Minggu, 16 Maret 2014



 MENGGUGAT KEISLAMAN UMAT
“ Mempertegas Islam sebagai Risalah yang Tidak Sontoloyo “

Oleh: Ridwan Mubarack
(Penulis Bergiat di FORDEM, KSN, dan UIN SGD Bandung)


“ ...Allah SWT akan meninggikan orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-0rang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat “  (Al-Qur’an, S.Al-Mujadilah ayat 11)


            Mengutip pemikiran seorang Hasan Al-Banna dalam menyikapi realitas umat Islam dunia; Hari ini Aku melihat Islam di Barat tanpa kehadiran kaum Muslimin, dan hari ini Aku melihat Muslim di Timur tanpa kehadiran Islam. Hemat penulis, statement tersebut jelas mengisyartakan kegelisahan yang teramat sangat, dalam diri sang mujadid. Like or dislike, umat Islam dunia harus mengakui secara fair bahwa dunia belahan barat (Eropa dan Amerika-pen) saat ini, beberapa langkah lebih maju peradabannya (penguasaan iptek-pen), jika dibandingkan dengan dunia di sebelah timur (Islam-pen).
            Islam sebagai salah satu risalah agama samawi, merupakan way of life yang akan membawa umat manusia (muslim) kepada jalan keselamatan baik dunia maupun alam akhirat kelak, tak ada seorangpun muslim yang bertaqwa meragukan kebenaran konsep ini, begitu pula dengan penulis, yakin seyakin-yakinnya (haqqulyaqin). Namun keyakinan kita terhadap konsep ajaran Islam yang sumuliyyah tersebut hendaknya berbanding lurus dengan realitas, dengan dunia yang kita pijak dan kita hirup udaranya setiap detik, setiap hela nafas kita. Kalaupun tidak berbanding lurus, maka terdapat faktor X yang salah dalam keberagamaan kita, baik pemahaman kita secara teks maupun konteks.
            Menjadikan Islam sebagai mazhab masa depan, meminjam pemikiran Prof. Apif Muhammad mantan Direktur Pascasarjana UIN SGD Bandung, untuk seluruh umat Islam adalah hal yang  sangat kita dambakan. Dikotomi mazhab-mazhab ditengah umat saat ini, diakui ataupun tidak kadang tak jarang menjadi sumber konflik dan perpecahan di tengah-tengah umat Islam itu sendiri. Perbedaan umat dalam praktek-praktek ritual ubudiah, seringkali menimbulkan sekat yang teramat lebar diantara umat Muhammad. Dangkalnya umat dalam memahami ajaran Islam yang sangat sempurna menjadikan mereka terjebak dalam fanatisme buta dan truth claim (klaim kebenaran) yang berakhir pada monopoli nilai kebenaran, yang mana ketika terdapat orang ataupun kelompok yang tidak selaras dengan selera dan kebiasaan ritual ubudiahnya,  dengan tegas mereka jatuhkan vonis kafir ataupun murtad, sesuatu yang sanat ironis dan menjadi bagian dari realitas keberagamaan kita saat ini, dan tentu saja ini tidak dapat dibiarkan.
Munculnya friksi-friksi kepentingan dikalangan umat Islam imbas dari fanatisme buta umat memahami ajaran agamanya, merupakan bencana keagamaan yang tidak boleh dibiarkan karena akan berdampak terhadap eksistensi agama Islam ke depan, dan bukannya tidak mungkin Islam akan mengalami kebangkrutan dan hanya menjadi ideologi sejarah bagi generasi muda Islam beberapa tahun kedepan. Kalaupun kita hari ini tidak menginginkan Islam menjadi sebatas agama peninggalan sejarah, kiranya diperlukan usaha-usaha kreatif dari pemeluk-pemeluknya untuk menjadikan Islam sebagai Problem Solver, solusi solutif dan konstruktif atas beragam permasalahan keumatan abad ini dan masa-masa yang akan datang, karena Islam memang Rahmatan lil Alamin.
Menjadi sebuah pertanyaan besar dalam menyikapi realitas di atas adalah, bagaimana strategi umat dalam mempertegas Islam sebagai sebuah solusi keumatan saat ini? agar Islam tidak menjadi sebuah benda sejarah dan agama dogmatik yang nilai-nilai kebenarannya dipaksakan secara emosional terhadap umat oleh mereka yang mengatasnamakan wakil Tuhan di muka bumi. Setidaknya, penulis menawarkan tiga alternatif untuk dapat mempertegas Islam sebagai sebuah nilai yang memang positivistik.

Tiga Alternatif dalam KeIslaman Kita
Pertama, maknailah Islam sebagai sebuah Ideologi umat. Karena hanya dengan menjadikan Islam sebagai sebuah ideologi-lah Islam akan mampu bertahan dari gempuran-gempuran ideologi lain yang ada di muka bumi ini. Samuel Hantington dalam bukunya The Class of Civilization’s, menyatakan bahwasanya selama manusia hidup di alam raya ini, maka selama itupula ada tiga ideologi besar yang saling berbenturan mempertahankan eksistensinya masing-masing, yakni Ideologi Liberal yang melahirkan konsep ekonomi Kapitalistik, Ideologi Sosialis yang melahirkan konsep ekonomi terpusat, dan terakhir Islam sebagai sebuah ideologi yang melahirkan konsep ekonomi syari’ah.
Menjadi satu agenda besar dan “PR” bersama segenap kaum muslimin untuk menjadikan Islam sebagai sebuah agama sekaligus Islam sebagai sebuah bangsa, seperti halnya bangsa Israel yang menjadikan Yahudi sebagai agama sekaligus sebagai sebuah bangsa. Meski bangsa Yahudi minoritas, namun persatuan diantara mereka teramat kuat karena mereka mampu menjadikan Yahudi layaknya koin dengan dua sisi, sebagai sebuah agama (ideologi) di satu sisi dan Yahudi sebagai sebuah bangsa di sisi yang lain. Begitupula dengan umat Nasrani yang memiliki simbol persatuan keumatan dengan sosok Paus yang bertahta di Istana Suci Vatikan Roma Italia, sebagai representasi Tuhan dan kepentingan umat nasrani secara keseluruhan. Titah Paus menjadi komando tertinggi yang tak terbantahkan bagi umat nasrani diseluruh dunia. Umat Islam kini tidaklah demikian.
            Kedua, jadikan Islam sebagai sebuah agama sekaligus sebagai sebuah ajaran. Ketika umat menyadari Islam tidak hanya sebagai sebuah agama, melainkan lebih dari itu yakni sebagai sebuah ajaran, maka kewajiban umat hanyalah satu, yaitu mempelajari Islam secara lengkap, lintas mazhab dan lintas penafsiran karena Islam memang harus dipelajari secara sempurna, tidak parsial. Umat Islam akan kembali mendapatkan kegemilangannya seperti halnya pada masa pemerintahan Khilafah Abbasyiah di sekitaran Persia (iran-pen) pada masa Khalifah Harun Al-Rasyid (786-809 M) dan puteranya Al-Ma’mun (813-833 M) ketika ruang-ruang ijtihad dibuka selebar-lebarnya, karena hanya dengan berijtihadlah Islam akan senantiasa relevan dengan zamannya.
Ijtihad yang dimaksudkan adalah suatu proses pemaksimalan kekuatan kognitif (akal) dalam rangka mencari sekaligus menemukan nilai-nilai Ilahiyah yang bertebaran baik di bumi dan juga di langit. Khilafah Abbasyiah mampu menorehkan tinta emas dalam rentang sejarah kepemimpinan Islam, manakala khalifah menjadikan aliran kalam Mu’tazillah sebagai ideologi negara. Teramat banyak penemuan-penemuan dan pesat perkembangan ilmu pengetahuan ketika negara memberikan keleluasaan kepada rakyatnya untuk senantiasa maksimal dalam berfikir, berdzikir dan berikhtiar.
            Perlu menjadi suatu catatan bagi kita semua, bahwasanya Islam memperoleh kejayaannya pada masa Khilafah Abbassyiah ketika dipimpin oleh suku bangsa Persia yang dikenal sebagai suku bangsa yang berani dan cerdas secara intelektual. Kekuatan militerpun pada masa itu sangat teramat kuat manakala pasukan dari suku bangsa Turki bergabung dan menjadi bagian tak terpisahkan dari kekuatan Abbasyiah saat itu, hingga berakhir pada masa Turki Ottoman pada tahun 1924. Memang benar pusat pemerintahan Khilah Abbasyiah berada wilayah Jazirah Arabia, namun tampuk kepemimpinan lebih banyak diperankan oleh suku bangsa Persia dan Turki, dalam hal ini penulis menyimpulkan bahwa hanya sedikit saja dari suku bangsa Arab yang pintar secara intelektual dan kuat dalam kesatuan ketentaraan. Bangsa Arab lebih dikenal sebagai bangsa yang keras kepala, suka berpecah-belah karena masih mengagungkan kesukuan, bani dan kabilah-kabilah.
Karenanya tidaklah mengherankan ketika Palestina (secara geografis berada di tengah-tengah bangsa Arab dan mayoritas Muslim) hingga saat ini masih menjadi wilayah konflik abadi antara Arab versus Israel dan terus menerus mengalami penjajahan serta eksploitasi kepentingan Zionis Internasional. Menjadi satu pertanyaan besar berikutnya, dimana peran nyata bangsa-bangsa Arab yang notabene saudara seaqidah dengan bangsa Palestina untuk membebaskan negeri ini dari cengkraman penjajahan bangsa Yahudi?. Kerajaan Arab Saudi-pun (tempat dimana risalah Islam dan cahayanya terpancar ke seantero bumi) berdiam diri, dan lebih memilih manut terhadap arogansi Amerika Serikat yang jelas-jelas merugikan umat Islam.
Suka ataupun tidak, belahan dunia barat (Eropa dan Amerika) kini benar-benar menguasai dan menjadi pusat peradaban dunia, karena cahaya Islam secara kontekstual memang berada disana. Sedangkan belahan dunia timur (mayoritas umat Islam) identik dengan keterbelakangan, kemiskinan dan konflik berdarah yang tak kunjung usai, karena kaum muslimin memahami Islam hanya sebatas teks, serta menutup rapat-rapat pintu ijtihad dengan berbagai dalih. Walhasil dapat ditebak, umat berada pada fase kezumudan berfikir karena ijtihad dimaknai sebagai pemberontakan terhadap otoritas Tuhan, sehingga tidak sedikit ulama, kiai, ataupun ustadz yang mentabukan ijtihad terhadap jamaahnya, umat lebih dipaksa untuk taqlid terhadap fatwa-fatwa yang tidak ada satu orangpun yang dapat menjamin bahwa fatwa-fatwa tersebut sahih serta mampu menjadi tiket masuk umat ke dalam syurganya Alloh SWT.
 Hasan al-Bana dan Muhammad Abduh dalam hal ini sepakat menyatakan bahwa “saat ini Islam ada di Barat tanpa kehadiran kaum muslimin, dan saat ini pula muslimin ada di Timur tanpa kehadiran Islam”, yang berkembang selanjutnya adalah belahan dunia barat benar-benar mampu mengaktualisasikan Islam sebagai sebuah potensi berkembangnya ilmu dan pengetahuan karena ruang pemaksimalan kekuatan akal terfasilitasi dengan baik dan menjadi karakter personal bangsa Eropa dan Amerika. Lain hal dengan bangsa yang berada di bumi bagian timur, kondisi mereka berbanding terbalik dengan saudaranya dibagian barat, bahkan mungkin dapat dikatakan berada pada titik puncak keputusasaan, sebagai contoh, maraknya semangat revolusi di negara-negara kawasan Timur Tengah yang hingga saat ini masih membara tak kunjung usai, terlebih perang saudara di Syuriah yang semakin hari semakin menjadi dan memakan banyak korban dikalangan umat Islam.
Ketiga, pahamilah Islam sebagai sebuah konsep Teologi yang membebaskan. Suatu konsep ketauhidan umat terhadap satu Tuhan saja Alloh AWT. Sumber dari segala sumber kehidupan dan kebaikan bagi segenap umat manusia. Dalam hal ini penulis sedikit silang pendapat dengan kelompok yang menyatakan Islam sebagai suatu konsep Teologi Pembebasan. Jika Islam dimaknai sebagai Teologi Pembebasan, maka akan terjadi free oriented ketuhanan yang kebablasan karena tiada satu nilaipun yang mengikat selain kebebasan itu sendiri, Tuhan dimaknai secara serampangan sesuai dengan selera dan syahwat si penafsir. Berbeda halnya ketika memahami Islam sebagai sebuah konsep yang membebaskan, karena memang sudah sangat jelas dalam beberapa keterangan bahwa Alloh mengutus Rasulullah Muhammad SAW dengan Risalah Keislamannya tiada lain sebagai penyempurna, pencerah, dan tauladan bagi seluruh umat manusia tanpa kecuali.      
Ketiga hal yang dikemukakan di atas dapat terimplementasikan dengan baik manakala umat dengan segenap potensinya, baik akal, hati maupun pancaindera bersinergis, saling melengkapi satu sama lain. Terlebih potensi akal dalam proses pencarian Tuhannya sebagai sebuah nilai, hendaknya dibuka selebar mungkin melalui ijtihad-ijtihad personal demi kemaslahatan kehidupan umat di dunia dan akhirat. Islam yang sumuliyah akan menjadi sesuatu yang dianggap “Sontoloyo” apabila umat tidak mampu menafsirkan sekaligus menerapkannya dengan baik dalam kehidupan keseharian.
Islam haruslah membumi tidak melangit dan mengawang-awang, Islam hendaknya mudah dipahami dan mudah pula dipraktekan, Islam harusnya meringankan dan tidak menjadi beban, Islam mensejahterakan tidak memiskinkan, Islam haruslah mencerahkan tidak justru menjumudkan pemikiran umat, dan Islam hendaknya mempersatukan tidak malah menjadi sumber konflik perpecahan, serta Islam hendaknya mampu menampilkan wajah ramah, bersahabat, toleran terhadap seluruh umat manusia. Karena kita selaku kaum muslimin tentunya masih sepakat dan masih meyakini Islam sebagai rahmat Alloh SWT bagi semesta alam raya. Wallahu A’lam Bisshawab... (Wassalam-Diintisarikan dari berbagai sumber)


                                                                                               
                                                                                                Cianjur, 18 Juli 2013


                                                                                                           Penulis


RIDWAN MUBARAK (HP. 081809448318 – 085723307081)
Alamat Rumah:
BTN. Gadingasri Blok F, N. 10 Karangtengah Cianjur Jabar 43281