ICMI; POTENSI UMAT YANG
TERLELAP
“Mempertegas ICMI Tidak
Sebagai Beban Sejarah”

Oleh: Ridwan Mubarak
(Penulis Bergiat BIC, UNSUR, UNPI dan Pengurus
ICMI Kab. Cianjur)
Falsafah Dasar ICMI
Carilah titik temu
pendapat ormas Islam dan para anggotanya.
Kembangkan
titik-titik temu tersebut menjadi garis temu.
Kembangkan
garis-garis temu tersebut menjadi permukaan – permukaan temu.
Rekatkan sepanjang
masa sampai ke Akhirat permukaan-permukan temu tersebut
dengan ajaran kitab
suci Al-Qur’annul karim.
Mendengar kata ICMI sebagai sebuah akronim untuk sebagian besar
masyarakat Indonesia, terlebih kalangan masyarakat muslim dan akademisi
tentunya bukanlah satu kata yang asing ditelinga. ICMI ataupun Ikatan
Cendikiawan Muslim Indonesia merupakan organisasi tempat berhimpunnya “manusia”
cerdik-pandai. Media humanisasi nilai-nilai luhur kemanusiaan bagi
manusia-manusia yang syarat dengan potensi, syarat dengan mimpi dan cita-cita
besar guna memahami hakikat nilai kemanusiaannya melalui karya dan kinerja
nyata demi terciptanya harmoni melalui proses empowering people (pemberdayaan umat-pen).
ICMI; Dari, Oleh, dan Untuk Rakyat, bukan monopoli politisi, birokrat,
konglomerat, akademisi ataupun santri. Sejatinya ICMI merupakan milik seluruh
rakyat Indonesia, milik mereka yang memiliki misi dan visi besar guna membangun
negeri tanpa, korupsi, kolusi dan monopoli penguasa picik hamba-hamba syahwat
penganut gaya hidup pragmatisme-hedonisme. Meskipun memang penulis akui bahwasanya ICMI
dalam kontek kekinian baik secara struktural maupun fungsional masih terkooptasi oleh mereka yang mengklaim
dirinya “oknum cendikiawan”, padahal kalaupun kita bijak memaknai kembali kata
cendikiawan menurut kamus besar bahasa Indonesia, cendikiawan adalah manusia
bijaksana yang syarat dengan referensi ilmu juga pengetahuan.
Lantas seorang filosouf bijak Yunani, Mbah Socrates-pun melalui logika sederhananya menyatakan bahwa manusia bijaksana adalah mereka yang tidak
pernah mengidzharkan bahwa dirinya manusia bijak, dan kalaupun ada manusia yang mengklaim dirinya bijak dan cendikia,
senyatanya bahwa manusia tersebut bukanlah mahluk yang bijak dan cendikia.
Jadi, kalaupun demikian sangatlah mudah bagi kita untuk dapat membedakan mana
cendikiawan dan mana “oknum cendikiawan” toh parameternya sangat supel dan
simpel.
Lantas, jika kita memahami kata cendikiawan dari segi wadho arab, sinonimnya adalah alim
ataupun ulama, yakni manusia yang memiliki kelebihan dan keutamaan ilmu serta
pengetahuan untuk dapat berlaku bijaksana dalam menjalani kehidupan. Pengertian
alim atau ulama disini adalah mereka yang mampu memaksimalkan potensi kognitif, afektif, dan konatifnya (Benjamin Bloom-pen) guna menemukan
hakikat kebenaran. Ulama tidak harus selalu yang berjanggut lebat, bersurban
tebal dengan gamis gomrang, bersiwak, mengumbar dalil kesana-kemari demi
terciptanya image building penegas
bahwa dialah ulama sejati, khos, langitan, dan kalupun ada yang menjiplak,
mereka dengan tegas menyatakan “palsu” atau bahkan sesat dan kafir.
Seyogianya, kalaupun kita mau jernih menganalisis, Alim-Ulama adalah
kita, manusia-manusia yang mampu memaksimalkan tiga potensi besar yang telah
Tuhan karuniakan guna menemukan hakikat nilai-nilai ilahiyah untuk selanjutnya
diimplementasikan dalam kehidupan keseharian ditengah-tengah umat melalui
ijtihad-ijtihad sosial demi terciptanya harmoni Baldhatun Thoyyibatun wa Rabbun Ghfuur.
Sejarah Kelahiran ICMI
Kelahiran ICMI berawal dari
diskusi kecil di bulan Februari 1990 di masjid kampus Universitas Brawijaya
(Unibraw) Malang. Sekelompok mahasiswa merasa prihatin dengan kondisi umat
Islam, terutama karena berserakannya kaum cerdik-pandai yang tidak terorganisir
secara apik. Banyaknya kaum cendikiawan muslim yang berafiliasi diberbagai
parpol dan ormas, dikhawatirkan akan menimbulkan polarisasi kepemimpinan di kalangan umat Islam itu sendiri.
Masing-masing kelompok sibuk dengan kepentingan sektoral kelompoknya, serta
berjuang secara parsial sesuai dengan aliran dan profesi masing-masing.
Dari forum itu kemudian muncul gagasan untuk mengadakan simposium
dengan tema “Sumbangan Cendikiawan Muslim Menuju Era Tinggal Landas” yang
direncanakan akan dilaksanakan pada tanggal 29 September s.d 1 Oktober 1990.
Mahasiswa Unibraw yang terdiri dari Erik Salman, Ali Mudakir, M. Zaenuri, Awang
Surya dan M. Iqbal berkeliling menemui para pembicara, diantaranya Immaduddin
Abdurrahim dan M. Dawam Rahardjo. Dari hasil pertemuan tersebut pemikiran
mereka terus berkembang sampai muncul ide untuk membentuk wadah cendekiawan
muslim yang berlingkup nasional.
Kemudian para mahasiswa Unibraw tersebut dengan diantar Imaduddin
Abdurrahim, M. Dawam Rahardjo dan Syafii Anwar menghadap Menristek Prof. B.J.
Habibie dan meminta beliau untuk memimpin wadah cendekiawan muslim dalam
lingkup nasional. Waktu itu B.J. Habibie menjawab, sebagai pribadi beliau
bersedia tapi sebagai menteri harus meminta izin dari Presiden Soeharto. Beliau
juga meminta agar pencalonannya dinyatakan secara resmi melalui surat dan
diperkuat dengan dukungan secara tertulis dari kalangan cendekiawan muslim.
Sebanyak 49 orang cendekiawan muslim menyetujui pencalonan Bahharuddin
Jusuf Habibie (B.J Habibie) untuk memimpin wadah
cendikiawan muslim Indonesia.
Tanggal 7 Desember 1990 merupakan
lembaran baru dalam sejarah umat Islam Indonesia di era Orde Baru. Secara resmi
Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI) dibentuk di Kota Malang
Jawatimur. Saat itu juga secara aklamasi disetujui kepemimpinan tunggal dan
terpilih Bahharuddin Jusup Habibie sebagai Ketua Umum ICMI yang pertama. Dalam
sambutannya beliau mengatakan bahwa dengan berdirinya ICMI tidak berarti kita
hanya memperhatikan umat Islam, tetapi mempunyai komitmen memperbaiki nasib
seluruh bangsa Indonesia tanpa kecuali, tanpa batasan sara, karena itu juga
merupakan tugas utama kaum cendikia.
Kehadiran ICMI Bukanlah
Kebetulan
Kelahiran ICMI bukankah sebuah kebetulah sejarah belaka, akan tetapi
erat kaitannya dengan perkembangan global dan regional di luar dan di dalam
negeri. Menjelang akhir dekade 1980-an dan awal dekade 1990-an, dunia ditandai
dengan berakhirnya perang dingin dan konflik ideologi. Seiring dengan hal
tersebut, semangat kebangkitan Islam di belahan dunia timur ditandai dengan
tampilnya Islam sebagai sebuah ideologi
dan kekuatan altenatif bagi perkembangan perabadan dunia.
Bagi Barat, kebangkitan Islam ini menjadi masalah yang serius karena
itu berarti hegemoni mereka terancam. Apa yang diproyeksikan sebagai konflik
antar peradaban lahir dari perasaan Barat yang subyektif terhadap Islam sebagai
kekuatan peradaban dunia yang sedang bangkit kembali sehingga mengancam
dominasi peradaban Barat.
Kebangkitan umat Islam ditunjang dengan adanya ledakan kaum terdidik
(intelectual booming) dikalangan kelas menengah kaum santri Indonesia. Program
dan kebijakan Orde Baru secara langsung maupun tidak langsung telah melahirkan
generasi baru kaum santri yang terpelajar, modern, berwawasan kosmopolitan,
berbudaya kelas menengah, serta mendapat tempat pada institusi-institusi
modern. Pada akhirnya kaum santri dapat masuk ke jajaran birokrasi pemerintahan
yang mulanya didominasi oleh kaum abangan dan non muslim. Posisi demikian jelas
berpengaruh terhadap produk-produk kebijakan pemerintah pada wilayah
pemberdayaan umat.
Dengan kondisi yang membaik ini, maka pada dasa warsa 80-an mitos bahwa
umat Islam Indonesia merupakan mayoritas tetapi secara teknikal sangatlah
minoritas, runtuh dengan sendirinya. Sementara itu, pendidikan berbangsa dan
bernegara yang diterima kaum santri di luar dan di dalam kampus telah
mematangkan mereka bukan saja secara mental, tapi juga secara intelektual. Dari
mereka itulah lahir criticalmass yang
responsif terhadap dinamika dan proses pembangunan yang sedang dijalankan dan
juga telah memperkuat tradisi intelektual melalui pergumulan Dialektika ide dan gagasan yang
diekpresikan baik melalui forum seminar maupun tulisan di media cetak dan
buku-buku. Seiring dengan hal itu, terjadi perkembangan dan perubahan iklim
politik yang makin kondusif bagi tumbuhnya saling pengertian antara umat Islam
dengan komponen bangsa lainnya, termasuk yang berada di dalam birokrasi
pemerintahan.
Peran ICMI di Kabupaten
Cianjur
ICMI sejak awal berdirinya, memang tidak dapat terlepas dari kebijakan
dan regulasi produk penguasa, begitupula dengan kehadiran Orda. ICMI Cianjur
yang dekat dengan penguasa baik secara personal maupun komunal, baik secara
akademik maupun politik. Namun hal ini tidak berarti bahwa ICMI harus manut dan
mbalelo dengan kebijakan-kebijakan
yang tidak populis dan merugikan rakyat banyak. Sikap Asal Bapak Senang
(ABS-pen), Skeptis, dan Oportunis, bahkan Hipokrit yang ditampilkan ICMI kepada
para penguasa, adalah pengkerdilan nilai kemanusiaan yang paling kejam karena
membiarkan idealisme diperbudak oleh kepentingan duniawi sesat-sesaat. Juga,
perilaku tersebut diprediksikan akan berkorelasi menjadi pangkal penyebab
hancurnya lembaga besar kebanggan umat ini.
Konsepsi tentang blue print perjalanan
bangsa Indonesia 10, 30, bahkan 50 tahun kedepan, hendaknya harus sudah
terformulasikan oleh para pengurus dan kader ICMI Cianjur. Kritik-kritik sosial
yang solutif-konstruktif dengan
berpegang teguh pada semangat rekonstruktif-objektif
haruslah dijunjung tinggi di atas segalanya, tanpa tendensi iri, dengki atau
benci kepada penguasa yang tengah berkuasa. Toh sejatinya mereka adalah mitra
sejajar dalam membangun dan menciptaka kondusifitas serta kemaslahatan umat
selaras dengan prinsip dasar ICMI yang
dikenal dengan 5K, yakni: Meningkatkan Kwalitas Berpikir, Meningkatkan Kwalitas
Bekerja, Meningkatkan Kwalitas Berkarya, Meningkatkan Kwalitas Iman dan Taqwa
seimbang dengan penguasaan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, demi Meningkatkan
Kwalitas Hidup.
Munculnya isu-isu miring terkait dengan penyalahgunaan wewenang dan
kebijakan di tubuh birokrasi pemda Cianjur, mulai dari mutasi pejabat yang
terlampau sering, jual-beli jabatan, gratifikasi proyek, monopoli akses oleh
keluarga bupati/ pejabat, penjualan aset pemda, kasus mamingate bupati yang tak
kunjung rampung, hingga isu pemerasan putra mahkota terhadap pengusaha yang
terekam jelas dan menyebar di youtube
oleh putra bupati yang berinisial IRM, hendaknya menjadi perhatian khusus dan
mendapatkan porsi lebih dari kalangan pengurus ICMI Cianjur, karena hal ini
akan berdampak nyata pada pembentukan karakter birokrasi dan proses
kesejahteraan masyarakat grass root yang
termiskinkan oleh sistem yang sengaja diciptakan oleh penguasa berwatak Leviathan untuk mendzhalimi kaum papa
yang selalu terpinggirkan.
Sederetan kasus di atas tentunya akan menjadi tugas berat nan mulia bagi
ICMI Cianjur untuk dapat membantu menuntaskannya, karena ini menjadi
tanggungjawab moral bagi mereka yang tergabung dalam keluarga besar Orda. ICMI
Cianjur. History kedekatan personal ketua ICMI Cianjur dengan Bupati saat ini,
baik di lingkungan birokrasi maupun politik jangan menjadikan ICMI Impotent, kehilangan wibawa, dan “cadel”
dalam mengkritisi penyimpangan-penyimpangan kekuasaan di tatar santri ini.
Kalaupun terjadi hal yang demikian, ICMI kehilangan taji, maka bubarkan saja
ICMI karena akan menjadi beban sejarah untuk generasi ICMI berikutnya. Program
GERTAS (gerakan tangan di atas) yang sempat digagas oleh pengurus ICMI beberapa
waktu lalu, diharapkan bukan hanya program ‘gertak sambal’ dan seremonial belaka sebagai wujud euforia politik yang tak mendidik.
Jangan pernah takut untuk selalu mengingatkan dan terus mengingatkan
eksekutif, legislatif, dan yudikatif agar tetap on the track sesuai dengan tupoksinya. Bahkan Bupati dan koleganya
sekalipun, jika memang mereka terjebak ataupun menjebakkan diri dengan apa yang
namanya Korupsi, Kolusi, Gratifikasi, dan Nepotisme (KKGN) serta mengkhianati
amanah rakyat, jangan pernah ragu ICMI untuk menghantam dan menyadarkannya.
Karena, Cicero-pun pernah berujar
bahwa ‘hukum yang tertinggi di bumi ini
adalah keadilan yang mensejahterakan rakyat, bukan keadilan yang
mensejahterakan penguasa’. Inilah hakikat peran cendikiawan dalam
kehidupan, bukan malah merapat dan berbulan madu dengan penguasa yang memiliki
kecenderungan untuk menyalahgunakan kekuasaan dan otoritasnya. Hal ini selaras
dengan apa yang diungkapkan oleh seorang Cendikiawan sufi shaleh nan sederhana
Imam Al-Ghazali yang menyatakan bahwa, sebaik-baiknya manusia diantara kalian
adalah umara (pemimpin) yang selalu
menghampiri ulama (cendikia), sedangkan
seburuk-buruknya manusia diantara kalian adalah ulama yang selalu menghampiri
umara, yakni ulama yang terkategorikan sebagai “ulama su” yang menjadikan agama
sebagai komoditas politik dan menukarnya dengan kepentingan duniawi yang fana.
Semoga kita semua berada dalam taufiq dan hidayah Alloh SWT, agar tidak
terjebak pada perilaku nirca yang merugikan agama dan umat. (Wassalam)
Cianjur,
01 Juli 2013
Hormat Saya
Penulis
Tidak ada komentar:
Posting Komentar