“NASIONALISME VERSUS KONSPIRASI GLOBAL”
Oleh : Ridwan Mubarak S.Sos., M.Ag
(Penulis Bergiat di FAI UNSUR, Fikom
UNPI, SMK Islamiyyah, dan
Pengurus ICMI Kab. Cianjur)
Tan
Malaka melalui refleksi kritisnya sebagai seorang anak bangsa,
jauh hari yang silam pernah mengemukakan satu logika sederhana tentang paham
kebangsaannya. Ia menyatakan bahwa rakyat Indonesia selamanya akan dibuat
susah oleh sepak terjang kaum Nasionalis-Imperialis. Nasionalis sebutannya,
namun imperialis perbuatannya.[1]
Soekarno
muda-pun sempat menyatakan kegundahannya bahwa bangsa kita akan
senantiasa menjadi bangsa kuli dan kuli diantara bangsa-bangsa jika dipimpin
oleh manusia-manusia Idealis-Pragmatis. Idealis tatkala berbicara konsep, namun
pragmatis sekaligus hedonis ketika masuk ranah praksis.
Satu abad lebih kebangkitan nasional
dan peringatan 66 tahun kemerdekaan Indonesia baru sebatas euforia masal.
Hal mana dapat kita saksikan dari tayangan diberbagai media masa (baik cetak
maupun elektronik) ketika refleksi 103 tahun kebangkitan nasional dan
perayaan 66 tahun kemerdekaan digelar. Instansi pemerintah baik pusat maupun
daerah ramai-ramai membentangkan spanduk dan baligo ukuran besar bertuliskan
semangat kebangkitan nasional. Kantor-kantor perusahaan swasta-pun turut serta
memeriahkan hari kebangkitan nasional dengan melaksanakan kegiatan-kegiatan
sosial dan pagelaran-pagelaran seni budaya sebagaimana intruksi dari para
pemegang kebijakan di tingkatan elit pemerintahan. Tak ketinggalan, para elit
politik partai peserta pemilu yang sarat dengan orientasi politis, latah
menunggangi refleksi 103 tahun kebangkitan nasional sebagai kuda tunggangan
guna mendapatkan simpati rakyat melalui iklan-iklan layanan masyarakat yang
dikemas sangat apik bernuansa keperihatinan dan kepedulian terhadap penderitaan
yang tengah mendera anak bangsa.
Motifnya
beragam, ada yang memang tulus ikhlas menjadikan semangat kebangkitan nasional
sebagai parameter jiwa nasionalisnya, namun adapula manusia-manusia hipokrit[2]
yang menjadikan moment kebangkitan nasional sebagai sarana “jual tampang” untuk
kepentingan perolehan suara pada pesta demokrasi nanti. Padahal, jika kita
telisik lebih jauh tentang makna sejatinya kebangkitan nasional, tentunya bukan
hanya sebatas bentangan spanduk, baligo, iklan berbau kampanye dan
hingar-bingar pagelaran pesta tanpa makna. Lebih dari itu, segenap rakyat
Indonesia dari Sabang sampai Merauke merindukan kebangkitan bangsa seutuhnya,
kebangkitan ekonomi, kebangkitan sosial, keterpaduan kedaulatan, kemudahan
mengakses kesempatan dan memperoleh keadilan guna mengenyahkan kemiskinan dan
kebodohan.
Ketidakadilan Sosial[3]
Wujud paling kasar dari
ketidakadilan sosial adalah kemiskinan struktural. Seberapa pun kerasnya
berusaha, orang tetap tidak berdaya dalam suatu relasi ketergantungan yang tak
seimbang. Tergilas ekonomi pasar yang tak peduli berapa banyak orang jatuh
miskin. Indonesia
negara maritim, tetapi nelayannya miskin. Negara agraris, namun petaninya hidup
dalam belenggu tuan tanah dan kaum rentenir. Seyogianya negara mengatasi
kemiskinan bukan dengan bantuan yang membuat orang merasa miskin, tetapi kaum
miskin tetap memiliki akses memperoleh kebutuhan dasar. Nilai-nilai dibuat
operasional. Harga diri orang miskin tetap terjaga ketika mereka menjadi tuan
atas nasibnya sendiri. Karenanya negara wajib memfasilitasi warga negara untuk
memiliki keterampilan, minimal untuk hidup mandiri dan masuk ke dalam sistem
perekrutan pekerjaan sesuai kebutuhan masyarakat.
Seabreg
permasalahan besar sekaligus pelajaran berharga bagi bangsa Indonesia yang
hingga kini masih belum tuntas diantaranya menyangkut nasib warga Sidoarjo
korban lumpur Lapindo, adalah bukti nyata dihadapan kita. Mereka dengan
seketika kehilangan harta kekayaannya dan menjadi miskin bahkan hidup di bawah
garis kemiskinan karena lemahnya peran negara yang diwakili oleh elit politik
dan birokrat pemerintah. Membludaknya jumlah pengangguran usia produktif hingga
kisaran angka 39,4 juta masih menjadi permasalahan akut bangsa yang harus
dicarikan jalan keluarnya. Masalaha lain adalah tingginya angka masyarakat
miskin. Menurut catatan BPS (Badan Pusat Statistika), pada tahun 2003 jumlah
penduduk miskin absolut secara nasional 37 juta jiwa atau sekitar 17,5 persen
dari total penduduk Indonesia .
Dilihat
dari komposisi penduduk miskin, maka pada saat ini diperkirakan jumlah penduduk
miskin di daerah pedesaan sekitar dua kali jumlahnya dibandingkan dengan
orang-orang miskin yang hidup di perkotaan.
Penyumbang terbesar penduduk miskin tetap berada di Pulau Jawa, karena padatnya penduduk, kesuburan tanah yang menurun, terbatasnya harga jual hasil panen, terutama gabah, serta alternatif sumber penghasilan yang lain sudah semakin sulit ditemukan.
Penyumbang terbesar penduduk miskin tetap berada di Pulau Jawa, karena padatnya penduduk, kesuburan tanah yang menurun, terbatasnya harga jual hasil panen, terutama gabah, serta alternatif sumber penghasilan yang lain sudah semakin sulit ditemukan.
Diagnosis
sebab-sebab kemiskinan amat beragam. Di Jawa, kemiskinan terutama disebabkan
kepemilikan tanah yang terbatas, bahkan banyak di antara petani yang tidak
mempunyai tanah dan hanya menjadi buruh tani. Terbatasnya akses masyarakat
miskin terhadap fasilitas umum seperti pendidikan dan kesehatan dasar, serta
sumber-sumber air bersih juga menimbulkan dampak kemiskinan. Pencemaran
lingkungan yang hebat seperti sungai dan laut, tempat mata pencaharian
penduduk, juga menimbulkan kemiskinan. Demikian pula korupsi menyebabkan
aset-aset yang seharusnya dimiliki publik telah berpindah tangan menjadi milik
pribadi, juga dapat menjadi sumber kemiskinan. Konflik sosial dan politik serta
bencana alam, apalagi jika sering terjadi, juga memberikan sumbangan bagi
timbulnya kemiskinan.
Untuk
mengurangi kemiskinan, maka pembukaan lapangan kerja merupakan salah satu
solusinya, dan untuk itu harus ada investasi. Tetapi, investasi di perkotaan
tidak akan banyak memberi pengaruh penurunan kemiskinan di daerah pedesaan. Di
daerah pedesaan harus dilakukan program-program khusus yang langsung dapat
menyerang kantong-kantong kemiskinan.
Prilaku “asusila” korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) yang menggurita dalam struktur birokrasi kita menjadi faktor penghambat yang dominan dalam melakukan perubahan paradigma kebangsaan secara komprehensif. Imbasnya, proses re-generasi kepemimpinan terhambat, terjadi pembunuhan karakter, penjegalan kreatifitas, serta pelacuran terhadap konstitusi negara.
Prilaku “asusila” korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) yang menggurita dalam struktur birokrasi kita menjadi faktor penghambat yang dominan dalam melakukan perubahan paradigma kebangsaan secara komprehensif. Imbasnya, proses re-generasi kepemimpinan terhambat, terjadi pembunuhan karakter, penjegalan kreatifitas, serta pelacuran terhadap konstitusi negara.
Kekayaan
alam yang melimpah ruah, belum termaksimalkan seutuhnya untuk mensejahterakan
rakyat, bahkan lebih tragis lagi, para kapitalis asing dengan perusahaan
multinasionalnya begitu leluasa dan bernafsu mengeksploitasi kekayaan alam kita
untuk memuaskan syahwat sarat kepentingan guna memiskinkan bangsa yang konon
katanya digjaya dengan sumpah amukti palapanya ini..
Pengamat
politik sekaligus intelektual muda Fazlur Rahman dalam suatu kesempatan seminar[4]
menyatakan bahwa diperkirakan, dari total 100% pendapatan sumber daya alam Indonesia yang
mengatasnamakan Corporrate (korporasi), hanya 20% saja yang masuk kas
negara, 80% masuk ke dalam kocek para kapitalis asing. Dari 80%
penghasilan tersebut, 70% diantaranya
menjadi hak para investor Amerika dengan perusahaan induk dan anak
perusahaannya. Ironis sekaligus tragis nasib sebuah bangsa yang bernama Indonesia ini.
Diakui atau tidak, secara ekonomi kita belum mandiri. Kita menjual minyak dan
gas alam ke luar negeri, layaknya sebuah negeri yang kaya minyak.namun ketika
perlu, kita membelinya dari Singapura yang tidak memiliki sumber daya alam.
Dulu sebelum proklamasi dikumandangkan, sumber daya alam kita dikuasai oleh
penjajah asing, kini kita sesak nafas dalam cengkeraman perusahaan
multinasional (Freeport ,
Newmont, Exon Mobile Oil) dengan para oportunis bangsa yang menjadi
gundiknya.
Kemiskinan
merupakan masalah global, sering dihubungkan dengan kebutuhan, kesulitan dan
kekurangan di berbagai keadaan hidup. Sebagian orang memahami istilah ini
secara subyektif dan komparatif, sementara yang lainnya
melihatnya dari segi moral dan evaluatif, dan yang lainnya lagi
memahaminya dari sudut ilmiah yang telah mapan. Istilah "negara
berkembang" atau developed country biasanya digunakan untuk merujuk
kepada negara-negara yang "miskin", konotasinya berbeda namun
substansinya sama yakni “serba sulit”.
Perlu
menjadi catatan bagi kita semua, bahwa tidak ada satu manusia normal-pun yang
mengharapkan status sosialnya berada dalam kemiskinan dan pengangguran. Sistem
birokrasi yang ada merupakan salahsatu penyebab yang memiskinkan manusia.
Sistem tersebut tidak memberikan pilihan dan kesempatan lain selain kemiskinan
dan pengangguran. Sudah menjadi satu rahasia umum, bahwa tidak sedikit oknum
aparat yang menjadi “mafia kesempatan” (include para mafia peradilan,
pelacur konstitusi) yakni manusia yang
menjadikan kesempatan sebagai “komiditi ekonomi” yang layak untuk
diperjualbelikan. Bukti kongkret yakni ketika penerimaan calon pegawai
negeri sipil (cpns) maupun militer berlangsung. Para
mafia kesempatan yang juga “pelacur konstitusi” ini sibuk memainkan
skenario-nya guna memperoleh keuntungan pribadi melalui transaksi jual beli
“kesempatan”. Tentunya perilaku “monopoli kesempatan” ini sangat kontradiktif
dengan cita-cita ideal landasan idiil Pancasila dan landasan konstitusional UUD
1945.
Karenanya sangatlah tepat ketika
seorang Tan
Malaka melalui refleksi kritisnya sebagai seorang anak bangsa, jauh hari yang
silam pernah mengemukakan satu logika sederhana tentang paham kebangsaannya. Ia
menyatakan bahwa rakyat Indonesia
selamanya akan dibuat susah oleh sepak terjang kaum Nasionalis-Imperialis.
Nasionalis sebutannya, imperialis perbuatannya. Soekarno muda-pun sempat menyatakan
kegundahannya bahwa bangsa kita akan senantiasa menjadi bangsa kuli dan kuli
diantara bangsa-bangsa jika dipimpin oleh manusia-manusia Idealis-Pragmatis.
Idealis tatkala berbicara konsep, pragmatis sekaligus hedonis
ketika masuk ranah praksis.
Nasionalisme suatu bangsa haruslah
bersumber dari akar budaya bangsa tersebut, bukan adopsi dari paham-paham lain
yang dapat merusak akar budayanya. Nasionalisme Indonesia , sejatinya adalah
nasionalisme itu sendiri tanpa ada embel-embel lain yang menyertainya.
Nasionalisme kita adalah nasionalisme pancasila, nasionalisme kebhinekaan yang
berangkat dari keragaman suku, agama, ras dan antar golongan (SARA).
Nasionalisme kita bukanlah nasionalisme yang memiskinkan, tetapi nasionalisme
yang mensejahterakan dan memakmurkan seluruh rakyat.
Konspirasi Arogansi Global[5]
Banyak faktor yang menyebabkan kesemerautan tatanan
kehidupan kebangsaan kita. Faktor internal (kemiskinan, kebodohan,
ketidakadilan sistem, KKN) merupakan faktor dominan penghambat pembangunan.
Selain faktor internal, faktor eksternal-pun (intervensi pihak asing) adalah
ancaman terhadap kedaulatan bangsa yang tengah disibukkan dengan aktifitas
pembangunan diberbagai lini.
Menyikapi
hal ini, tentunya kita harus waspada tanpa harus curiga dengan upaya-upaya
pihak asing yang merongrong kedaulatan kita sebagai suatu bangsa yang utuh.
Adanya satu gerakan “konspirasi arogansi global” yang mendunia oleh para
neo-imperialis melalui ragam aktivitas kekinian (ekonomi, sosial, budaya,
politik dan ideologi) tak perlu disikapi secara emosional dan membabibuta.
Sebaliknya, kita selaku bangsa yang berdaulat dan jelas identitas kebangsaannya
harus mampu melakukan counter-attack secara rasional dan penuh
perhitungan. Lakukan otokritik dan evalusi menyeluruh terhadap ragam program
dan kebijakan yang tengah dan telah dilaksanakan pemerintah oleh seluruh elemen
bangsa. Induksikan revolusi kesadaran dalam setiap relung hati anak
bangsa untuk memunculkan kebanggaan kita sebagai bangsa yang merdeka jiwa dan
raganya.
Negara
miskin seperti Bolivia ,
dengan kemandiriannya berhasil membuat sumber daya minyaknya kembali dinikmati
rakyat. Republik Rakyat Cina (RRC) dengan jumlah penduduknya yang membengkak
(1,2 miliar) dan mentalitas aparatur pemerintahnya yang terkenal korup, mampu
menjadi macan Asia sekaligus macan dunia
pesaing Amerika. India ,
Rusia, dan Jepang adalah negara-negara yang mampu keluar dari berbagai
permasalahan kronis kebangsaannya tanpa harus menanggalkan akar budayanya
sebagai bangsa, berhasil tampil sebagai kekuatan dunia yang sangat
diperhitungkan.
Lantas
bagaimana dengan Indonesia ?,
Tentunya jika bangsa lain bisa mengatasi permasalahan kebangsaannya, mengapa
kita tidak?. Bukankah kita punya satu pengikat yang sangat ampuh, satu Nusa,
satu Bangsa, dan satu Bahasa Indonesia. Kebhinekaan jangan diinterpretasikan
sebagai perbedaan yang dapat memicu konflik yang mengarah kepada disintegrasi,
namun maknai sebagai alat pemersatu identitas, simbol pengikat dan khasanah
kekayaan bangsa yang harus dipelihara. Kebhinekaan bangsa selamanya tidak akan
bisa di“seragamkan” akan tetapi harus di”pahamkan” kepada seluruh elemen bangsa
sebagai sebuah karunia, rahmat dari sang pencipta bukan sebagai laknat bagi
umat.
Semangat
satu abad kebangkitan nasional dapat menjadi modal penting bagi generasi muda
untuk memberikan kontribusi terbaiknya bagi Indonesia . Melaui semangat
perubahan ke arah yang lebih baik, tugas, pokok dan fungsi sejatinya pemuda dapat
terejawantahkan dalam kehidupan keseharian kita. Seorang Heraclitus[6] mengatakan
bahwa sesuatu yang abadi di alam raya ini adalah perubahan. Perubahan
senantiasa dimotori oleh generasi muda. Di usianya yang relatif muda (kisaran
30-40 tahun), Soekarno, Hatta, Syahrir, Natsir, Soedirman, Amir Syarifudin,
Yamin, Tan Malaka, dan Hamka adalah diantara tokoh muda yang menjadi founding
father bangsa. Mereka mampu
menghantarkan bangsanya kepintu gerbang kemerdekaan.
Gayung
mesti bersambut, kita generasi muda abad Posmo (posmodernis) yang hidup
di era The fourth wave (gelombang ke-empat) mesti siap dengan referensi
hidup guna membangun satu bangsa dan satu nusa Indonesia . Gerakan riil kaum
muda di wilayah konsep dan tekhnis akan lebih mengukuhkan eksistensinya sebagai
agent of change, agent of controll, dan agent of ballance dalam
kehidupan berbangsa dan bernegara. Kaum muda diharapkan mampu melakukan penetrasi
ideologi bangsanya dalam setiap aktifitasnya. Hal ini tiada lain demi
tercapainya orgamse batin seluruh elemen yang menopang ajegnya NKRI yang
kita cintai dan kita banggakan. Jayalah terus Indonesia ..Kibarkan semangat
juangmu...Indonesia
darahku, Indonesia
jiwaku…Wassalam.
Cianjur,
12 Oktober 2011
Penulis
Karya tulis sederhana ini penulis persembahkan untuk buah
hati belahan jantung, Avicenna Khatulistiwa Mubarak, dan
isteri terkasih adYNda bunga syurga.
*** Selamat Membaca ***
[1] Tan Malaka tokoh nasionalis-sosialis
dalam karya agung “MADILOG” (materialistika, Dialektika dan Logika)
[2] Para penjilat, satu tingkat lebih parah diatas kaum
opportunis
[3] Keadilan
sosial Rafsanjani, KOMPAS edisi 09 Juni 2008
[4] Seminar
mahasiswa pancasila (Mapancas) di gedung Korpri Jawa Barat 06-07juni 2008
dengan tema “pemimpin dan Rakyat di negeri mengambang”.
[5] Romel
dalam “Demonologi Islam” persekongkolan the great satan
[6]
Prof.Dr.Ahmad Tafsir dalam “Filsafat Umum” Akal dan hati sejak Thales hingga
Capra, Rosda Karya Bandung.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar