Selasa, 14 Juni 2016

MENAKAR HARGA PEREMPUAN

MENAKAR HARGA PEREMPUAN
“ Karena Engkau Wanita, maka Muliakanlah Dirimu ”

Oleh: Ridwan Mubarack
(Penulis Bergiat di Forum Dosen Muda/ FORDEM, UIN SGD Bandung,UNSUR, UNPI, ICMI-Muda, Lingkar Studi Kampus, dan Ketua KSN Jawa Barat)

“ Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya dengan cara yang ma’ruf ” (Qur’an Surah Al Baqarah:228)

Peranan kaum Hawa dalam mewujudkan tatanan kehidupan umat dalam berbangsa dan bernegara sangatlah kentara, karena seyogianya, para pemimpin negeri ini siapapun dia, berikut juga kita, terlahir dari rahimnya seorang perempuan, yakni ibu kita selaku orangtua biologis sang perempuan yang sering kita wacanakan dalam ruang-ruang publik. Diakui atau tidak pada saat ini peranan wanita sangatlah besar dalam berbagai bidang. Baik dalam bidang  pendidikan, sosial, budaya, ekonomi, bahkan peranan wanita telah kita rasakan diranah publik, seperti halnya politik melalui keterwakilannya di angka 30 % anggota parlemen. Itu artinya, wanita dapat memajukan bangsa dan negara melalui SDM yang dimiliki oleh wanita itu sendiri.
Kaum hawa ataupun kaum perempuan merupakan sosok unik, eksotik sekaligus menarik dengan segala kelebihan dan keterbatasannya. Saking menariknya sosok seorang perempuan, sekian banyak adagium, sabda, dan firman Tuhan bercerita tentang kemuliaan mereka. Saking Tuhan memuliakan perempuan, tak tanggung-tanggung, Ia menyematkan salahsatu Asma-Nya dalam Asmaul Husna (Nama-nama Allah SWT yang baik) pada struktur anatomis tubuh perempuan yakni Ar-Rahiim yang berarti maha penyayang.
Dalam struktur anatomis tubuh pria, tidak ada yang namanya rahim, karena rahim memang menjadi monopoli semua kaum wanita, lelaki tidak. Lantas dalam beberapa keterangan, adapula yang menyatakan bahwa Allah Swt telah menciptakan sekokoh-kokohnya tempat bagi mahluk-mahluknya, dan bukannya gunung dengan puncaknya yang menjulang serta lautan samudera dengan ombaknya yang menggelora, melainkan rahimnya seorang perempuan. Sungguh perempuan adalah mahluk yang mulia bagi mereka yang bisa menjaga kehormatannya.
Perempuanpun memperoleh kemuliaan dan penghargaan yang tinggi dihadapan Muhammad Rasulullah SAW, sebagaimana sabdanya “bahwa Syurga berada di bawah telapak kaki Ibu”. Kemudian pernah pula seorang sahabat bertanya kepada Baginda Rasulullah tentang siapa yang harus terlebih dahulu dihormati dan dipatuhi perkataannya, maka Baginda Rasulullahpun tegas menjawab, Ibumu...Ibumu...Ibumu lantas kemudian barulah Bapakmu.
Dalam literatur kesusasteraan kita, banyak pula yang menyuarakan peran besar seorang perempuan seperti halnya kesusteraan Balai Pustaka dengan novel Azab dan Sengsara karya Merari Siregar, Layar Terkembang karya Sutan Takdir Alisjahbana, Apa dayaku karena aku seorang perempuan karya Sutan Nur Iskandar, Siti Nurbaya karya Marah Rusli, Nyai Ontosoroh dalam Tetralogi Pulau Buru, dan masih banyak lagi tulisan-tulisan lainnya yang berkisah tentang perjuangan panjang perempuan Indonesia guna memperoleh hak-haknya.
Perempuan, ya dialah perempuan yang telah banyak melahirkan kisah kemanusiaan dan tragedi peradaban zaman. Hanya karena kerelaanyalah manusia sukses bermetamorfosis dan berregenerasi sejak zaman Adam-Hawa hingga zaman Alvin-Hellen sekarang ini. Tentunya tiadalah terbayangkan ketika Tuhan hanya mencipta lelaki saja, dan tentulah tiada elok pula ketika Tuhan hanya mencipta kaum perempuan saja di dunia ini, karena pada dasarnya baik laki-laki ataupun wanita sama-sama berketergantungan satu sama lain dan saling melengkapi diantara keduanya. Tidak ada superioritas maupun inferioritas gender ketika berbicara hak (hukum) dan kondisi (kualitas hidup) karena keduanya adalah sama.  
Menilik akan arti penting sosok seorang perempuan dalam hidup ini, bijaklah pula kita merespon dengan baik dan tangan terbuka terkait dengan wacana-wacana feminisme yang menjadikan isu emansispasi wanita sebagai central dialektika. Dipelopori oleh sang pioner emansipasi wanita, Raden Ajeng Kartini yang melegenda dengan kutipan bukunya “Habis gelap terbitlah terang” munculah istilah emansipasi wanita dan kesetaraan gender yang ngetrend itu.  Konon katanya, berkat jasa beliau pulalah, di era globalisasi saat ini peran wanita di luar rumah dan keluarga bukanlah sesuatu hal yang tabu untuk dilakukan, asalkan masih dalam batas-batas yang wajar dan tidak kontradiktif dengan fitrah dan kodratnya selaku seorang wanita.  
Sebelum membahas lebih jauh antara emansipasi dan kesetaraan gender, mari kita lihat maksud dan arti dari keduanya. Emansipasi berarti memberikan hak yang sepatutnya diberikan kepada orang atau sekumpulan orang dimana hak tersebut sebelumnya dirampas atau diabaikan dari jiwa dan raga mereka (kaum perempuan-pen). Dimana refleksi emansipasi yang diperjuangkan oleh Raden Ajeng Kartini adalah untuk membawa perubahan besar kepada perempuan Indonesia, yaitu perjuangan menuntut hak pendidikan bagi perempuan. Karena kita ketahui bahwa di zaman dahulu, pendidikan bagi perempuan ataupun kaum pribumi adalah hal yang sangat tabu dan sangat sulit untuk diperoleh.
Sedangkan  kesetaraan gender adalah suatu keadaan setara dimana antara pria dan wanita dalam hak (hukum) dan kondisi (kualitas hidup) adalah sama. Gender adalah pembagian peran, atribut, sifat, sikap dan perilaku yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakat. Dan peran gender terbagi menjadi peran produktif, peran reproduksi serta peran sosial kemasyarakatan.
Semangat emansipasi wanita dalam hal persamaan hak dan kewajiban, sesuatu yang memang harus diperjuangkan, karena emansipasi wanita pada hakikatnya adalah suatu upaya memperjuangkan hak wanita yang masih dalam kode etik wanita menghormati laki-laki, baik dalam lini pendidikan, ekonomi, politik, sosial, maupun budaya. Mengutip apa yang diungkapkan oleh seorang Abraham Lincoln sang pembebas perbudakan di Amerika Serikat tiga abad silam bahwa; Kita jangan pernah menjadi Budak dan kita janganlah pula menjadi  Tuan, karena kita semua memiliki derajat yang sama dihadapan Tuhan. 
Emansipasi wanita yang harus kita dukung adalah emansipasi yang berorientasi kepada gerakan moral yang mampu memberdayakan kaum perempuan (empowering women) guna mempertegas kiprah perempuan sebagai pribadi yang mandiri, terampil, santun, tauladan bagi keluarga, negara dan bangsanya. Bukankah sering kita dengar adagium wanita sebagai Tiang negara, penyangga dan pengayom semua anak manusia? Dan bukankah sering pula kita dengar bahwa dibalik kesuksesan yang diraih oleh para pemimpin besar dunia, selalu saja ada peran wanita yang maha hebat dibaliik itu semua, jika tidak istrinya, saudaranya, pastilah perempuan itu adalah ibundanya yang telah bersusah payah mengandung, melahirkan, dan membesarkannya di dunia nan fana ini.  
Sejatinya, semangat emansipasi bagi kaum perempuan Indonesia adalah emansipasi yang konstruktif bukan dekonstruktif, emansipasi yang mampu membangun kualitas hidup bukan emansipasi yang hanya menghabiskan waktu hidup kaum perempuan. Emansipasi hendaknya dimaknai sebagai energi positif yang mampu memanusiakan nilai-nilai kemanusiaan bukan malah sebaliknya.
Kalaupun kita boleh jujur, jauh sebelum para aktivis barat memboomingkan kata feminisme melalui gerakan emansipasinya, para muslimah Timur Tengah telah sukses menanamkan keteladanan fungsi dan peran sejatinya seorang perempuan. Tengok saja, ada Khadijah yang saudagar kaya, ada Aisyah yang negarawan, ada Fatimah yang pejuang, dan ada Masyitoh yang konsisten dengan aqidahnya melawan keangkuhan Sang Fir’aun Mesir si Tuhan Palsu. Lantas, berangkat dari realitas emansipasi yang diusung oleh perempuan-perempuan barat yang menuntut kesamaan dalam berbagai hal terhadap cliennya kaum pria barat yang heteroseksual, di rasa ada citarasa yang beda, hambar. Semangat emansipasi wanita barat lebih berorientasi kepada kebebasan yang kebablasan dan bebas nilai.
Melalui media massa, sering kita saksikan keperibadian wanita barat yang mirip dengan laki-laki baik dari sisi pakaian yang dikenakan maupun dari sisi psikologis. Pekerjaan-pekerjaan kasar yang semestinya digarap hanya oleh kaum lelaki, tak luput di intervensi oleh kaum wanita, seperti halnya wanita yang menjadi sopir truk, pilot pesawat terbang, buruh tambang, binaraga, dan sebagainya. Sehingga, tidaklah mengherankan banyak diantara mereka yang mengalami deviasi psikologis atau penyimpangan kejiwaan.
Secara fisik mereka adalah perempuan, namun karena intensitas yang terlalu sering bersentuhan dg aktivitas kaum pria, pada akhirnya mereka merasa menjadi seorang pria. Berikutnya, sudah dapat diterka,  muncullah perilaku menyimpang di tengah masyarakat barat yang kontradiktif atasnama kebebasan dan emansipasi seperti halnya Homo seksual, Lesbian, Nudies, bahkan psikopat dan sadisme.
Tentunya, bukan gerakan emansipasi seperti ini yang layak di induksikan di negeri ini, karena jelas menegasikan fungsi agama dengan Tuhannya, merusak sendi-sendi tatanan moral dan sosial, serta lambat ataupun cepat akan menghancurkan nilai-nilai ketauhidan dan aqidah umat di masa yang akan datang. Sejatinya emansiapasi perempuan Indonesia adalah kebebasan yang bertanggungjawab dan tidak merugikan orang lain.
Kiranya perlu menjadi catatan untuk kita semua, muliakanlah kaum perempuan, karena ibunda kita semua adalah seorang perempuan. Hormatilah ia yang telah mengorbankan separuh jiwa dan raganya demi buah hati tercinta. Junjunglah ia ditempat tertinggi di bumi ini. Pergaulilah ia dengan kelembutan dan keikhlasan, rendahkanlah tubuh dan suaramu ketika berada dihadapannya, dan lantunkanlah selaksa doa kebaikan sebagai wujud penghormatan serta pengabdian kita kepada Ibunda tercinta. Akhirnya, penulis ucapkan selamat Hari Perempuan Sedunia yang jatuh pada tanggal 8 Maret, dan selamat Hari Kartini pada tanggal 21 April yang akan datang. Karena engkau seorang wanita, maka muliakanlah dirimu. (Wassalam-Penulis).


                                                                                               

Cianjur, 12 Maret 2014




Tidak ada komentar: