MEDIA MASA DALAM PUSARAN KEKUASAAN
“Media Masa Penguasa Vs Media Masa
Rakyat”
Oleh: Ridwan Mubarack
(Penulis Adalah Ketua
Forum Dosen Muda/ FORDEM Cianjur dan
Pengurus KNPI Jawa
Barat)

“Wahai
orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasiq membawa suatu
berita, periksalah dengan teliti…” (Al-Hujurat: 6)
Konstelasi politik menjelang pemilu kepala daerah 9 Desember 2015 sudah
semakin terasa. Bahkan, persaingan yang menjurus kepada perilaku persaingan
tidak sehatpun kerap nampak dari dialektika dan wacana-wacana di media masa.
Sebutlah saja media daring (dalam jaringan) yang lebih banyak didominasi oleh
media social halnya, facebook, twiter,whatsapp, instagram, line, dan lain
sebagainya. Redaksi kalimat yang bernada
dukungan terhadap salah satu psangan calon (paslon) hingga hujatan dari
pendukung paslon yang lain, kerap mewarnai konten dari perbincangan di lini
masa tersebut. Hal yang ingin penulis kemukakan dari realitas virtual ini
adalah mengenai respon masyarakat yang melibatkan diri dan turut larut menjadi
bagian dari proses dialektika politik menjelang pemilukada itu sendiri.
Suka ataupun tidak, dalam setiap perhelatan pesta demokrasi, mulai
dari pusat hingga daerah, media masa cetak dan elektronik sering memainkan peran
ganda dalam menyajikan karya-karya jurnalistiknya.Alasan pragmatis kadang
menjadi alasan klasik para insane media untuk berafiliasi dengan kepentingan
salahsatu kandidat. Sehingga, munculah dikotomi pemaknaan khalayak terhadap
media, dengan melebelkan predikat media masa rakyat versus media masa penguasa.
Media masa rakyat adalah media masa yang tidak hanya menyampaikan informasi
semata, lebih dari itu, media inipun bertanggungjawab secara social untuk
menyampaikan informasi yang akurat, factual dan aktual. Peran media sebagai
penjaga moral dan pejuang nilai-nilai kemanusiaan (humanisme) menjadi landasan
gerak dalam menciptakan karya-karya jurnalistiknya. Berikutnya, media masa
penguasa, dalam arti sempit adalah media masa milik penguasa. Media ini bisa
difahami sebagai media yang saham terbesarnya adalah milik penguasa karena ia ditopang oleh kekuatan
capital untuk memiliki dan membeli semua perangkat media, include didalamnya adalah jurnalis-jurnalis yang hidup dan
menghidupi diri dalam lingkaran kekuasaan. Meski ia tahu sang penguasa
melakukan abuse of power, ia tetap
melaju layaknya “babi hutan”. Berikutnya pemahaman media masa penguasa dalam
arti luas, adalah media yang kerap menyuarakan kepentingan-kepentingan penguasa
dan kerap mengenyampingkan kepentingan rakyat yang dipimpinnya. Hal ini akan
sangat berkorelasi erat dengan siapa meberikan apa, dan besarannya berapa.
Karena alasan kontrak, dan kompenasi politik yang akan diperoleh oleh si pelaku
media dari sang penguasa, akhirnya sempurna sudah media dan perangkat didalmnya
menjadi jongos-jongos predator politik. Fungsi media masa sebagai sarana public
yang mencerahkan, hlang sudah tergerus oleh jerat syahwat kekuasaan.
Sebagai penguat atas realitas kehidupn bermedia di negeri ini, sebutlah
saja ketika pemilu presiden 2014 silam. Koalisi Indonesia Hebat dengan sosok
Jokowi nya yang bertubuh kurus, versus Koalisi Merah Putih dengan prabowo
sebagai komando koalisi gemuk yang kerap mencerminkan diri sebagai seorang
patriot bangsa. Media masa menjadi alat propaganda strategis dan taktis
dalam mempengaruhi dan melukai benak
calon pemilih. Sebutlah saja MNC Group besutan Hary Tanoe, Viva News miliknya
Abu Rizal, Kompas Gramedia yang dikomandoi oleh Joacob Oetama, Group Metro
dengan Surya Palohnya, dan beberapa media cetak lainnya, mereka semua
menjebakkan diri dalam pusaran politik yang berorientasi pada pemenangan
kekuasaan. Lantas, kalaupun demikian, pertanyaan selanjutnya, dimana peran Pers
yang netral dan independen? Karena semuanya sudah berpihak pada kepentingan
modal dan digiring masuk ke kancah industri media, dengan para neolib sebagai pengendali tali kekang
media yang fullpower. Namun, masyarakat sudah pintar utuk menilai, mana media
yang aspiratif dan berjuang untuk kepentingan rakyat, dan manapula media yang
manipulative karena turut melanggengkan keangkaramurkaan pemerintahan yang
korup, poin ini yang sering dilupakan oleh para pelaku media.
Dari terbentuknya koalisi "ramping"
Jokowi dan koalisi "gemuk" Prabowo yang diistilahkan oleh Samandayu
di artikelnya, hingga isu-isu panas yang menerpa kedua capres. Isu SARA dan tuduhan pelanggaran HAM adalah segelintir
dari banyak isu panas yang dituliskan di Kompasiana. Perang isu gencar
diserangkan dari pendukung kedua belah pihak sejak mereka mendeklarasikan diri hingga jelang hari pemilihan.
Peran media sangat begitu kentara. Bahkan, munculnya istilah-istilah ataupun
predikat yang melekat dalam diri sang calon penguasa, tidak terlepas dari upaya
pemberitaan dan pencitraan oleh media masa.
Pun demikian dengan konstelasi politik menjelang
pemilukada serentak 09 Desember yang akan datang di Kabupaten Cianjur.
Media-media lokal yang merupakan anak-anak perusahaan media masa nasional
seolah berlomba untuk mempertegas eksistensinya sebagai Koran lokal milik
rakyat Cianjur yang merepresentasikan aspirasi dan kepentingan masyarakat
Cianjur secara keseluruhan. Sebutlah saja Radar Cianjur dan Cianjur Ekspres
yang merupakan anak perusahaan Jawa Pos Group dibawah komando Dahlan Iskan yang
kiprahnya sudah terbilang lama di Cianjur ini. Lantas, adapula harian Tribun
Jabar yang indukannya adalah Kompas Gramedia, namun, khusus untuk konten pemberitaan
Tribun Jabar, Koran ini lebih mempertegas kiprahnya di level regional, hal ini
dapat kita simak dari konten pemberitaan yang lebih “me-regional”.
Selain group Jawa Pos dan Kompas Gramedia, untuk
urusan media cetak di Cianjur ada surat kabar harian Berita Cianjur yang
terbilang seumur jagung. Sebagai pendatang baru dijagat media masa, harian
Berita Cianjur terbilang Koran yang cukup dapat bertahan. Dari segi layout pun terbilang artistik dengan
halaman yang syarat dengan warna dan apik dalam perwajahan. Namun, sebagai
penikmat berita lokal yang disajikan oleh Koran-koran lokal Cianjur, penulis
mencoba mengkomparasikan isi
pemberitaan yang disajikan kepada khalayak pembaca oleh Koran-koran lokal
tersebut. Hal ini sebagai reaksi atas beberapa pernyataan di dunia maya
baru-baru ini. Dalam proses diskusi tersebut penulis mencermati salah satu
pesan facebooker yang mencoba mengkritisi perilaku media di Kabupaten Cianjur.
Inti dari pesannya adalah ketidakberimbangan pemberitaan kadar pemberitaan
media local terhadap ketiga paslon pemilukada lainnya. Indikasi keberpihakan
terhadap penguasa dalam pemberitaan muncul dari frekwensi salahsatu media cetak local Cianjur yang getol
mengkampanyekan pasangan nomor urut 2. Namun, apakan benar bahwa media local
Cianjur sudah dikondisikan dan dijanjikan “Sesuatu yang Manis” oleh penguasa
dan koleganya, sehingga mereka melupakan fungsi sejatinya media masa dalam
kehidupan berbangsa?, public lah yang akan menilainya, dan public pula yang
menghukuminya dengan sangsi social, yakni tercerabutnya trust (kepercayaan)
khalayak pembaca terhadap media tersebut.
Dalam hal ini, penulis sedikit sepakat atas
kegelisahan yang dirasakan oleh facebooker tersebut yang menyayangkan kadar keberimbangan pemberitaan
pasangan calon (paslon) peserta pemilukada Cianjur Desember mendatang.,yang
terkesan sangat tidak proporsional. Sinyalemen orientasi politik media dalam
memainkan perannya untuk mempengaruhi pembaca setianya, sudah dapat ditebak
dari setiap rubric yang dipublish kepada khalayak. Media masa menjadi media strategis dalam menyampaikan
pesan-pesan politik salahsatu paslon. Sehingga tidaklah mengherankan ketika
pembacapun dengan jelinya mempersepsikan salahsatu Koran lokal sebagai Korannya
Bupati Cianjur yang turut berupaya melanggengkan kekuasaan sang Bupati. Kritikan-kritikan yang bernas
terhadap kinerja pemerintah jarang dilakukan oleh media ini, padahal kalaupun
kita runut ulang kembali, salah satu peran media masa dalam kehidupan berbangsa
dan bernegara adalah sebagai sosial kontrol terhadap pemerintah, bukan malah
berkelindan dengan kekuasaan yang tidak berpihak kepada pemberdayaan mentalitas
bangsa.
Media masa sejatinya adalah “watch Dog” anjing
penjaga yang bertugas mengawasi dan menjaga kinerja pemerintah. Bukan malah
sebaliknya menjadi anjing pemburu kekuasaan dan turut larut dalam pesta-pesta
rakus penguasa, dengan mengorbankan hak-hak masyarakt sipil dalam memperoleh
hak pendidikan politik dari media tersebut. Hal yang terkadang dilupakan oleh
para praktisi media dalam melaksanakan aktivitas jurnalistiknya, baik pada saat
investigasi maupun reportase mendalam, adalah godaan materiil dari para
penguasa yang kerap mematikan idealisme dan netralitas media dalam karya-karya
jurnalistiknya. Inilah yang sering penulis istilahkan dengan “malapraktik
jurnalistik” dalam aktivitas bermedia. Perilaku malapraktik dalam dunia
jurnalistik jauh lebih berbahaya daripada malapraktik dalam dunia medis. Dalam
satu kesempatan mantan Presiden SBY sempat merefleksikan kegelisahannya atas
media, ia tegas menyatakan bahwa media masa kita adalah media rakyat.
"Ingat, sesungguhnya TV, radio, koran, majalah, media online bahkan sosial media itu milik
publik. Maka sesuai dengan semboyan pers Indonesia, dari rakyat dan untuk
rakyat. Bukan hanya milik parpol dan calon legislatif atau calon presiden
semata," ucap SBY dalam peringatan Hari Pers di Manado, Senin (11/2/2013).
SBY juga mengajak agar pers menampilkan sesuatu
yang seimbang. Ada yang baik dan buruk, ada yang plus dan ada yang minus. Dia
berharap media memberikan ruang bagi semua kalangan, apalagi dalam menyambut pesta
demokrasi pemilu dan pemilukada. "Berikan ruang yang cukup dan relatif
adil. Kalau adil barangkali sulit, saya harus realistis, jadi kepada pemilik
dan manajemen semua media berikan ruang cukup dan relatif adil bagi peserta
pemilu baik legislatif dan pemilihan presiden," jelasnya. Jika diperhatikan dengan seksama,
apa seburuk itukah pers Indonesia di zaman sekarang? Sampai seorang Presiden
ikut menyentil, menyindir dan memperingatkan yang berkaitan dengan dunia pers
yang mulai tercium bau politik di dalamnya. Perkataan tersebut keluar, entah
datang dari dirinya sebagai Presiden RI yang memang harus peduli terhadap
rakyatnya, entah pula datang dari dirinya sebagai petinggi salah satu patai
politik yang kerap kali disudutkan oleh media-media yang notabene milik partai
oposisinya di tahun 2014 lalu.
Penyampaian pesan yang tidak berimbang bahkan
salah dalam penyajian informasi kepada sidang pembaca, akan berakibat fatal
karena media masa memiliki potensi untuk dapat menghitam-putihkan paradigm
berpikir sekaligus mempersuasi khalayak untuk mau membenarkan setiap informasi
yang disajikan. Inilah salahsatu bukti kehebatan media sebagaimana yang
ditegaskan oleh Charles de Montesquie, bahwa demokrasi di sebuah Negara
ditopang oleh 4 hal, yakni eksekutif, legislatif, yudikatif, dan Pers sebagai
kekuatan ke empat.
Dalam ilmu komunikasi masa, kita mengenal teori Jarum Hypodermik (Hypodermic Nedlle Modle) Elihu Katz yang dipopulerkan pada
tahun 1930. Ia menegaskan peran media sebagai
sesuatu yang fullpower. Menurut teori
ini, ketika public berinteraksi dengan media masa, publik yang berperan sebagai
komunikan terkesan pasif, sedangkan media berperan lebih aktif. Artinya, setiap
apa yang disajikan oleh media akan dianggap sebagai sebuah kebenaran realitas
yang mewakili keseluruhann realitas yang ada (teori kultivasi George Garbner pun menyatakan
demikian). Pesan informasi dianalogikan sebagai serum dan media sebagai jarum
suntik yang siap di injeksikan kepada pasien kapan dan dimanapun. Khalayak
pembaca yang lebih banyak berpean sebagai pasien, tidak bisa berbuat banyak
selain menerima isi dari serum (infromasi) secara keseluruhan tanpa memfilter
akan kebenaran informasi tersebut.
Sejatinya, media masa mempunyai peran yang jauh
lebih agung dari sekedar memperoleh kompensasi politik dari penguasa yang
mereka perjuangkan. Lebih dari itu, media masa baik cetak ataupun elektronik,
mengemban misi kemanusiaan yang sangat mulia yakni empowering people, fungsi memberdayakan masyarakat dan
memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan (humanisme)
adalah hal yang tidak bisa dinafikan oleh media. Media masa berkewajiban
memberikan informasi yang akurat, memberikan pencerahan pendidikan politik,
mengawasi dan mengevaluasi segala kinerja pemerintah, mengawal demokrasi kerakyatan, dan menghibur
masyarakat atas kepenatan politik yang ambigu, (mengutip kalimat sang
facebooker-pen).
Sang penulis buku fenomenal Sejarah Tuhan, Karen
Amstrong, tegas menyatakan bahwa humanisme
adalah agama baru tanpa eksistensi Tuhan. Semua umat manusia lintas sara
meyakini kebenaran semangat nilai humanis, seperti halnya semua orang berhak untuk
memperoleh informasi yang aktual dan faktual, semua orang berhak sekaligus
berkewajiban untuk memperoleh dan memperjuangkan kebenaran sebagai sebuah nilai
dan tujuan akhir kehidupan. Pun demikian dengan berpolitik, media yang
merupakan kolektivitas idealisme dan kepentingan personal berkewajiban
mengawal, menjaga moralitas masyarakat sekaligus para penguasanya untuk dapat
mengimplementasikan semangat hidup Berakhlakul Karimah. Hidup berinteraksi tanpa
kepalsuan dan intimidasi, tanpa kebencian dan anarkhi, tanpa upaya hegemoni
atas nama jiwa penguasa terhadap budaknya, serta tanpa perilaku rakus kekuasaan dan jabatan. Yakinilah tiada
pesta yang tiada berakhir. (Wassalam)
*Disarikam
dari berbagai sumber.
Cianjur,
29 September 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar