MENGKRITISI KOMUNIKASI “TOGMOL” SANG BUPATI
“ Suatu Upaya Membangun Kesadaran dalam Lingkar
Kekuasaan “
Oleh: Ridwan Mubarack
(Penulis
Bergiat di UNSUR, UNPI, UT, dan UIN SGD Bandung)

.
كلكم راع وكلكم مسؤول عن راعيته ...
“ Setiap manusia adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya itu “.
“ Setiap manusia adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya itu “.
Kisruh
hubungan kinerja Bupati Cianjur dengan wakilnya yang sempat dilansir oleh
beberapa media cetak lokal maupun nasional, memunculkan ragam keprihatinan dari
beberapa kalangan masyarakat Cianjur, tidak terkecuali penulis. Disharmonisasi yang nampak ke permukaan
antara Bupati Cianjur dengan wakilnya dan menjadi konsumsi publik, tentunya pula
banyak mengundang tanya mereka yang konsen
pada sepak terjang dua pupuhu tatar santri ini. Komunikasi seperti apa yang
selama ini dibangun oleh Bupati dan wakilnya, ada factor X apa yang menjadikan
mereka bersitegang satu sama lain, masihkah ada ruang-ruang dialog untuk dapat
mempertemukan keduanya, pernahkah terlintas dalam benak mereka bahwa ketidakharmonisan
yang diperlihatkan di ruang publik akan berimplikasi besar terhadap kualitas
pelayanan bagi segenap masyarakat Cianjur?. Sekian banyak tanya menggelayuti
mereka yang merasa prihatin menyaksikan realitas Cianjur saat ini.
Bupati beserta wakilnya secara
personal, sejatinya adalah mahluk-mahluk Tuhan yang tengah mengemban amanah
kepemimpinan. Dipundaknyalah sekian juta nyawa menggantungkan hidup dan
harapannya, harapan untuk memperoleh pelayanan dan penghidupan lebih baik dari
para pemimpinnya. Namun lacur, harapan hanyalah sebatas harapan, karena mereka
yang diyakini sebagai “juru selamat” malah asyik mahsyuk dan terjebak konflik
kepentingan (conflict of interest) yang lebih bersifat politis. Alasan
munculnya konflik yang dikemukakan oleh keduanya (baik Bupati maupun wakilnya)
lebih bersifat sentimental dan terkesan kekanak-kanakan. Sedangkan hal-hal yang
bersifat urgen dan substantif pada wilayah pemaksimalan
peran guna memaslahatkan kehidupan rakyat tidak menjadi prioritas.
Simak
saja di berita koran Pikiran Rakyat beberapa waktu lalu, Wakil Bupati Cianjur
siap mundur dari jabatannya karena merasa ditinggalkan oleh Bupati, dibatasinya
ruang gerak, dan tidak dilibatkannya sang wakil pada wilayah-wilayah sensitif pengambilan
kebijakan di Kabupaten ini. Sang Bupati Cianjur yang kini tengah sukses bermetamorfosis menjadi penguasa tiada
tanding, tidak kalah gesit menimpali apa yang menjadi kegundahan mitranya,
bahwa isu ketidakharmonisan yang dimunculkan oleh wabup merupakan bagian dari
trik dan intrik politik menjelang Pilkada 2015 yang akan datang. Bupatipun
menambahkan bahwa ia tidak merasa meninggalkan wakilnya, hanya intensitas
pertemuan saja yang dirasakan kurang sehingga memunculkan syak wasangka. Benarkah
demikian, hanya waktu saja yang dapat menjawab segala kegundahan-kegundahan
itu.
Hal
yang sangat disayangkan terkait relasi Bupati dengan wakilnya adalah alasan disharmonisasi
yang dikemukakan oleh keduanya yang sama-sama tidak mencerahkan dan terkesan
lebih mementingkan jabatan dan kekuasaan. Sedangkan untuk hal-hal yang bersifat
prinsip, dan harus diprioritaskan pada wilayah pemaksimalan pelayanann terhadap
masyarakat terkesan tidak menjadi suatu keharusana untuk diperjuangkan,
buktinya, mereka lebih “menikmati” konflik-konflik yang syarat dengan nuansa
politik keberkuasaan. Perlu anda ingat wahai Bapak Bupati dan Wakilnya, selaksa
permasalahan keumatan tak kunjung usai di tatar ini. Kemiskinan masih mewabah,
pengangguran kian bertambah, permasalahan TKW tak jarang dianggap sepele, anak
putus sekolah dianggap lumrah, dan indek pembangunan manusia (IPM) masyarakat Cianjur tak kunjung membumbung
(69,14 tahun 2010, 69,59 tahun 2011, 70,02 tahun 2012, 72,51 tahun 2013 dan
inipun baru sebatas klaim Kabid Pem dan Kesra Munajat- PR 19 Maret). Kiranya, telah terjadi malapraktik birokrasi di
Cianjur ini. Lantas siapakah yang salah dan harus bertanggungjawab atas
permasalahan-permasalahan akut tersebut? Tegas penulis katakan bahwa yang salah
adalah mereka yang berlaku tidak benar dan menjadi biangkerok segala kekisruhan
di kabupaten ini.
