Selasa, 14 Juni 2016

PERAN MAHASISWA

PERAN MAHASISWA dan DEMOKRASI KITA[1]
“Refleksi Kritis Untuk Sebuah Perubahan”
Oleh: Ridwan Mubarak S.Sos[2]

Kami ada di sini untuk terus beraksi
mengusung reformasi yang telah mati suri
katanya demokrasi nyatanya dagang sapi
lawan..lawan..segala kolusi…

            Mahasiswa dalam alur perjalanan sejarah bangsa ini senantiasa menjadi ujung tombak perjuangan menuju perubahan yang lebih baik. Terhitung sejak para founding father kita meneriakkan pekik “merdeka” pada masa pergerakan nasional dan revolusi fisik, hingga masa reformasi yang kini tengah mati suri, kiprah kaum muda mahasiswa tidak diragukan lagi untuk perbaikkan negeri ini.
Mahasiswa merupakan kaum middle class (kelas menengah) dalam struktur strata social kita yang memiliki multi peran dalam percaturan kebangsaan. Pertama, mahasiswa sebagai agent of change, agen perubahan bangsa menuju kebaikan dan kemaslahatan kehidupan berbangsa dan bernegara. Seorang filosof Yunani Herlacitus mengatakan bahwa sesuatu yang abadi dialam raya ini adalah gerak ataupun perubahan. Seorang anak manusia yang dinamis adalah mereka yang mampu melakukan gerakan-gerakan pembaharuan dalam hidupnya, karena hanya dengan bergeraklah kita akan mampu melakukan perlawanan-perlawanan menuju perubahan. Kemiskinan, kezumudan berfikir dan segela bentuk keterbelakangan adalah sesuatu yang harus kita dekontruksi, lantas kita rekonstruksi dengan sesuatu yang jauh lebih baik yakni membumikan Revolusi Kesadaran dalam jiwa kita sebagai seorang anak bangsa. Sebelum kita jauh merambah melakukan aksi Revolusi dalam kehidupan kebangsaan, alangkah bijaknya jika setiap personal anak negeri melakukan proses penyadaran pribadi-pribadinya. Seorang Aa Gym menyatakan, jadikan 3M sebagai prinsip hidup untuk mengawali kebaikan; Mulailah dari diri sendiri, Mulailah dari sesuatu yang terkecil, dan Mulailah dari saat ini jangan menunggu besok atau lusa untuk membuat perubahan yang lebih baik di negeri ini. 
Diakui ataupun tidak, bangsa kita kini tengah “terinfeksi” virus pragmatis – hedonis, satu sikap hidup yang mendewakan kenikmatan dunia sesaat tanpa berpikir panjang ikhwal side effect terburuk terhadap keberlanjutan kehidupan kebangsaan kita. Personal-personal anak bangsa dalam perjalanan kebangsaannya akan membentuk komunal (kelompok, partai, ormas-pen). Komunal guna melanggengkan hegemoninya dalam struktur pemerintahan, maka ia dituntut untuk dapat menciptakan sebuah system kenegaraan yang sehat demi terwujudnya clean government and clear governance yang dicita-citakan. Namun sebaliknya, jika personal tidak jelas kapasitas, kapabilitas, dan potensinya sebagai anak bangsa, maka komunal dan system kenegaraan yang terciptapun tidak akan pernah kondusif untuk dapat di induksikan sebagai sebuah system pemerintahan yang aspiratif dan refresentatif. System pemerintahan yang tidak sehat dalam suatu Negara, akan melahirkan person-person yang tidak sehat pula, dan begitu seterusnya bak lingkaran setan yang tiada berkesudahan.
Kedua, mahasiswa sebagai agent of controll, agen pengawas terhadap setiap kebijakan-kebijakan pemerintah yang tidak bijak. Mahasiswa sebagai “watch dog” anjing penggonggong  atas setiap tindak-tanduk pemerintah yang tidak berpihak kepada rakyat. Melalui aksi-aksi demontrasi parlemen jalanan, kelompok mahasiswa lantang menyuarakan control perubahan bersama-sama rakyat. Dalam kontek demokrasi, fungsi pengawasan oleh kelompok oposisi adalah mutlak adanya, hal ini sebagai wujud implementasi teori Charles de Montequie seorang negarawan Eropa yang menyatakan bahwa ada 4 pilar penopang ajengnya demokrasi dalam suatu Negara, yakni Eksekutif, Legislatif, Yudikatif dan Pers (mahasiswa, rakyat) sebagai kekuatan ke-empat.
Ketiga, mahasiswa sebagai agent of Ballance, agen penyeimbang terhadap konstelasi kehidupan berbagsa dan bernegara. Mahasiswa menjadi penyeimbang dan penetralisir setiap sikap yang terkesan “pongah” yang kerap dilakukan pemerintah. Negosiasi, diplomasi, dan lobilisasi adalah senjata ampuh mahasiswa dalam melakukan aksi keseimbangannya. Dengan tiga startegi tersebut, mahasiswa mampu mengawal Negara dan bangsanya ke pintu gerbang pencerahan. Mahasiswa sebagai insan akademis, pencipta dan pengabdi, pada tataran idea dan praksis haruslah senantiasa seimbang, ilmu yang ia miliki hendaknya dapat diamalkan dalam kehidupan keseharian (ilmu amaliah), dan amal hendaknya ilmiah (amal ilmiah), dalam arti kata setiap  aktivitas akademis kita hendaknya bersumber dari suatu proses pemikiran yang sehat dan logis, sebagaimana tersurat dalam Tridharma perguruan tinggi yakni pendidikan, penelitian dan pengabdian ilmiah.
Demokrasi dan Mahasiswa
            Sebagai sebuah proses pembelajaran (learning process), demokratisasi memerlukan waktu dan ketekunan kita semua. Kadangkala kita harus berupaya mengambil langkah mendaki untuk menerapkan secara bertahap nilai-nilai demokrasi. Dalam masyarakat yang demikian luas dan beragam, kita bisa mengerti bahwa selalu saja ada kekuatan-kekuatan yang anti demokrasi, cenderung otoriter, dan tidak menghargai hak-hak asasi manusia. Menegakan demokrasi yang menjamin keadilan multi-dimensional bagi seluruh bangsa bukanlah pekerjaan kecil dan gampang. Usaha itu memerlukan wawasan yang jauh serta kesediaan untuk saling memberi dan menerima dan tekad untuk menanggalkan cara berpikir lama yang tidak kondusif bagi pertumbuhan demokrasi yang sehat.
            Dalam kaitan ini, sebagai bangsa yang sudah merdeka dan berdaulat lebih dari 53 tahun, kita harus lebih pandai dan arif dalam menumbuhkan pohon demokrasi yang sehat di Indonesia. Sebegitu jauh, demokrasi baru merupakan slogan kosong, baik di zaman Bung Karno maupun di zaman Soeharto, kedua pemimpin itu telah mencederai demokrasi, karena antara apa yang disemboyankan dengan apa yang dipraktikkan berbeda sangat jauh. Bahwa keduanya pernah berjasa untuk negeri ini tidak boleh kita lupakan.
Seorang Amien Rais menyatakan bahwa demokrasi tidak akan pernah tumbuh berhasil bila tidak cukup banyak kaum demokrat yang sanggup membesarkan pohon demokrasi itu. Demokrasi tanpa kaum democrat (democracy without democrats) adalah suatu kemustahilan. Sebaliknya, demokrasi akan tumbuh cepat dan indah bilamana para pendukung demokrasi mau berkerja sama membangun budaya egalitarian. Selama semangat egaliterianisme itu belum merata di tengah masyarakat, maka selama itu pula bibit unggul demokrasi akan tetap saja enggan tumbuh menjadi pohon yang besar. Dengan kata lain bahwa mental egaliter harus ditegakkan untuk menggantikan mental feodalistik. Budaya membungkuk-bungkuk didepan pejabat atau penguasa sebagai refleksi mentalitas petani pada zaman dulu harus kita bersihkan. Pada zaman dulu, kaum petani merupakan wong cilik yang harus patuh dan taat pada para pejabat sebagai sekrup-sekrup kekuasaan. Ini tentu berkaitan erat dengan adanya kesenjangan antara mereka yang menjadi patron atau pemimpin dengan mereka yang menjadi klien atau kawulo alit
            Demokrasi dan gerakan mahasiswa laksana dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan. Mahasiswa dalam setiap aksi demonstrasinya, senantiasa mengusung demokrasi kebangsaan sebagai isu sentral. Kendati demikian, tidak sedikit pula aksi-aksi gerakan mahasiswa dalam kontek kekinian, yang ditunggangi oleh kepentingan-kepentingan sesat para petualang politik. Akibatnya sangat fatal, aksi demontrasi parlemen jalanan mahasiswa yang seharusnya memperjuangkan sejatinya arti demokrasi, mengalami deviasi gerakan menjadi aksi-aksi democrazy yang berorientasi anarkis dan urakan, sangat tidak mencerminkan seorang insan akademis yang seharusnya konsisten terhadap komitmen kebangsaannya (Pancasila dan UUD 45-pen). Masih segar dalam ingatan kita, ketika beberapa waktu yang lalu di Ibu kota Jakarta terjadi peristiwa tawuran antar mahasiswa dari dua kampus yang berbeda dengan saling menghancurkan beragam fasiliats yang ada. Berikutnya, menjelang pesta demokrasi pemilu 2009, banyak aktivitas demontrasi mahasiswa yang di “sponsori” oleh partai politik guna memuluskan agenda politiknya. Mahasiswa terjebak dalam ranah politik-praktis partai yang orientasinya pragmatis, padahal kita tahu, dunia mahasiswa adalah dunia idealis, dunia dimana segala cita dan asa seluruh elemen bangsa bergantung kepadanya.
            Demokrasi kita adalah demokrasi Indonesia. Demokrasi yang bersumber dari kearifan lokal budaya bangsa yang beraneka ragam. Karenanya, sikap inklusif dan egaliter hendaknya menjadi prinsip setiap anak bangsa dalam mewujudkan ‘nation character building’. Jujur kita akui, saat ini anak bangsa tengah mengalami krisis kepribadiannya sebagai seorang anak bangsa, kebanggaan sebagai putra Indonesia sedikit demi sedikit mulai terkikis karena hantaman syahwat pragmatis duniawi, ada factor X apa dengan bangsa ini?.
            Sejatinya demokrasi kita adalah demokrasi kerakyatan, demokrasi yang menempatkan segala bentuk kedaulatan berada ditangan rakyat yang notabene adalah bangsa Indonesia, bukan ditangan segelintir elit dan birokrat yang hanya ongkang-ongkang kaki saja ditahta kekuasaannya. Karenanya, rakyat Indonesialah yang bertanggungjawab secara penuh menghitam-putihkan negeri ini dimasa yang akan datang. Maju dan mundurnya NKRI akan sangat bergantung kepada kiprah bangsanya dalam mengelola pemerintahan, terlebih mahasiswa sebagai motor penggerak perjuangan. Camkan wahai para mahasiswa; jangan pernah engkau bertanya apa yang dapat Negara berikan kepadamu, namun bertanyalah sumbangsih apa yang telah engkau berikan untuk negeri ini?, inilah sikap sejatinys seorang Nasionalis yang demokratis. (Wassalam)
“Viva La Revolucion, Hasta La Victoria Siempre”
(Jayalah terus Revolusi, kemenangan akan senantiasa bersama kita dan Rakyat)
                                                                           
Cianjur, Saung Paninenungan, 25-10-08
                                                                                                 

Penulis

























































































[1] Makalah disajikan pada kegiatan LK-1 HMI Kom. UNPI Cianjur di Green Apple Cipanas
[2] Penulis mahasiswa Prog. Dakwah dan Komunikasi, Penggiat Lembaga Penelitian FAI UNSUR Cianjur,  Dosen muda UNPI dan UIN SGD Bandung pada fakultas Ilmu Komunikasi.

Tidak ada komentar: