ilmu yang bersumber dari sesuatu yang hak Alloh aza wajalla sang kreator agung. Bukankah ada keterangan yang menyatakan :
Jika kita ingin mendapatkan kemuliaan dunia maka kuncinya ilmu, jika kita menginginkan kemuliaan akhirat maka kuncinya ilmu, dan barang siapa menginginkan kemuliaan dunia dan akhirat, maka kuncinya tetap ilmu.
Ilmu memiliki peranan yang sangat luar biasa dalam kehidupan manusia. Manusia dengan hakikat nilai kemanusiaannya akan kentara jika manusia yang bersangkutan menguasai ilmu, begitupun sebaliknya, seorang anak manusia tidak akan dapat mengenal dirinya dengan baik tanpa menguasai ilmu. Al ilmu nurrun, Ilmu adalah cahaya penerang dalam gulita jahiliyyah.
            Setiap anak manusia terlahir dari rahim ibundanya dalam keadaan yang sama, menangis, meronta dan menjerit serta tiada mngenakan sehelai benang-pun ditubuh rapuhnya. Asing dengan dunianya yang baru, alam raya dengan berjuta fenomenanya, alam kasar yang mungkin tidak sehangat dan seramah alam rahim ibunda tercinta. Di sisi lain, ayahanda, kakek, nenek dan handaitolan tertawa gembira menyambut lahirnya mahluk baru sang anak manusia, kenduri-pun digelar sebagai wujud rasa syukur atas karunia yang telah Tuhan berikan. Dalam perjalanannya, bayi beranjak remaja, remaja berganti dewasa, dewasa berubah menjadi tua dan tibalah ajal menjemput, sang malakal maut merampas berbagai kesenangan kita di dunia.
Kematian adalah babak baru perjalanan panjang alam akhirat, yang harus kita songsong dengan tercukupinya perbekalan amal saleh selama di dunia. Kematian kita haruslah berbeda dengan kelahiran kita dulu, jika dulu kita terlahir dengan jeritan dan tangisan, ajal harus kita sambut dengan senyum dan keikhlasan. Dulu semua orang bersukacita dan tertawa riang menyaksikan kita terlahir dialam fana ini, apakah lantas ketika ajal menjemput dan merenggut nyawa kondisi yang sama harus terulang, tidak tentunya. Semua orang yang menyaksikan kematian kita harus berduka dan bersedih hati karena kehilangan orang yang mereka cintai, hamba yang selalu menebar kebaikan kepada sesamanya. Celakalah jiwa raga ini, tatkala kematian kita menjadi sesuatu yang menggembirakan bagi lingkungan sekitar, pupus harapan untuk memperoleh syurga karena perilaku nirca dan keji selama hidup di dunia, jauh akan syari’at dan malah mendekati maksiat, Naudzubillah summa Naudzubillah.
            Seluruh anak manusia terlahir dengan tiga potensi yang sama yang diberikan Alloh SWT. Benjamin S. Bloom (1965) dalam Tacsonomy of Educational Objective menyatakan, Pertama potensi kognitif (akal), dengan kekuatan akal pikirannya, manusia mampu mencipta budaya dan peradabannya. Ilmu pengetahuan berkembang dengan pesat ketika manusia mampu memaksimalkan fungsi akal. Bulan dijejaki, Mars disinggahi, galaksi diteliti, atom nuklir ditemukan dan bumi seakan dalam genggaman, tanpa batas ruang dan waktu. Inilah salah satu kehebatan akal yang telah Tuhan ciptakan, namun dengan akal pula manusia berada pada titik nadir kehinaannya. Senjata dicipta sebagai alat pembunuh paling ampuh, alat perang yang menyebabkan musnahnya nilai kemanusiaan dan hancurnya ekosistem alam raya yang Tuhan titipkan kepada manusia. Inilah salahsatu kepongahan akal jika tidak diimbangi kekuatan hati.        
Kedua, potensi Apektif (hati dan intuisi). Imam Al-Ghazali dalam tulisannya keajaiban-keajaiban hati menyatakan bahwa hati adalah sesuatu yang lathifah halus, lembut tidak kasat mata, tak berupa dan tak dapat diraba yang bersifat Rabbani ruhani meski ada juga kaitannya dengan organ hati. Makna latihifah sendiri sesungguhnya adalah hakikat jati diri manusia itu sendiri. Hati adalah kekuatan peyeimbang akal, dalam hati pula tersimpan keimanan terhadap sesuatu yang hak, setelah mengalami proses akliyah lantas ditransformasikan dan bersemayamlah keimanan dalam hati.
            Ketiga, potensi Psikomotorik (pancaindera). Potensi ini merupakan implementasi dari apa yang direspon oleh akal dan dirasa oleh hati. Akal dan hati yang orientasinya positif, maka akan melahirkan perbuatan-perbuatan yang baik, sesuai dengan syari’at, dan begitu pula sebaliknya, akal dan hati yang berorientasi negatif maka akan memunculkan perilaku keji yang tak dapat membedakan mana yang hak dan mana yang bathil.
            Menjadi inti permasalahan sekarang ini adalah sampai sejauh mana kita dapat memadukan tiga potensi ini menjadi sesuatu yang utuh. Satu kekuatan yang sinergis guna menemukan kebenaran-kebenaran yang telah Tuhan ciptakan. Islam sebagai way of life sesuatu yang diciptakan oleh Alloh SWT untuk manusia, adalah jalan  kebenaran dan keselamatan yang harus dipelajari secara sempurna melalui teks suci al-Qur’an dan Sunnah. Qur’an dan Sunnah tidak akan mampu mentransformasikan nilai-nilai kebenarannya kepada manusia jika kita tidak membaca, mengkaji dan mengamalkannya dalam keseharian.
Mengapa saat ini banyak umat Islam diberbagai belahan dunia yang miskin dan terbelakang, padahal Islam menjanjikan kemuliaan dunia dan akhirat? Bahwa ternyata tidak sedikit dari kita manakala memahami Islam hanya parsial (sebagian saja) tidak secara menyeluruh (komprehensif/ kaffah), bukankah Alloh telah memerintahkan kepada hambanya untuk masuk kedalam Islam secara kaffah?. Berikutnya tidak sedikit dari kita yang pintar mengaji al-Qur’an namun tidak pintar mengkajinya. Tadarrus al-Qur’an hanya sebatas ceremonial keagamaan, tanpa memahami pesan moral apa yang termaktub dalam teks dan konteks al-qur’an, nilai-nilai apa yang dapat ditanamkan dalam sanubari, ia tidak memahami hingga masa tuanya, ironis memang.
            Menjadi tua itu pasti sedangkan menjadi dewasa adalah pilihan, terbukti, ada remaja yang usianya belasan tahun namun perilakunya mencerminkan orang dewasa. Sebaliknya tidak sedikit orangtua yang usianya udzur, berperilaku kekanak-kanakan karena tak mampu memilih menjadi manusia dewasa dalam hidupnya. Salahsatu kriteria manusia dewasa adalah mampu memadukan tiga potensi yang telah Tuhan berikan dan mampu mengenal siapa dirinya, who am I?. Siapakah aku, darimana aku dan akan kemana aku? Adalah pertanyaan yang redaksinya sangat sederhana namun membutuhkan pemikiran yang mendalam untuk dapat menjawab salah satu dari pertanyaan tersebut.
Berbahagialah mereka yang telah mampu menjadikan bulan suci Ramadahan tahun ini sebagai ajang mengenal hakikat dirinya. Parameternya cukup sederhana, patuh dan taat kepada Alloh SWT yang termaktub dalan teks suci al-Qur’an dan Sunnah. Amalan fardhu dilaksankan dan amalan sunah diperbanyak, kepekaan hati menyikapi realitas (kemiskinan, kelaparan, kebodohan) meningkat sebagai wujud kesalehan sosial terhadap sesama melalui zakat, infaq, dan sadaqoh, serta empati dengan penderitaan orang lain melalui aktivitas shaum mulai dari terbit fajar hingga terbenamnya matahari. Akhirnya hanya kepada Alloh jualah kita berserah diri. ( wassalam )   

                                                                                                Cianjur, 30 Mei 2016                                                             
                                                                                                                                                                                                                          Penulis       






Tidak ada komentar: