KOALISI GEMUK DALAM PUSARAN PEMILUKADA
“Koalisi Rakyat versus Koalisi Birokrasi”
Oleh: Ridwan Mubarack
(Penulis Adalah Ketua Forum Dosen Muda/
FORDEM Cianjur dan
Pengurus KNPI Jawa Barat)

“ Wahai
orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasulnya, dan
janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yag dipercayakan kepadamu, sedangkan
kamu mengetahui “ (Al-Qur’an,
S.Al’Anfal; 27)
Gegap
gempita suasana menjelang pemilukada serentak 09 Desember 2015 yang akan datang
sudah sangat terasa. Kabupaten Cianjur adalah salahsatu kabupaten yang akan
menyelenggarakan pesta demokrasi daerah serentak di Indonesia. Tahapan demi
tahapan dalam penyelenggaraan pemilukadapun tengah dilakukan, mulai dari
pendaftaran bakal calon, verifikasi, pengundian nomor urut, penjadwalan
kampanye, hingga menjelang hari H pencoblosan didalam bilik suara, terus
dipersiapkan oleh penyelenggarara pemilu KPU. Kemeriahan menjelang pemilukada,
tidak berhenti di KPU dan perangkat turunannya saja, hampir disemua pelosok
kabupaten Cianjur, atribut kampanye berserakan, antara paslon (pasangan calon)
yang satu dengan yang lainnya saling berlomba seolah tdak mau kalah dari sisi
jumlah dan ukuran alat kontak kampanye.
Mencermati
pesta demokrasi pemilukada di Cianjur, ada bayak isu seksi untuk dapat kita
cermati, diantaranya wacana tentang kurang populernya paslon no urut 1
Deni-Zaini jika dibandingkan dengan paslon lainnya, wacana politik dinasti yang
menerpa pasangan nomor urut 2 IRM-Herman, dan wacana tentang putera daerah dan
non putera daerah yang menerpa paslon nomor urut 3 Suranto-Oki. Isu-isu ini
kian hari kian mengemuka, dan masyarakat sebagai calon pemilihpun sudah
memaklumi itu. Terkait dengan squad
ataupun pasukan dari ketiga paslon tersebut, penulis meyakini, ketiganya sudah
mempersiapkan strategi yang paling mantap dan jitu dalam usahanya memikat hati
calon pemilih. Ada yang dengan cara-cara “halal” namun ada juga yang dengan
cara-cara “haram” dalam ikhtiarnya untuk memperoleh kemenangan dalam kompetisi
pemilukada tersebut.
Terkait
dengan siapa mendukungg siapa, pasangan calon bupati dan wakil bupati nomor
urut 3 Suranto-Oki, secara matematik lebih unggul jika dibandingkan dengan dua
paslon lainnya. Delapan partai, terdiri dari PDIP, Gerindra, Nasdem, PKS, PAN,
PPP, Hanura, dan Terakhir Demokrat (36 Kursi Legislatif), yang bergabung dan
berkoalisi mengusung paslon Suranto-Oki. Belum lagi banyaknya organisasi
relawan di luar struktur partai politik yang terus tiada henti memberikan
dukungan kepada paslon Suranto-Oki, halnya organ relawan POSPERA (Posko
Pemenangan Rakyat) yang menyebar hingga ke pelosok. Jika melihat banyaknya
dukungan parpol dan organ relawan, penulis meyakini 50% kemenangan bagi kubu
Suranto sudah di atas kertas. Namun benarkah semudah itu? Kita coba analisa
lebih lanjut.
Untuk pasangan IRM-Herman sendiri, yang
merupakan calon “pewaris” kekuasaann
sang ayah, hanya didukung 3 partai saja, yakni Golkar, PKB, dan PBB, jelas
secara kuantitas, pasangan ini kalah jumlah. Jika hanya mengandalkan kemampuan
mesin politik dari tiga partai pendukung akan sangat sulit, karena tidak
sedikit akar rumput yang masih berperilaku liar dalam menentukan pilihannnya.
Asumsi bahwa yang membuat komitmen hanya di tingkatan elite politik saja ketika
perahu berlabuh dan menambatkan jangkar politiknya, tidak merembes hingga ke
konstituen politik ditingkatan terendah, tidak bisa dinafikan, baik dari kubu
Suranto maupun IRM. Namun, berkaca pada pemilu legislatif 2014, Irvan Rivano Muchtar, caleg DPRD
Provinsi Jabar dapil 3 dari Partai Demokrat meraih suara terbanyak kedua DPRD
provinsi setelah Irianto Sidik Syafiudin (Yance) dapil 9 dari partai Golkar.
Hasil rapat pleno penetapan kursi dan caleg terpilih pada 13 Mei 2014
lalu, KPU Jabar, menetapkan Irvan terpilih menjadi anggota DPRD Jabar dengan
raihan suara sah 130.399 suara. Melenggangnya Irvan ke Gedung DPRD Provinsi
Jabar, merupakan prestasi khususnya bagi Partai Demokrat Cianjur. Irvan
merupakan pendatang baru didunia politik tingkat provinsi saat itu.
Keberhasilannya, tidak lepas dari upayanya meraih hati masyarakat dapil 3 Jabar
dengan cara blusukan menemui warga. Bulusukanya itulah, yang dinilai masyarakat
bahwa Irvan dekat dengan rakyat, khusunya masyarakat kecil sehingga masyarakat
tak ragu lagi untuk menentukan pilihan kepadanya. (aspirasirakyat.com). Belum
lagi, paslon IRM-Herman didukung oleh kekuatan birokrasi, entah dengan
cara-cara persuasif ataukah koersif, yang jelas ia memang memenangkan kompetisi
pada saat itu. Hal inilah yang sebenarnya harus menjadi bahan pertimbangan
paslon yang lain baik Deni maupun Suranto.
Koalisi
gemuk yang ada di kubu Suranto, menjadi satu fenomena politik tersendiri yang
sangat menarik bagi penulis. Pasangan yang mengusung Jargon “PERUBAHAN” ini
merepresentasikan semangat penyadaran dan perlawanan masyarakat yang selama ini
terkesan “gelisah” atas pola kepemimpinan Bupati yang dianggap “kurang cakap”
dalam mengelola Cianjur dalam kepemimpinannya. Suranto selaku wakil bupati,
mencoba melakukan semangat perlawanan atas hegemoni bupati selama ini. Ia
menjadi potret figur yang “terdzalimi” oleh gaya politik sang bupati, hal ini
bisa kita simak dari banyaknya pemberitaan yang menampilkan ketidakharmonisan
antara Bupati TMS dan Wabup Suranto dipanggung birokrasi pemda Cianjur. Hal lainnya
bisa kita lihat dari realitas kegelisahan masyarakat di berbagai media social yang
banyak mengkritisi infrastruktur di Kabupaten Cianjur yang jauh tertinggal jika
dibandingkan dengan tetangganya Kab. Purwakarta dan Kab. Bandung.
Efek
dominopun terjadi, diantaranya Cianjur dihapus dari tujuan wisata Jawa Barat
dan nasional. Bahkan baru-baru ini Cianjur mendapatkan kritikan dari menteri
pendidikan dan kebudayaan Anis Baswedan, bahwa perkembangan kemajuan pendidikan di Kabupaten
Cianjur tertinggal jauh dari kota/kabupaten lain. Belum lagi masalah
alih fungsi lahan sawah produktif menjadi industri murni, mutasi pejabat yang
terlampau sering, permasalahan TKW yang tidak
mengenal ujung pangkal, hingga isu korupsi pejabat, dan banyak lagi
masalah lainnya yang menggantung di tatar santri ini. Hal lain yang menjadi
penegas atas ketidakpuasan rakyat terhadap kinerja bupati adalah maneuver politik
Partai Demokrat yang menjatuhkan pilihan politiknya kepada paslon Suranto-Oki
di detik-detik terakhir, padahal selama ini publik mengetahui bahwa Partai
Demokrat adalah induk semang kepentingan politik TMS dan IRM. Diantara
keduanya, baik demokrat dan Bupati secara personal, telah mewujud politik simbiosis mutualisme, saling membesarkan
dan saling menguntungkan diantara keduanya selama pemilu legislatif dan pilpres
beberapa waktu yang lalu. 10 anggota legislatif partai demokrat DPRD Cianjur,
sebahagian besar (kalaupun tidak semuanya) adalah orang-orang yang dibesarkan
dalam lingkaran kekuasaaan bupati dan puteranya.
Keharusan
untuk melakukan politik balas budi (politik etis) meminjam istilah Van Deventer,
atas jasa-jasa sang induk semang, sesuatu yang memang harus dibayar mahal oleh
para politisi Demokrat Cianjur dalam menentukan sikap politiknya. Berikutnya,
akan muncul ambiguitas politik dari para politisi Demokrat terhadap realitas
politik yang mengharuskan mereka untuk turut berpartisipasi aktif dalam
memenangkan paslon Suranto-Oki. Disatu sisi, balas budi politik harus dilakukan
terhadap paslon IRM-herman, namun di sisi lain, keputusan partai Demokrat
Cianjur dengan kepemimpinannya yang baru, mengharuskan mereka untuk memenangkan
paslon Suranto-Oki, jika tidak, sangsi tegas akan diberikan kepada kader partai
yang “makar” terhadap keputusan partai, tidak tanggung-tanggung, Dewan Pimpinan Partai (DPP) Demokrat
melalui Sekretaris Jenderal, Hinca Panjaitan, menegaskan bakal memberikan
sanksi tegas berupa pemecatan kepada kader maupun pengurus Partai Demokrat
Cianjur yang berkhianat dan tidak lagi sejalan dengan perintah dan garis
keputusan partai. Hal itu dilakukan agar apa yang sudah ditetapkan dan
diputuskan partai berkenaan Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten Cianjur
2015 mendatang, yakni target untuk memenangkan pasangan calon nomor urut 3, H
dr Suranto MM dan Alwin Rahadian SH MAP (Oki), sesuai dengan jalur partai.
Ada
dua hal yang bisa kita simpulkan dari realitas politik di atas, pertama, Partai Demokrat Cianjur
melakukan aktivitas politik bersih-bersih dan cuci tangan atas kepemimpinan
Bupati yang sebentar lagi akan lengser dari tahta kekuasaannya, hal ini
tentunya atas pertimbangan dan prediksi politik kedepan yang mungkin saja tidak
menguntungkan bagi kepentingan politik Demokrat itu sendiri. Kedua, meskipun legalitas formal yuridis
keberpihakan demokrat secara utuh telah diberikan kepada paslon Suranto-Oki,
tidak ada jaminan bahwa 10 anggota legislatif yang telah berhutang banyak terhadap
penguasa akan memaksimalkan perannya untuk memenangkan paslon nomor urut 3 pada
ajang kompetisi pemilukada nanti. Alih-alih turut memenangkan, mungkin saja para
politisi Demokrat Cianjur malah melakukan infiltrasi dan agitasi politik
langsung ke “dapur politik” Suranto. Hal ini yang memang harus diwaspadai kubu
Suranto, karena politik memang The
Possible Art’s, seni segala kemungkinan, dan segala sesuatunya mungkin saja
terjadi dalam hitungan detik, termasuk pengkhianatan dan kamuflase politik
untuk mengalahkan lawan.
Terkait dengan koalisi gemuk Suranto-Oki, hal
ini bisa menjadi satu peluang sekaligus tantangan politik tersendiri. Diperlukan
figur pemersatu lintas SARA, dan lintas kepentingan politik, jika tidak,
peluang untuk memenangkan kompetisi hanya isapan jempol belaka dan kekuatan
pasukan pemenangan yang begitu banyak akan menguap tanpa jejak. Karenanya,
kehadiran figur ketua tim pemenangan haruslah pribadi yang benar-benar memiliki
kapasitas, kapabilitas, dan integritas kepemimpinan yang kuat. Ia haruslah
pribadi yang memahami konsep manajerial, leadership, dan memahami psikologi
personal serta psikologi organisasi yang komprehensif. Perlu sosok manajer yang
mampu memaksimalkan sekecil apapun potensi yang dimiliki oleh pasukan. Sosok
ketua tim pemenangan harus dapat berempati dan mewakili semua unsur kepentingan
aktivis parpol dan organ relawan yang tengah berjibaku memaksimalkan mesin politiknya
untuk mendulang suara demi pemenangan pemilukada nanti. Empat tekhnik
komunikasi politik, persuasif, Informatif, koersif, dan komunikasi masa seyogianya
diimplemntasikan ke seluruh elemen tim pemenangan.
Koalis
gemuk, kabinet pelangi, Kabinet Gotong Royong, atau apapun redaksi kalimatnya,
sangat rentan dan riskan untuk terjadinya konfik-konflik internal-horizontal,
karena di dalamnya banyak melibatkan kekuatan personal, komunal, dan partai
politik. Sebagai referensi, pilpres 2014 yang lalu, antara koalisi gemuk KMP
yang mengusung Prabawo versus koalisi ramping KIH yang mengusung Jokowi. Prabowo
yang “merepresentasikan” bagian dari penguasa orba, tidak berdaya menghadapi
Jokowi yang “mewakili” masyarakat kecil dan orang-orang yang tertindas.
Menjelang pemilukada nanti, peristiwa pilpres ini patut dijadikan acuan.
Jika
kekuatan tidak dimanej dengan apik, energi politik baik moril maupun material,
akan terkuras habis hanya untuk mengurusi konflik-konflik internal yang tidak
perlu terjadi, belum lagi ancaman dari rivalitas politik yang didukung oleh
kekuatan birokrasi yang massif (termasuk oknum KPU dan oknum perangkat
turunannya yang telah teruji memenangkan anggota legislatif dapil 3 Partai Demokrat untuk DPRD I Jawa
Barat dengan perolehan suara yang sangat maksimal), hal ini menjadi suatu
tantangan tersendiri bagi kubu Suranto-Oki. Banyaknya stempel dan warna bendera
yang memberikan legitimasi politik, tidak lantas dapat dijadikan acuan untuk memenangkan perlombaan. Kompensasi
kemenangan hanya akan didapatkan oleh mereka yang fokus pada ikhtiar-ikhtiar
politik yang maksimal, dengan tiada melewatkan barang satu detikpun untuk
memobilisasi masa melalui penyadaran
politik dan pendekatan persuasif agar mau berjuang bersama-sama demi garis
finish kemenangan.
Dalam
konsep Causality of Law, ikhtiar yang
maksimal haruslah berbanding lurus dengan hasil yang maksimal pula. Pasifnya
mesin politik dalam berjuang adalah bentuk kejahatan dan pengkhianatan terhadap
komitmen politik itu sendiri, dan penulis mencermati, hingga saat ini mesin
politik dari semua paslon belum menjalankan tupoksinya secara maksimal. Sikap
diam dan menunggu dalam aktivitas berpolitik adalah masuk dalam kategori crime of silent, atau kejahatan dalam
diam dan merupakan bentuk pengkhianatan politik. Karenanya, bagi anda yang kini tengah terekstasi atas nikmatnya
madu kekuasaan, segeralah bergerak, jika tidak kekuatan rakyat akan melumat dan
merebut kembali haknya. Selamat bertanding Bung…! (Wassalam)
Cianjur,
27 September 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar