CENDEKIAWAN DIPERSIMPANGAN KIRI JALAN
“Mempertegas Citra Diri sebagai
Manusia Idealis ataukah Opportunis”
Oleh: Ridwan Mubarack
HP. 081809448318
(Penulis Adalah Ketua Forum Dosen Muda/ FORDEM Cianjur
dan bergiat
di UNPI, UNSUR, UT, dan UIN Bandung)

“Kamu adalah umat yang
terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah
dari yang munkar, dan beriman kepada Allah SWT “.
(Al-Qur’an,
S.Ali Imran: 110)
Secara umum, seorang Cendekiawan adalah
mereka kaum cerdik pandai yang terdidik secara akademik dan secara sosial serta
mendarmabaktikan seluruh hidupnya, seutuhnya untuk mengawal moralitas manusia,
menegakan idealisme, dan memperjuangkan kebenaran. Seorang Cendekiawan
merupakan manusia-manusia langka dengan jumlah yang sangat terbatas (limited
edition) yang Tuhan cipta di alam raya ini untuk selalu tegar menyuarakan
kebenaran. Kebenaran dalam pengertian benar menurut aturan agama, benar menurut
negara, dan benar menurut etika dan moral yang berkembang di tengah masyarakat.
Dalam haditsnya Baginda Rasulullah SAW bersabda, bahwa Jihad yang paling sempurna bagi manusia adalah menyampaikan kata
kebenaran kepada penguasa yang dzalim.
Seorang Cendekiawan, memiliki kapasitas untuk memyempaikan kebenaran,
jika tidak, ia tak lebih dari seonggok daging tanpa jiwa.
Cendekiawan adalah manusia pilihan Tuhan
yang megemban tugas suci untuk mempertegas sesuatu yang hak adalah hak, dan
yang bathil adalah bathil. Jika sebaliknya, maka ia bukanlah Cendekiawan,
melainkan oknum Cendekiawan ataupun (meminjam istilah teman) mereka adalah para
pelacur akademis yang menuhankan
gelar dan jabatan, tanpa sedikitpun berempati dengan penderitann kemiskinan,
pendzaliman, dan pembodohan terstruktur oleh para penguasa yang selalu mereka
(oknum Cendekiawan) bela. Mereka membela penguasa, dan tidak berpihak kepada
rakyat kecil, karena oknum Cendekiawan tersebut telah terjebak dalam apa yang
namanya “Al Wahn” atau sikap cinta dunia berlebihan dan takut pada
kematian. Mereka terjebak dalam lingkaran kekuasaan yang melenakan dan
mematikan naluri kemanusiaan yang seharusnya mereka gunakan sebagai pisau
analisa terhadap realitas.
Secara khusus, Cendekiawan atau intelektual ialah orang yang
menggunakan kecerdasannya untuk bekerja, belajar,
membayangkan, mengagas, atau menyoal dan menjawab persoalan tentang
berbagai gagasan. Kata cendekiawan sendiri berasal dari Chanakya, seorang politikus
pada zaman pemeritahan Chandragupta dari Kekaisaran Maurya (sumber Ensiklopedia). Secara umum, terdapat
tiga pengertian modern untuk istilah "cendekiawan", yaitu mereka yang
terlibat dalam idea-idea dan buku-buku, mereka yang mempunyai keahlian
dalam budaya dan seni yang
memberikan mereka kewibawaan kebudayaan, dan yang kemudian mempergunakan
kewibawaan itu untuk mendiskusikan perkara-perkara lain di khalayak ramai, golongan
ini dipanggil sebagai "intelektual budaya".
Dari
sudut pandang Marxisme, mereka yang tergolong dalam kaum Cendekiawan
adalah dosen, guru, pendidik, pengacara, wartawan, dan sebagainya. Oleh karena itu, cendekiawan sering
dikaitkan dengan mereka yang lulusan universitas. Namun, Sharif Shaary, dramawan Malaysia terkenal tersebut, mengatakan bahwa
pada hakikatnya tidak semudah itu. Ia
berkata bahwa "Belajar di
universitas bukan jaminan seseorang dapat menjadi cendekiawan, seorang cendekiawan adalah pemikir yang
sentiasa berpikir dan mengembangkan (serta) menyumbangkan gagasannya untuk
kesejahteraan masyarakat. Ia juga adalah seseorang yang mempergunakan ilmu dan
ketajaman pikirannya untuk mengkaji, menganalisis, merumuskan segala perkara
dalam kehidupan manusia, terutama masyarakat di mana ia hadir khususnya dan
ditingkat internasional untuk mencari kebenaran dan menegakkan kebenaran itu. Lebih dari itu, seorang intelektual
juga seseorang yang mengenali
kebenaran dan juga berani memperjuangkan kebenaran, meskipun menghadapi tekanan
dan ancaman, terutama sekali kebenaran, kemajuan, dan perjuangan untuk
kebebasan rakyat". Jelas sudah bahwa Cendekiawan adalah mereka yang selalu
konsisten menyuarakan kebenaran, meskipun itu pahit.
Di
Indonesia, tentu kita mengenal ICMI ataupun Ikatan Cendekiawan Muslim
Indonesia. Untuk level internasional kitapun tentu pernah mendengar perhimpunan
I-4 (Ikatan Ilmuwan Indonesia Internasional). Untuk organisasi yang pertama
ICMI, debut kariernya sudah kita kenal sejak era tahun 90-an dengan Burhanudin
Jusuf Habiebie sebagai pilot dari organisasi hebat ini. ICMI pada awal-awal
pembentukannya cukup intens dan vokal terhadap kebijakan-kebijakan pemerintah yang
dirasa tidak populis dimata rakyat Indonesia saat itu. Namun dalam konteks
kekiniaan, peran ICMI, terlebih di tingkatan lokal Kabupaten Cianjur dirasakan
hampa dan mandul. Kejelian naluri para aktivis ICMI untuk mau membaca dan
memperjuangkan hak-hak masyarakat Cianjur yang tertindas karena suatu sistem
pemerintahan yang hegemonik, tidak nampak di ruang-ruang publik. ICMI alpa
dalam menyuarakan kebenaran dan larut dalam ejakulasi
kekuasaan. Yang ada hanyalah hingar bingar acara-acara seremonial yang
cenderung melanggengkan tradisi
masyarakat parlente. Pun demikian
dengan para Cendekiawan yang ada di ruang-ruang menara gading kampus-kampus
besar di Kabupaten Cianjur, tidak nampak satu gereget untuk melakukan gerakan perbaikan,
penyadaran kolektif terhadap masyarakat, terkait dengan kondisi Cianjur yang amburadul manakala berbicara sistem.
Parameter
besarnya sebuah kampus, bukan semata karena banykanya fasilitas infrastruktur (bangunan
fisik) yang dibangun, bukan pula karena banyaknya jumlah mahasiswa yang mendaftar
dan terdaftar sebagai mahasiswa di kampus tersebut. Lebih dari itu, kualitas
sebuah kampus secara moral akademik akan dinilai berhasil manakala segenap
masyarakat kampus yang terlibat di dalamnya, mulai dari rektor hingga
mahasiswa, berani menyuarakan kebenaran dihadapan para penguasa yang lalim,
apapunn resikonya. Membangun mental pejuang dan manusia penyadar ditengah
rusaknya moral umat adalah perjuangan yang sangat mulia, inilah jihad yang sebenarnya, inilah jalan
pedang yang harus ditempuh oleh segenap Cendekiawan yang ada di negeri ini,
wabilkhusus di Kabupaten Cianjur. Sikap diamnya seorang Cendekiawan terhadap
penguasa yang lalim, adalah kejahatan kemanusiaan yang paling mengerikan dalam
sejarah peradaban manusia, dan ini termasuk dalam kategori Crime of Silent ataupun kejahatan dalam diam.
Lantas
bagaimna dengan para oknum Cendekiawan, yang malah larut dan terekstasi dalam lingkaran penguasa?.
Mereka terlena oleh jabatan dan kekuasaan yang diberikan penguasa sebagai kompensasi atas diamnya mereka, atau
atas usahanya (konspirasi licik) membantu penguasa membodohi umat dan
melanggengkan kekuasaan korup, jelas ini adalah suatu kejahatan kemanusiaan
yang tidak bermoral. Inilah yang sering penulis istilahkan sebagai malapraktik
dalam dunia akademik, inilah pelacuran kaum intelek yang nyata. Meminjam
istilah Imam Al-Gahazali dalam salahsatu kitabnya, sebaik-baiknya manusia
diantara kalian adalah umara
(pemimpin) yang selalu mengikuti ulama (cerdik pandai), dan seburuk-buruknya
manusia diantara kamu adalah ulama yang selalu mengikuti umara, serta berdiam
diri atas kerusakan yang diperbuat oleh penguasa. Menjadi ulama sejati yang
diridhai Allah SWT ataukah menjadi ulama su’u yang dibenci Allah SWT adalah dua
pilihan yang sama besar, dengan kadar nilai yang sangat berbeda, anda manusia
dewasa, memilihlah.
Untuk
mempertegas ketokohan anda sebagai Cendekiawan (dosen, guru, pendidik, ustadz,
dsb) yang bertanggungjawab secara sosial dan moral terhadap kemaslahatan umat,
momentum politik lokal pilkada 09 Desember 2015 yang akan datang akan menjadi
penegas kualitas saudara yang sesungguhnya. Momentum Pilkada akan menjadi garis
demarkasi mana Cendekiawan, dan mana oknum Cendekiawan yang berkhianat terhadap
nilai-nilai kemanusiaan, Pilkada akan
menjadi indikator layak dan tidaknya saudara mengemban status sebagai Cendekiawan,
sebagai sang pencerah ditengah kegelapan moral. Atau, bagi anda para oknum Cendekiawan yang
kini tengah tersesat dalam pesta-pesta penguasa, dan terpesona oleh badut-badut
birokrasi, segeralah kembali ke jalan yang benar, dan camkanlah bahwa tiada
pesta yang tidak berakhir, selalu ada ujung diatas panjangnya jalan kehidupan,
dan senantiasa ada garis finish dalam setiap pertandingan. Cianjur kini
membutuhkan Perubahan ke arah yang lebih memanusiakan, dan saudaralah agen perubahan
yang sesungguhnya yang telah Allah pilihkan. (Wassalam) * Disarikan dari
berbagai sumber.
Cianjur,
06 Oktober 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar