MENGGUGAT KEISLAMAN UMAT
“ Mempertegas Islam sebagai Risalah yang Tidak
Sontoloyo “
Oleh:
Ridwan Mubarack
(Penulis
Bergiat di FORDEM, KSN, dan UIN SGD Bandung)

“ ...Allah
SWT akan meninggikan orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-0rang yang
diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat “ (Al-Qur’an, S.Al-Mujadilah ayat 11)
Mengutip pemikiran seorang Hasan
Al-Banna dalam menyikapi realitas umat Islam dunia; Hari ini Aku melihat Islam di Barat tanpa kehadiran kaum Muslimin, dan
hari ini Aku melihat Muslim di Timur tanpa kehadiran Islam. Hemat penulis,
statement tersebut jelas mengisyartakan kegelisahan yang teramat sangat, dalam
diri sang mujadid. Like or dislike, umat Islam dunia harus
mengakui secara fair bahwa dunia
belahan barat (Eropa dan Amerika-pen) saat ini, beberapa langkah lebih maju
peradabannya (penguasaan iptek-pen), jika dibandingkan dengan dunia di sebelah
timur (Islam-pen).
Islam sebagai salah satu risalah agama samawi,
merupakan way of life yang akan
membawa umat manusia (muslim) kepada jalan keselamatan baik dunia maupun alam
akhirat kelak, tak ada seorangpun muslim yang bertaqwa meragukan kebenaran
konsep ini, begitu pula dengan penulis, yakin seyakin-yakinnya (haqqulyaqin). Namun keyakinan kita
terhadap konsep ajaran Islam yang sumuliyyah
tersebut hendaknya berbanding lurus dengan realitas, dengan dunia yang kita
pijak dan kita hirup udaranya setiap detik, setiap hela nafas kita. Kalaupun tidak
berbanding lurus, maka terdapat faktor X yang salah dalam keberagamaan kita,
baik pemahaman kita secara teks maupun konteks.
Menjadikan
Islam sebagai mazhab masa depan, meminjam pemikiran Prof. Apif Muhammad mantan
Direktur Pascasarjana UIN SGD Bandung, untuk seluruh umat Islam adalah hal
yang sangat kita dambakan. Dikotomi
mazhab-mazhab ditengah umat saat ini, diakui ataupun tidak kadang tak jarang
menjadi sumber konflik dan perpecahan di tengah-tengah umat Islam itu sendiri.
Perbedaan umat dalam praktek-praktek ritual ubudiah,
seringkali menimbulkan sekat yang teramat lebar diantara umat Muhammad.
Dangkalnya umat dalam memahami ajaran Islam yang sangat sempurna menjadikan
mereka terjebak dalam fanatisme buta dan truth
claim (klaim kebenaran) yang berakhir pada monopoli nilai kebenaran, yang
mana ketika terdapat orang ataupun kelompok yang tidak selaras dengan selera
dan kebiasaan ritual ubudiahnya, dengan tegas mereka jatuhkan vonis kafir
ataupun murtad, sesuatu yang sanat ironis dan menjadi bagian dari realitas
keberagamaan kita saat ini, dan tentu saja ini tidak dapat dibiarkan.
Munculnya
friksi-friksi kepentingan dikalangan umat Islam imbas dari fanatisme buta umat
memahami ajaran agamanya, merupakan bencana keagamaan yang tidak boleh
dibiarkan karena akan berdampak terhadap eksistensi agama Islam ke depan, dan
bukannya tidak mungkin Islam akan mengalami kebangkrutan dan hanya menjadi
ideologi sejarah bagi generasi muda Islam beberapa tahun kedepan. Kalaupun kita
hari ini tidak menginginkan Islam menjadi sebatas agama peninggalan sejarah,
kiranya diperlukan usaha-usaha kreatif dari pemeluk-pemeluknya untuk menjadikan
Islam sebagai Problem Solver, solusi
solutif dan konstruktif atas beragam permasalahan keumatan abad ini dan
masa-masa yang akan datang, karena Islam memang Rahmatan lil Alamin.
Menjadi sebuah
pertanyaan besar dalam menyikapi realitas di atas adalah, bagaimana strategi
umat dalam mempertegas Islam sebagai sebuah solusi keumatan saat ini? agar
Islam tidak menjadi sebuah benda sejarah dan agama dogmatik yang nilai-nilai
kebenarannya dipaksakan secara emosional terhadap umat oleh mereka yang
mengatasnamakan wakil Tuhan di muka bumi. Setidaknya, penulis menawarkan tiga
alternatif untuk dapat mempertegas Islam sebagai sebuah nilai yang memang positivistik.
Tiga
Alternatif dalam KeIslaman Kita
Pertama, maknailah Islam sebagai sebuah Ideologi umat. Karena hanya
dengan menjadikan Islam sebagai sebuah ideologi-lah Islam akan mampu bertahan
dari gempuran-gempuran ideologi lain yang ada di muka bumi ini. Samuel Hantington dalam bukunya The Class of Civilization’s, menyatakan
bahwasanya selama manusia hidup di alam raya ini, maka selama itupula ada tiga
ideologi besar yang saling berbenturan mempertahankan eksistensinya
masing-masing, yakni Ideologi Liberal
yang melahirkan konsep ekonomi Kapitalistik, Ideologi Sosialis yang
melahirkan konsep ekonomi terpusat, dan
terakhir Islam sebagai sebuah
ideologi yang melahirkan konsep ekonomi
syari’ah.
Menjadi satu
agenda besar dan “PR” bersama segenap kaum muslimin untuk menjadikan Islam
sebagai sebuah agama sekaligus Islam sebagai sebuah bangsa, seperti halnya
bangsa Israel yang menjadikan Yahudi sebagai agama sekaligus sebagai sebuah
bangsa. Meski bangsa Yahudi minoritas, namun persatuan diantara mereka teramat
kuat karena mereka mampu menjadikan Yahudi layaknya koin dengan dua sisi,
sebagai sebuah agama (ideologi) di satu sisi dan Yahudi sebagai sebuah bangsa
di sisi yang lain. Begitupula dengan umat Nasrani yang memiliki simbol
persatuan keumatan dengan sosok Paus yang bertahta di Istana Suci Vatikan Roma
Italia, sebagai representasi Tuhan dan kepentingan umat nasrani secara
keseluruhan. Titah Paus menjadi komando tertinggi yang tak terbantahkan bagi
umat nasrani diseluruh dunia. Umat Islam kini tidaklah demikian.
Kedua, jadikan Islam sebagai sebuah agama sekaligus sebagai sebuah ajaran. Ketika umat
menyadari Islam tidak hanya sebagai sebuah agama, melainkan lebih dari itu
yakni sebagai sebuah ajaran, maka kewajiban umat hanyalah satu, yaitu
mempelajari Islam secara lengkap, lintas mazhab dan lintas penafsiran karena
Islam memang harus dipelajari secara sempurna, tidak parsial. Umat Islam akan
kembali mendapatkan kegemilangannya seperti halnya pada masa pemerintahan Khilafah Abbasyiah di sekitaran Persia
(iran-pen) pada masa Khalifah Harun Al-Rasyid (786-809 M) dan puteranya
Al-Ma’mun (813-833 M) ketika ruang-ruang ijtihad dibuka selebar-lebarnya,
karena hanya dengan berijtihadlah Islam akan senantiasa relevan dengan
zamannya.
Ijtihad yang
dimaksudkan adalah suatu proses pemaksimalan kekuatan kognitif (akal) dalam rangka mencari sekaligus menemukan
nilai-nilai Ilahiyah yang bertebaran baik di bumi dan juga di langit. Khilafah
Abbasyiah mampu menorehkan tinta emas dalam rentang sejarah kepemimpinan Islam,
manakala khalifah menjadikan aliran kalam Mu’tazillah
sebagai ideologi negara. Teramat banyak penemuan-penemuan dan pesat
perkembangan ilmu pengetahuan ketika negara memberikan keleluasaan kepada
rakyatnya untuk senantiasa maksimal dalam berfikir, berdzikir dan berikhtiar.
Perlu
menjadi suatu catatan bagi kita semua, bahwasanya Islam memperoleh kejayaannya
pada masa Khilafah Abbassyiah ketika dipimpin oleh suku bangsa Persia yang
dikenal sebagai suku bangsa yang berani dan cerdas secara intelektual. Kekuatan
militerpun pada masa itu sangat teramat kuat manakala pasukan dari suku bangsa
Turki bergabung dan menjadi bagian tak terpisahkan dari kekuatan Abbasyiah saat
itu, hingga berakhir pada masa Turki Ottoman pada tahun 1924. Memang benar
pusat pemerintahan Khilah Abbasyiah berada wilayah Jazirah Arabia, namun tampuk
kepemimpinan lebih banyak diperankan oleh suku bangsa Persia dan Turki, dalam
hal ini penulis menyimpulkan bahwa hanya sedikit saja dari suku bangsa Arab
yang pintar secara intelektual dan kuat dalam kesatuan ketentaraan. Bangsa Arab
lebih dikenal sebagai bangsa yang keras kepala, suka berpecah-belah karena
masih mengagungkan kesukuan, bani dan kabilah-kabilah.
Karenanya
tidaklah mengherankan ketika Palestina (secara geografis berada di
tengah-tengah bangsa Arab dan mayoritas Muslim) hingga saat ini masih menjadi
wilayah konflik abadi antara Arab versus Israel dan terus menerus mengalami
penjajahan serta eksploitasi kepentingan Zionis
Internasional. Menjadi satu pertanyaan besar berikutnya, dimana peran nyata
bangsa-bangsa Arab yang notabene saudara seaqidah dengan bangsa Palestina untuk
membebaskan negeri ini dari cengkraman penjajahan bangsa Yahudi?. Kerajaan Arab
Saudi-pun (tempat dimana risalah Islam dan cahayanya terpancar ke seantero
bumi) berdiam diri, dan lebih memilih manut terhadap arogansi Amerika Serikat
yang jelas-jelas merugikan umat Islam.
Suka ataupun
tidak, belahan dunia barat (Eropa dan Amerika) kini benar-benar menguasai dan
menjadi pusat peradaban dunia, karena cahaya Islam secara kontekstual memang
berada disana. Sedangkan belahan dunia timur (mayoritas umat Islam) identik
dengan keterbelakangan, kemiskinan dan konflik berdarah yang tak kunjung usai,
karena kaum muslimin memahami Islam hanya sebatas teks, serta menutup
rapat-rapat pintu ijtihad dengan berbagai dalih. Walhasil dapat ditebak, umat
berada pada fase kezumudan berfikir karena ijtihad dimaknai sebagai
pemberontakan terhadap otoritas Tuhan, sehingga tidak sedikit ulama, kiai,
ataupun ustadz yang mentabukan ijtihad terhadap jamaahnya, umat lebih dipaksa
untuk taqlid terhadap fatwa-fatwa yang tidak ada satu orangpun yang dapat menjamin
bahwa fatwa-fatwa tersebut sahih serta mampu menjadi tiket masuk umat ke dalam
syurganya Alloh SWT.
Hasan
al-Bana dan Muhammad Abduh dalam
hal ini sepakat menyatakan bahwa “saat
ini Islam ada di Barat tanpa kehadiran kaum muslimin, dan saat ini pula
muslimin ada di Timur tanpa kehadiran Islam”, yang berkembang selanjutnya
adalah belahan dunia barat benar-benar mampu mengaktualisasikan Islam sebagai
sebuah potensi berkembangnya ilmu dan pengetahuan karena ruang pemaksimalan
kekuatan akal terfasilitasi dengan baik dan menjadi karakter personal bangsa
Eropa dan Amerika. Lain hal dengan bangsa yang berada di bumi bagian timur,
kondisi mereka berbanding terbalik dengan saudaranya dibagian barat, bahkan
mungkin dapat dikatakan berada pada titik puncak keputusasaan, sebagai contoh,
maraknya semangat revolusi di negara-negara kawasan Timur Tengah yang hingga
saat ini masih membara tak kunjung usai, terlebih perang saudara di Syuriah
yang semakin hari semakin menjadi dan memakan banyak korban dikalangan umat Islam.
Ketiga, pahamilah Islam sebagai sebuah konsep Teologi yang membebaskan.
Suatu konsep ketauhidan umat terhadap satu Tuhan saja Alloh AWT. Sumber dari
segala sumber kehidupan dan kebaikan bagi segenap umat manusia. Dalam hal ini
penulis sedikit silang pendapat dengan kelompok yang menyatakan Islam sebagai
suatu konsep Teologi Pembebasan. Jika Islam dimaknai sebagai Teologi
Pembebasan, maka akan terjadi free
oriented ketuhanan yang kebablasan karena tiada satu nilaipun yang mengikat
selain kebebasan itu sendiri, Tuhan dimaknai secara serampangan sesuai dengan
selera dan syahwat si penafsir. Berbeda halnya ketika memahami Islam sebagai
sebuah konsep yang membebaskan, karena memang sudah sangat jelas dalam beberapa
keterangan bahwa Alloh mengutus Rasulullah Muhammad SAW dengan Risalah
Keislamannya tiada lain sebagai penyempurna, pencerah, dan tauladan bagi
seluruh umat manusia tanpa kecuali.
Ketiga hal yang
dikemukakan di atas dapat terimplementasikan dengan baik manakala umat dengan
segenap potensinya, baik akal, hati maupun pancaindera bersinergis, saling
melengkapi satu sama lain. Terlebih potensi akal dalam proses pencarian
Tuhannya sebagai sebuah nilai, hendaknya dibuka selebar mungkin melalui
ijtihad-ijtihad personal demi kemaslahatan kehidupan umat di dunia dan akhirat.
Islam yang sumuliyah akan menjadi
sesuatu yang dianggap “Sontoloyo” apabila umat tidak mampu menafsirkan
sekaligus menerapkannya dengan baik dalam kehidupan keseharian.
Islam haruslah membumi tidak melangit dan
mengawang-awang, Islam hendaknya mudah dipahami dan mudah pula dipraktekan,
Islam harusnya meringankan dan tidak menjadi beban, Islam mensejahterakan tidak
memiskinkan, Islam haruslah mencerahkan tidak justru menjumudkan pemikiran
umat, dan Islam hendaknya mempersatukan tidak malah menjadi sumber konflik
perpecahan, serta Islam hendaknya mampu menampilkan wajah ramah, bersahabat,
toleran terhadap seluruh umat manusia. Karena kita selaku kaum muslimin
tentunya masih sepakat dan masih meyakini Islam sebagai rahmat Alloh SWT bagi
semesta alam raya. Wallahu A’lam Bisshawab...
(Wassalam-Diintisarikan dari berbagai sumber)
Cianjur, 18 Juli 2013
Penulis
RIDWAN MUBARAK (HP. 081809448318 – 085723307081)
Alamat Rumah:
BTN. Gadingasri Blok F, N. 10 Karangtengah Cianjur Jabar 43281