Para
pemimpinlah (Bupati dan wakilnya) yang harus bertanggungjawab terhadap ragam
problematika keumatan. Meminjam logika seorang Hoegeng Imam Santoso yang mantan
Kapolri tahun 1967. Tegas ia katakan bahwa untuk memperbaiki sebuah birokrasi
yang korup, maka mulailah dibersihkan dari para pemimpinnya untuk selanjutnya
kepada bawahannya, layaknya orang sedang mandi, mulailah kucuran air dari atas
kepala dan biarkan air tersebut menyapu bersih setiap kotoran yang menempel
disetiap lekuk tubuh, bukan malah sebaliknya. Namun, ketika para pemimpin telah
membutakan hatinya, dan terekstasi
dengan kekuasaan dan jabatannya, maka rumus hidup berikutnya akan menjadi
solusi, yakni people power (kekuatan
masa) layaknya air bah yang siap menghantam keangkuhan batu karang sekalipun.
Ya, kekuatan masa dengan hukum rimbanyalah yang akan menjadi funisher para pemimpin yang dzalim dan
korup.
Lantas
bagaimana menyikapi segala bentuk kegaduhan politik yang terjadi anatara bupati
dengan wakilnya? Jawabannya mudah saja. Buka ruang komunikasi seluas mungkin,
munculkan asas saling mempercayai satu sama lain. Bukankah dalam adagium komunikasi manusia yang beradab
tegas dikemukakan bahwa tiada satu permasalahanpun yang tiada terselesaikan
ketika dikomunikasikan dengan santun, baik, dan bijak. Bukan komunikasi picik
yang saling menyudutkan dan saling membunuh karakter antara komunikator dengan
komunikannya.
Dalam
Standar Operasional Procedur (SOP) birokrasi, tiga hal yang harus kita junjung
tinggi yakni konsisten dengan komitmen yang dibangun, menguasai regulasi dan
aturan main yang ada, serta memahami tugas pokok dan fungsi masing-masing
jabatan dan posisi. Tentunya akan menjadikan sesuatu yang merepotkan bagi kita
semua, ketika Bupati ataupun wakilnya terlanjur ingin menguasai segala sesuatu
yang ada, yang muncul kemudian adalah perilaku menghalalkan segala cara melalui
praktek-praktek komunikasi politik jahat konspirasi dan agitasi sistemik yang
dipaksakan.
Seorang komunikator yang baik, termasuk bupati
didalamnya, adalah mereka yang memahami lima elemen komunikasi perspektif Harold D. Laswell yaitu; Who say what in with channel to whom with
what effect (siapa, mengatakan apa, melalui saluran apa, kepada siapa, dan apa
dampak yang akan muncul dari proses komunikasi tersebut?). Dalam filsafat Kisundapun
jelas dikemukakan, hirup ulah sok kejot
borosot, samemeh pok nyarita kudu dipikir heula dibeuweung diutahkeun, lain
nyarita tuluy mikir, mikir heula tuluy nyarita, hade ku basa goreng ku basa. Demikian
petatah petitih yang bisa kita jadikan acuan dalam membangun komunikasi yang
harmonis, dengan siapapun itu.
Dalam
sebuah teori komunikasi disebutkan bahwa komunikasi yang baik adalah komunikasi
yang saling memahami dan saling memahamkan satu sama lain. Komunikasi yang
tepat dalah komunikasi yang mampu menggerakan hati lawan bicara untuk mau
berlaku sebagaimana yang diharapkan oleh si pembicara ataupun komunikator. Bentuk
komunikasi seperti inilah yang diharapkan oleh semua pakar ilmu komunikasi
diseluruh dunia. Komunikasi tanpa tendensi
mencurangi ataupun mengkhianati, komunikasi tanpa kemunafikan, komunikasi yang
dapat membangun kualitas pribadi dari lawan bicara, komunikasi persuasif yang
menyentuh hati sekaligus menggerakannya untuk melakukan yang terbaik bagi
kemaslahatan hidup.
Dalam
bukunya, The Art of War, Panglima
perang Tzun Zu mengemukakan bahwa
untuk dapat melumpuhkan lawan dalam sebuah peperangan, tidak selamanya harus
dengan kekuatan fisik yang berdarah-darah, karena perang, apapun motif dan
tujuannya, adalah tradisi masyarakat primitif nan barbar yang kerap dilakukan
oleh anak manusia sebagai langkah terakhir untuk mengukuhkan keberkuasaannya. Masih
menurut Tzun Zu, untuk melumpuhkan lawan dalam sebuah peperangan, adakalanya
kita harus membuka ruang dialog seluas mungkin, lantas yakinkan mereka dengan
strategi negosiasi yang mumpuni dengan melumpuhkan hatinya melalui
pendekatan-pendekatan persuasif.
Seyogianya,
tekhnik komunikasi persuasif adalah tekhnik komunikasi yang paling efektif
karena diyakini mampu memanusiakan nilai-nilai kemanusiaan. Bukan malah
sebaliknya dengan melakukan tekhnik-tekhnik koersif
yang memaksa, teror dan intimidasi, karena jelas sikap seperti ini sangat dekonstruktif terhadap nilai kemanusiaan
itu sendiri. Perilaku arogan, otoriter, dan despotik
yang dipraktekan oleh penguasa dalam melanggengkan keberkuasaannya adalah
sebuah pengkhianatan terhadap nilai-nilai luhur dmokrasi di negeri ini.
Kejumawaan
dan kesombongan dalam praktek birokrasi dan kepemimpinan merupakan perilaku
naïf yang hanya pantas dilakukan oleh masyarakat primitif pada zaman dahulu
kala dengan hukum rimbanya. Begitupun, jika masih ada para pemimpin (Bupati
atau siapa saja) yang bertingkah layaknya penguasa tiran di sebuah kekaisaran, sejatinya
adalah sosok pemimpin primitif yang zumud dalam pola pikir dan hidup di zona
waktu yang tidak tepat. (Wassalam)
Cianjur, 16 Maret 2014
Penulis
Tidak ada komentar:
Posting Komentar