Selasa, 14 Juni 2016

ICMI POTENSI UMAT YANG TERLELAP

ICMI; POTENSI UMAT YANG TERLELAP
“Mempertegas ICMI Tidak Sebagai Beban Sejarah”
Oleh: Ridwan Mubarak
(Penulis Bergiat BIC, UNSUR, UNPI dan Pengurus
ICMI Kab. Cianjur)

Falsafah Dasar ICMI
Carilah titik temu pendapat ormas Islam dan para anggotanya.
Kembangkan titik-titik temu tersebut menjadi garis temu.
Kembangkan garis-garis temu tersebut menjadi permukaan – permukaan temu.
Rekatkan sepanjang masa sampai ke Akhirat permukaan-permukan temu tersebut
dengan ajaran kitab suci Al-Qur’annul karim.

Mendengar kata ICMI sebagai sebuah akronim untuk sebagian besar masyarakat Indonesia, terlebih kalangan masyarakat muslim dan akademisi tentunya bukanlah satu kata yang asing ditelinga. ICMI ataupun Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia merupakan organisasi tempat berhimpunnya “manusia” cerdik-pandai. Media humanisasi nilai-nilai luhur kemanusiaan bagi manusia-manusia yang syarat dengan potensi, syarat dengan mimpi dan cita-cita besar guna memahami hakikat nilai kemanusiaannya melalui karya dan kinerja nyata demi terciptanya harmoni melalui proses empowering people (pemberdayaan umat-pen).
ICMI; Dari, Oleh, dan Untuk Rakyat, bukan monopoli politisi, birokrat, konglomerat, akademisi ataupun santri. Sejatinya ICMI merupakan milik seluruh rakyat Indonesia, milik mereka yang memiliki misi dan visi besar guna membangun negeri tanpa, korupsi, kolusi dan monopoli penguasa picik hamba-hamba syahwat penganut gaya hidup pragmatisme-hedonisme.  Meskipun memang penulis akui bahwasanya ICMI dalam kontek kekinian baik secara struktural maupun fungsional masih terkooptasi oleh mereka yang mengklaim dirinya “oknum cendikiawan”, padahal kalaupun kita bijak memaknai kembali kata cendikiawan menurut kamus besar bahasa Indonesia, cendikiawan adalah manusia bijaksana yang syarat dengan referensi ilmu juga pengetahuan.
Lantas seorang filosouf bijak Yunani, Mbah Socrates-pun melalui logika sederhananya menyatakan bahwa manusia bijaksana adalah mereka yang tidak pernah mengidzharkan bahwa dirinya manusia bijak, dan kalaupun ada manusia yang mengklaim dirinya bijak dan cendikia, senyatanya bahwa manusia tersebut bukanlah mahluk yang bijak dan cendikia. Jadi, kalaupun demikian sangatlah mudah bagi kita untuk dapat membedakan mana cendikiawan dan mana “oknum cendikiawan” toh parameternya sangat supel dan simpel.
Lantas, jika kita memahami kata cendikiawan dari segi wadho arab, sinonimnya adalah alim ataupun ulama, yakni manusia yang memiliki kelebihan dan keutamaan ilmu serta pengetahuan untuk dapat berlaku bijaksana dalam menjalani kehidupan. Pengertian alim atau ulama disini adalah mereka yang mampu memaksimalkan potensi kognitif, afektif, dan konatifnya (Benjamin Bloom-pen) guna menemukan hakikat kebenaran. Ulama tidak harus selalu yang berjanggut lebat, bersurban tebal dengan gamis gomrang, bersiwak, mengumbar dalil kesana-kemari demi terciptanya image building penegas bahwa dialah ulama sejati, khos, langitan, dan kalupun ada yang menjiplak, mereka dengan tegas menyatakan “palsu” atau bahkan sesat dan kafir.
Seyogianya, kalaupun kita mau jernih menganalisis, Alim-Ulama adalah kita, manusia-manusia yang mampu memaksimalkan tiga potensi besar yang telah Tuhan karuniakan guna menemukan hakikat nilai-nilai ilahiyah untuk selanjutnya diimplementasikan dalam kehidupan keseharian ditengah-tengah umat melalui ijtihad-ijtihad sosial demi terciptanya harmoni Baldhatun Thoyyibatun wa Rabbun Ghfuur.  

Sejarah Kelahiran ICMI
            Kelahiran ICMI berawal dari diskusi kecil di bulan Februari 1990 di masjid kampus Universitas Brawijaya (Unibraw) Malang. Sekelompok mahasiswa merasa prihatin dengan kondisi umat Islam, terutama karena berserakannya kaum cerdik-pandai yang tidak terorganisir secara apik. Banyaknya kaum cendikiawan muslim yang berafiliasi diberbagai parpol dan ormas, dikhawatirkan akan menimbulkan polarisasi kepemimpinan di kalangan umat Islam itu sendiri. Masing-masing kelompok sibuk dengan kepentingan sektoral kelompoknya, serta berjuang secara parsial sesuai dengan aliran dan profesi masing-masing.
Dari forum itu kemudian muncul gagasan untuk mengadakan simposium dengan tema “Sumbangan Cendikiawan Muslim Menuju Era Tinggal Landas” yang direncanakan akan dilaksanakan pada tanggal 29 September s.d 1 Oktober 1990. Mahasiswa Unibraw yang terdiri dari Erik Salman, Ali Mudakir, M. Zaenuri, Awang Surya dan M. Iqbal berkeliling menemui para pembicara, diantaranya Immaduddin Abdurrahim dan M. Dawam Rahardjo. Dari hasil pertemuan tersebut pemikiran mereka terus berkembang sampai muncul ide untuk membentuk wadah cendekiawan muslim yang berlingkup nasional.
Kemudian para mahasiswa Unibraw tersebut dengan diantar Imaduddin Abdurrahim, M. Dawam Rahardjo dan Syafii Anwar menghadap Menristek Prof. B.J. Habibie dan meminta beliau untuk memimpin wadah cendekiawan muslim dalam lingkup nasional. Waktu itu B.J. Habibie menjawab, sebagai pribadi beliau bersedia tapi sebagai menteri harus meminta izin dari Presiden Soeharto. Beliau juga meminta agar pencalonannya dinyatakan secara resmi melalui surat dan diperkuat dengan dukungan secara tertulis dari kalangan cendekiawan muslim. Sebanyak 49 orang cendekiawan muslim menyetujui pencalonan Bahharuddin Jusuf  Habibie  (B.J Habibie) untuk memimpin wadah cendikiawan muslim Indonesia.
            Tanggal 7 Desember 1990 merupakan lembaran baru dalam sejarah umat Islam Indonesia di era Orde Baru. Secara resmi Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI) dibentuk di Kota Malang Jawatimur. Saat itu juga secara aklamasi disetujui kepemimpinan tunggal dan terpilih Bahharuddin Jusup Habibie sebagai Ketua Umum ICMI yang pertama. Dalam sambutannya beliau mengatakan bahwa dengan berdirinya ICMI tidak berarti kita hanya memperhatikan umat Islam, tetapi mempunyai komitmen memperbaiki nasib seluruh bangsa Indonesia tanpa kecuali, tanpa batasan sara, karena itu juga merupakan tugas utama kaum cendikia.

Kehadiran ICMI Bukanlah Kebetulan
Kelahiran ICMI bukankah sebuah kebetulah sejarah belaka, akan tetapi erat kaitannya dengan perkembangan global dan regional di luar dan di dalam negeri. Menjelang akhir dekade 1980-an dan awal dekade 1990-an, dunia ditandai dengan berakhirnya perang dingin dan konflik ideologi. Seiring dengan hal tersebut, semangat kebangkitan Islam di belahan dunia timur ditandai dengan tampilnya Islam sebagai sebuah ideologi dan kekuatan altenatif bagi perkembangan perabadan dunia.
Bagi Barat, kebangkitan Islam ini menjadi masalah yang serius karena itu berarti hegemoni mereka terancam. Apa yang diproyeksikan sebagai konflik antar peradaban lahir dari perasaan Barat yang subyektif terhadap Islam sebagai kekuatan peradaban dunia yang sedang bangkit kembali sehingga mengancam dominasi peradaban Barat.
Kebangkitan umat Islam ditunjang dengan adanya ledakan kaum terdidik (intelectual booming) dikalangan kelas menengah kaum santri Indonesia. Program dan kebijakan Orde Baru secara langsung maupun tidak langsung telah melahirkan generasi baru kaum santri yang terpelajar, modern, berwawasan kosmopolitan, berbudaya kelas menengah, serta mendapat tempat pada institusi-institusi modern. Pada akhirnya kaum santri dapat masuk ke jajaran birokrasi pemerintahan yang mulanya didominasi oleh kaum abangan dan non muslim. Posisi demikian jelas berpengaruh terhadap produk-produk kebijakan pemerintah pada wilayah pemberdayaan umat.
Dengan kondisi yang membaik ini, maka pada dasa warsa 80-an mitos bahwa umat Islam Indonesia merupakan mayoritas tetapi secara teknikal sangatlah minoritas, runtuh dengan sendirinya. Sementara itu, pendidikan berbangsa dan bernegara yang diterima kaum santri di luar dan di dalam kampus telah mematangkan mereka bukan saja secara mental, tapi juga secara intelektual. Dari mereka itulah lahir criticalmass yang responsif terhadap dinamika dan proses pembangunan yang sedang dijalankan dan juga telah memperkuat tradisi intelektual melalui pergumulan Dialektika ide dan gagasan yang diekpresikan baik melalui forum seminar maupun tulisan di media cetak dan buku-buku. Seiring dengan hal itu, terjadi perkembangan dan perubahan iklim politik yang makin kondusif bagi tumbuhnya saling pengertian antara umat Islam dengan komponen bangsa lainnya, termasuk yang berada di dalam birokrasi pemerintahan.

Peran ICMI di Kabupaten Cianjur
ICMI sejak awal berdirinya, memang tidak dapat terlepas dari kebijakan dan regulasi produk penguasa, begitupula dengan kehadiran Orda. ICMI Cianjur yang dekat dengan penguasa baik secara personal maupun komunal, baik secara akademik maupun politik. Namun hal ini tidak berarti bahwa ICMI harus manut dan mbalelo dengan kebijakan-kebijakan yang tidak populis dan merugikan rakyat banyak. Sikap Asal Bapak Senang (ABS-pen), Skeptis, dan Oportunis, bahkan Hipokrit yang ditampilkan ICMI kepada para penguasa, adalah pengkerdilan nilai kemanusiaan yang paling kejam karena membiarkan idealisme diperbudak oleh kepentingan duniawi sesat-sesaat. Juga, perilaku tersebut diprediksikan akan berkorelasi menjadi pangkal penyebab hancurnya lembaga besar kebanggan umat ini.
Konsepsi tentang blue print perjalanan bangsa Indonesia 10, 30, bahkan 50 tahun kedepan, hendaknya harus sudah terformulasikan oleh para pengurus dan kader ICMI Cianjur. Kritik-kritik sosial yang solutif-konstruktif dengan berpegang teguh pada semangat rekonstruktif-objektif haruslah dijunjung tinggi di atas segalanya, tanpa tendensi iri, dengki atau benci kepada penguasa yang tengah berkuasa. Toh sejatinya mereka adalah mitra sejajar dalam membangun dan menciptaka kondusifitas serta kemaslahatan umat selaras dengan  prinsip dasar ICMI yang dikenal dengan 5K, yakni: Meningkatkan Kwalitas Berpikir, Meningkatkan Kwalitas Bekerja, Meningkatkan Kwalitas Berkarya, Meningkatkan Kwalitas Iman dan Taqwa seimbang dengan penguasaan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, demi Meningkatkan Kwalitas Hidup.
Munculnya isu-isu miring terkait dengan penyalahgunaan wewenang dan kebijakan di tubuh birokrasi pemda Cianjur, mulai dari mutasi pejabat yang terlampau sering, jual-beli jabatan, gratifikasi proyek, monopoli akses oleh keluarga bupati/ pejabat, penjualan aset pemda, kasus mamingate bupati yang tak kunjung rampung, hingga isu pemerasan putra mahkota terhadap pengusaha yang terekam jelas dan menyebar di youtube oleh putra bupati yang berinisial IRM, hendaknya menjadi perhatian khusus dan mendapatkan porsi lebih dari kalangan pengurus ICMI Cianjur, karena hal ini akan berdampak nyata pada pembentukan karakter birokrasi dan proses kesejahteraan masyarakat grass root yang termiskinkan oleh sistem yang sengaja diciptakan oleh penguasa berwatak Leviathan untuk mendzhalimi kaum papa yang selalu terpinggirkan.
Sederetan kasus di atas tentunya akan menjadi tugas berat nan mulia bagi ICMI Cianjur untuk dapat membantu menuntaskannya, karena ini menjadi tanggungjawab moral bagi mereka yang tergabung dalam keluarga besar Orda. ICMI Cianjur. History kedekatan personal ketua ICMI Cianjur dengan Bupati saat ini, baik di lingkungan birokrasi maupun politik jangan menjadikan ICMI Impotent, kehilangan wibawa, dan “cadel” dalam mengkritisi penyimpangan-penyimpangan kekuasaan di tatar santri ini. Kalaupun terjadi hal yang demikian, ICMI kehilangan taji, maka bubarkan saja ICMI karena akan menjadi beban sejarah untuk generasi ICMI berikutnya. Program GERTAS (gerakan tangan di atas) yang sempat digagas oleh pengurus ICMI beberapa waktu lalu, diharapkan bukan hanya program ‘gertak sambal’ dan seremonial belaka sebagai wujud euforia politik yang tak mendidik.  
Jangan pernah takut untuk selalu mengingatkan dan terus mengingatkan eksekutif, legislatif, dan yudikatif agar tetap on the track sesuai dengan tupoksinya. Bahkan Bupati dan koleganya sekalipun, jika memang mereka terjebak ataupun menjebakkan diri dengan apa yang namanya Korupsi, Kolusi, Gratifikasi, dan Nepotisme (KKGN) serta mengkhianati amanah rakyat, jangan pernah ragu ICMI untuk menghantam dan menyadarkannya. Karena, Cicero-pun pernah berujar bahwa ‘hukum yang tertinggi di bumi ini adalah keadilan yang mensejahterakan rakyat, bukan keadilan yang mensejahterakan penguasa’. Inilah hakikat peran cendikiawan dalam kehidupan, bukan malah merapat dan berbulan madu dengan penguasa yang memiliki kecenderungan untuk menyalahgunakan kekuasaan dan otoritasnya. Hal ini selaras dengan apa yang diungkapkan oleh seorang Cendikiawan sufi shaleh nan sederhana Imam Al-Ghazali yang menyatakan bahwa, sebaik-baiknya manusia diantara kalian adalah umara (pemimpin) yang selalu menghampiri ulama (cendikia), sedangkan seburuk-buruknya manusia diantara kalian adalah ulama yang selalu menghampiri umara, yakni ulama yang terkategorikan sebagai “ulama su” yang menjadikan agama sebagai komoditas politik dan menukarnya dengan kepentingan duniawi yang fana. Semoga kita semua berada dalam taufiq dan hidayah Alloh SWT, agar tidak terjebak pada perilaku nirca yang merugikan agama dan umat. (Wassalam)  
                                                                                                           
                                                                                                Cianjur, 01 Juli 2013
                                                                                                            Hormat Saya


                                                                                                            Penulis



Tidak ada komentar: