MENAKAR HARGA PEREMPUAN
“ Karena Engkau Wanita, maka Muliakanlah
Dirimu ”
Oleh: Ridwan Mubarack
(Penulis
Bergiat di Forum Dosen Muda/ FORDEM, UIN SGD Bandung,UNSUR, UNPI, ICMI-Muda,
Lingkar Studi Kampus, dan Ketua KSN Jawa Barat)

“ Dan para wanita mempunyai hak yang
seimbang dengan kewajibannya dengan cara yang ma’ruf ” (Qur’an Surah Al
Baqarah:228)
Peranan
kaum Hawa dalam mewujudkan tatanan kehidupan umat dalam berbangsa dan bernegara
sangatlah kentara, karena seyogianya, para pemimpin negeri ini siapapun dia,
berikut juga kita, terlahir dari rahimnya seorang perempuan, yakni ibu kita
selaku orangtua biologis sang perempuan yang sering kita wacanakan dalam
ruang-ruang publik. Diakui
atau tidak pada saat ini peranan wanita sangatlah besar dalam berbagai bidang.
Baik dalam bidang pendidikan, sosial,
budaya, ekonomi, bahkan peranan wanita telah kita rasakan diranah publik,
seperti halnya politik melalui keterwakilannya di angka 30 % anggota parlemen.
Itu artinya, wanita dapat memajukan bangsa dan negara melalui SDM yang dimiliki
oleh wanita itu sendiri.
Kaum
hawa ataupun kaum perempuan merupakan sosok unik, eksotik sekaligus menarik
dengan segala kelebihan dan keterbatasannya. Saking menariknya sosok seorang
perempuan, sekian banyak adagium, sabda, dan firman Tuhan bercerita tentang
kemuliaan mereka. Saking Tuhan memuliakan perempuan, tak tanggung-tanggung, Ia
menyematkan salahsatu Asma-Nya dalam Asmaul
Husna (Nama-nama Allah SWT yang baik) pada struktur anatomis tubuh perempuan
yakni Ar-Rahiim yang berarti maha penyayang.
Dalam
struktur anatomis tubuh pria, tidak ada yang namanya rahim, karena rahim memang
menjadi monopoli semua kaum wanita, lelaki tidak. Lantas dalam beberapa
keterangan, adapula yang menyatakan bahwa Allah Swt telah menciptakan
sekokoh-kokohnya tempat bagi mahluk-mahluknya, dan bukannya gunung dengan
puncaknya yang menjulang serta lautan samudera dengan ombaknya yang menggelora,
melainkan rahimnya seorang perempuan. Sungguh perempuan adalah mahluk yang
mulia bagi mereka yang bisa menjaga kehormatannya.
Perempuanpun
memperoleh kemuliaan dan penghargaan yang tinggi dihadapan Muhammad Rasulullah
SAW, sebagaimana sabdanya “bahwa Syurga berada di bawah telapak kaki Ibu”.
Kemudian pernah pula seorang sahabat bertanya kepada Baginda Rasulullah tentang
siapa yang harus terlebih dahulu dihormati dan dipatuhi perkataannya, maka
Baginda Rasulullahpun tegas menjawab, Ibumu...Ibumu...Ibumu lantas kemudian
barulah Bapakmu.
Dalam
literatur kesusasteraan kita, banyak pula yang menyuarakan peran besar seorang
perempuan seperti halnya kesusteraan Balai Pustaka dengan novel Azab dan
Sengsara karya Merari Siregar, Layar Terkembang karya Sutan Takdir Alisjahbana,
Apa dayaku karena aku seorang perempuan karya Sutan Nur Iskandar, Siti Nurbaya
karya Marah Rusli, Nyai Ontosoroh dalam Tetralogi Pulau Buru, dan masih banyak
lagi tulisan-tulisan lainnya yang berkisah tentang perjuangan panjang perempuan
Indonesia guna memperoleh hak-haknya.
Perempuan,
ya dialah perempuan yang telah banyak melahirkan kisah kemanusiaan dan tragedi
peradaban zaman. Hanya karena kerelaanyalah manusia sukses bermetamorfosis dan berregenerasi
sejak zaman Adam-Hawa hingga zaman Alvin-Hellen sekarang ini. Tentunya tiadalah
terbayangkan ketika Tuhan hanya mencipta lelaki saja, dan tentulah tiada elok
pula ketika Tuhan hanya mencipta kaum perempuan saja di dunia ini, karena pada
dasarnya baik laki-laki ataupun wanita sama-sama berketergantungan satu sama
lain dan saling melengkapi diantara keduanya. Tidak ada superioritas maupun inferioritas
gender ketika berbicara hak (hukum) dan kondisi (kualitas hidup) karena keduanya
adalah sama.
Menilik
akan arti penting sosok seorang perempuan dalam hidup ini, bijaklah pula kita
merespon dengan baik dan tangan terbuka terkait dengan wacana-wacana feminisme yang menjadikan isu
emansispasi wanita sebagai central dialektika. Dipelopori oleh sang pioner
emansipasi wanita, Raden Ajeng Kartini yang melegenda dengan kutipan bukunya
“Habis gelap terbitlah terang” munculah istilah emansipasi wanita dan
kesetaraan gender yang ngetrend itu.
Konon katanya, berkat jasa beliau pulalah, di era globalisasi saat ini
peran wanita di luar rumah dan keluarga bukanlah sesuatu hal yang tabu untuk
dilakukan, asalkan masih dalam batas-batas yang wajar dan tidak kontradiktif
dengan fitrah dan kodratnya selaku seorang wanita.
Sebelum
membahas lebih jauh antara emansipasi dan kesetaraan gender, mari kita lihat
maksud dan arti dari keduanya. Emansipasi berarti memberikan hak yang
sepatutnya diberikan kepada orang atau sekumpulan orang dimana hak tersebut
sebelumnya dirampas atau diabaikan dari jiwa dan raga mereka (kaum perempuan-pen). Dimana refleksi emansipasi yang
diperjuangkan oleh Raden Ajeng Kartini adalah untuk membawa perubahan besar
kepada perempuan Indonesia, yaitu perjuangan menuntut hak pendidikan bagi
perempuan. Karena kita ketahui bahwa di zaman dahulu, pendidikan bagi
perempuan ataupun kaum pribumi adalah hal yang sangat tabu dan sangat sulit
untuk diperoleh.
Sedangkan
kesetaraan gender adalah suatu keadaan setara dimana antara pria dan
wanita dalam hak (hukum) dan kondisi (kualitas hidup) adalah sama. Gender
adalah pembagian peran, atribut, sifat, sikap dan perilaku yang tumbuh dan
berkembang dalam masyarakat. Dan peran gender terbagi menjadi peran produktif,
peran reproduksi serta peran sosial kemasyarakatan.
Semangat
emansipasi wanita dalam hal persamaan hak dan kewajiban, sesuatu yang memang
harus diperjuangkan, karena emansipasi
wanita pada hakikatnya adalah suatu upaya memperjuangkan hak wanita yang masih
dalam kode etik wanita menghormati laki-laki, baik dalam lini
pendidikan, ekonomi, politik, sosial, maupun budaya. Mengutip apa yang
diungkapkan oleh seorang Abraham Lincoln sang pembebas perbudakan di Amerika
Serikat tiga abad silam bahwa; Kita jangan
pernah menjadi Budak dan kita janganlah pula menjadi Tuan, karena kita semua memiliki derajat yang
sama dihadapan Tuhan.
Emansipasi
wanita yang harus kita dukung adalah emansipasi yang berorientasi kepada gerakan
moral yang mampu memberdayakan kaum perempuan (empowering women) guna
mempertegas kiprah perempuan sebagai pribadi yang mandiri, terampil, santun,
tauladan bagi keluarga, negara dan bangsanya. Bukankah sering kita dengar
adagium wanita sebagai Tiang negara, penyangga dan pengayom semua anak manusia?
Dan bukankah sering pula kita dengar bahwa dibalik kesuksesan yang diraih oleh
para pemimpin besar dunia, selalu saja ada peran wanita yang maha hebat
dibaliik itu semua, jika tidak istrinya, saudaranya, pastilah perempuan itu adalah
ibundanya yang telah bersusah payah mengandung, melahirkan, dan membesarkannya
di dunia nan fana ini.
Sejatinya,
semangat emansipasi bagi kaum perempuan Indonesia adalah emansipasi yang
konstruktif bukan dekonstruktif, emansipasi yang mampu membangun kualitas hidup
bukan emansipasi yang hanya menghabiskan waktu hidup kaum perempuan. Emansipasi
hendaknya dimaknai sebagai energi positif yang mampu memanusiakan nilai-nilai
kemanusiaan bukan malah sebaliknya.
Kalaupun
kita boleh jujur, jauh sebelum para aktivis barat memboomingkan kata feminisme melalui gerakan emansipasinya, para
muslimah Timur Tengah telah sukses menanamkan keteladanan fungsi dan peran
sejatinya seorang perempuan. Tengok saja, ada Khadijah yang saudagar kaya, ada
Aisyah yang negarawan, ada Fatimah yang pejuang, dan ada Masyitoh yang
konsisten dengan aqidahnya melawan keangkuhan Sang Fir’aun Mesir si Tuhan Palsu.
Lantas, berangkat dari realitas emansipasi yang diusung oleh
perempuan-perempuan barat yang menuntut kesamaan dalam berbagai hal terhadap cliennya kaum pria barat yang
heteroseksual, di rasa ada citarasa yang beda, hambar. Semangat emansipasi
wanita barat lebih berorientasi kepada kebebasan yang kebablasan dan bebas
nilai.
Melalui
media massa, sering kita saksikan keperibadian wanita barat yang mirip dengan
laki-laki baik dari sisi pakaian yang dikenakan maupun dari sisi psikologis.
Pekerjaan-pekerjaan kasar yang semestinya digarap hanya oleh kaum lelaki, tak
luput di intervensi oleh kaum wanita, seperti halnya wanita yang menjadi sopir
truk, pilot pesawat terbang, buruh tambang, binaraga, dan sebagainya. Sehingga,
tidaklah mengherankan banyak diantara mereka yang mengalami deviasi psikologis atau penyimpangan
kejiwaan.
Secara fisik
mereka adalah perempuan, namun karena intensitas
yang terlalu sering bersentuhan dg aktivitas kaum pria, pada akhirnya mereka
merasa menjadi seorang pria. Berikutnya, sudah dapat diterka, muncullah perilaku menyimpang di tengah
masyarakat barat yang kontradiktif atasnama kebebasan dan emansipasi seperti
halnya Homo seksual, Lesbian, Nudies, bahkan psikopat dan sadisme.
Tentunya,
bukan gerakan emansipasi seperti ini yang layak di induksikan di negeri ini,
karena jelas menegasikan fungsi agama
dengan Tuhannya, merusak sendi-sendi tatanan moral dan sosial, serta lambat
ataupun cepat akan menghancurkan nilai-nilai ketauhidan dan aqidah umat di masa
yang akan datang. Sejatinya emansiapasi perempuan Indonesia adalah kebebasan
yang bertanggungjawab dan tidak merugikan orang lain.
Kiranya perlu
menjadi catatan untuk kita semua, muliakanlah kaum perempuan, karena ibunda
kita semua adalah seorang perempuan. Hormatilah ia yang telah mengorbankan
separuh jiwa dan raganya demi buah hati tercinta. Junjunglah ia ditempat
tertinggi di bumi ini. Pergaulilah ia dengan kelembutan dan keikhlasan, rendahkanlah
tubuh dan suaramu ketika berada dihadapannya, dan lantunkanlah selaksa doa kebaikan
sebagai wujud penghormatan serta pengabdian kita kepada Ibunda tercinta.
Akhirnya, penulis ucapkan selamat Hari Perempuan Sedunia yang jatuh pada
tanggal 8 Maret, dan selamat Hari Kartini pada tanggal 21 April yang akan
datang. Karena engkau seorang wanita, maka muliakanlah dirimu. (Wassalam-Penulis).
Cianjur, 12 Maret 2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar