Selasa, 14 Juni 2016

CENDIKIAWAN YANG HYPOKRIT

CENDEKIAWAN DIPERSIMPANGAN KIRI JALAN
“Mempertegas Citra Diri sebagai Manusia Idealis ataukah Opportunis”

Oleh: Ridwan Mubarack
HP. 081809448318
(Penulis Adalah Ketua Forum Dosen Muda/ FORDEM Cianjur dan bergiat
di UNPI, UNSUR, UT, dan UIN Bandung)

IMG-20141206-WA0028
“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah SWT “.
 (Al-Qur’an, S.Ali Imran: 110)

Secara umum, seorang Cendekiawan adalah mereka kaum cerdik pandai yang terdidik secara akademik dan secara sosial serta mendarmabaktikan seluruh hidupnya, seutuhnya untuk mengawal moralitas manusia, menegakan idealisme, dan memperjuangkan kebenaran. Seorang Cendekiawan merupakan manusia-manusia langka dengan jumlah yang sangat terbatas (limited edition) yang Tuhan cipta di alam raya ini untuk selalu tegar menyuarakan kebenaran. Kebenaran dalam pengertian benar menurut aturan agama, benar menurut negara, dan benar menurut etika dan moral yang berkembang di tengah masyarakat. Dalam haditsnya Baginda Rasulullah SAW bersabda, bahwa Jihad yang paling sempurna bagi manusia adalah menyampaikan kata kebenaran kepada penguasa yang dzalim.  Seorang Cendekiawan, memiliki kapasitas untuk memyempaikan kebenaran, jika tidak, ia tak lebih dari seonggok daging tanpa jiwa.
Cendekiawan adalah manusia pilihan Tuhan yang megemban tugas suci untuk mempertegas sesuatu yang hak adalah hak, dan yang bathil adalah bathil. Jika sebaliknya, maka ia bukanlah Cendekiawan, melainkan oknum Cendekiawan ataupun (meminjam istilah teman) mereka adalah para pelacur akademis yang menuhankan gelar dan jabatan, tanpa sedikitpun berempati dengan penderitann kemiskinan, pendzaliman, dan pembodohan terstruktur oleh para penguasa yang selalu mereka (oknum Cendekiawan) bela. Mereka membela penguasa, dan tidak berpihak kepada rakyat kecil, karena oknum Cendekiawan tersebut telah terjebak dalam apa yang namanya “Al Wahn” atau sikap cinta dunia berlebihan dan takut pada kematian. Mereka terjebak dalam lingkaran kekuasaan yang melenakan dan mematikan naluri kemanusiaan yang seharusnya mereka gunakan sebagai pisau analisa terhadap realitas.
Secara khusus, Cendekiawan atau intelektual ialah orang yang menggunakan kecerdasannya untuk bekerja, belajar, membayangkan, mengagas, atau menyoal dan menjawab persoalan tentang berbagai gagasan. Kata cendekiawan sendiri berasal dari Chanakya, seorang politikus pada zaman pemeritahan Chandragupta dari Kekaisaran Maurya (sumber Ensiklopedia). Secara umum, terdapat tiga pengertian modern untuk istilah "cendekiawan", yaitu mereka yang terlibat dalam idea-idea dan buku-buku, mereka yang mempunyai keahlian dalam budaya dan seni yang memberikan mereka kewibawaan kebudayaan, dan yang kemudian mempergunakan kewibawaan itu untuk mendiskusikan perkara-perkara lain di khalayak ramai, golongan ini dipanggil sebagai "intelektual budaya".
Dari sudut pandang  Marxisme, mereka yang tergolong dalam kaum Cendekiawan adalah dosenguru, pendidik,  pengacarawartawan, dan sebagainya. Oleh karena itu, cendekiawan sering dikaitkan dengan mereka yang lulusan universitas. Namun, Sharif Shaarydramawan Malaysia terkenal tersebut, mengatakan bahwa pada  hakikatnya tidak semudah itu. Ia berkata bahwa "Belajar di universitas bukan jaminan seseorang dapat menjadi cendekiawan,  seorang cendekiawan adalah pemikir yang sentiasa berpikir dan mengembangkan (serta) menyumbangkan gagasannya untuk kesejahteraan masyarakat. Ia juga adalah seseorang yang mempergunakan ilmu dan ketajaman pikirannya untuk mengkaji, menganalisis, merumuskan segala perkara dalam kehidupan manusia, terutama masyarakat di mana ia hadir khususnya dan ditingkat internasional untuk mencari kebenaran dan menegakkan kebenaran itu. Lebih dari itu, seorang intelektual juga seseorang yang mengenali kebenaran dan juga berani memperjuangkan kebenaran, meskipun menghadapi tekanan dan ancaman, terutama sekali kebenaran, kemajuan, dan perjuangan untuk kebebasan rakyat". Jelas sudah bahwa Cendekiawan adalah mereka yang selalu konsisten menyuarakan kebenaran, meskipun itu pahit.
Di Indonesia, tentu kita mengenal ICMI ataupun Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia. Untuk level internasional kitapun tentu pernah mendengar perhimpunan I-4 (Ikatan Ilmuwan Indonesia Internasional). Untuk organisasi yang pertama ICMI, debut kariernya sudah kita kenal sejak era tahun 90-an dengan Burhanudin Jusuf Habiebie sebagai pilot dari organisasi hebat ini. ICMI pada awal-awal pembentukannya cukup intens dan vokal terhadap kebijakan-kebijakan pemerintah yang dirasa tidak populis dimata rakyat Indonesia saat itu. Namun dalam konteks kekiniaan, peran ICMI, terlebih di tingkatan lokal Kabupaten Cianjur dirasakan hampa dan mandul. Kejelian naluri para aktivis ICMI untuk mau membaca dan memperjuangkan hak-hak masyarakat Cianjur yang tertindas karena suatu sistem pemerintahan yang hegemonik, tidak nampak di ruang-ruang publik. ICMI alpa dalam menyuarakan kebenaran dan larut dalam ejakulasi kekuasaan. Yang ada hanyalah hingar bingar acara-acara seremonial yang cenderung  melanggengkan tradisi masyarakat parlente. Pun demikian dengan para Cendekiawan yang ada di ruang-ruang menara gading kampus-kampus besar di Kabupaten Cianjur, tidak nampak satu gereget untuk melakukan gerakan perbaikan, penyadaran kolektif terhadap masyarakat, terkait dengan kondisi Cianjur yang amburadul manakala berbicara sistem.
Parameter besarnya sebuah kampus, bukan semata karena banykanya fasilitas infrastruktur (bangunan fisik) yang dibangun, bukan pula karena banyaknya jumlah mahasiswa yang mendaftar dan terdaftar sebagai mahasiswa di kampus tersebut. Lebih dari itu, kualitas sebuah kampus secara moral akademik akan dinilai berhasil manakala segenap masyarakat kampus yang terlibat di dalamnya, mulai dari rektor hingga mahasiswa, berani menyuarakan kebenaran dihadapan para penguasa yang lalim, apapunn resikonya. Membangun mental pejuang dan manusia penyadar ditengah rusaknya moral umat adalah perjuangan yang sangat mulia,  inilah jihad yang sebenarnya, inilah jalan pedang yang harus ditempuh oleh segenap Cendekiawan yang ada di negeri ini, wabilkhusus di Kabupaten Cianjur. Sikap diamnya seorang Cendekiawan terhadap penguasa yang lalim, adalah kejahatan kemanusiaan yang paling mengerikan dalam sejarah peradaban manusia, dan ini termasuk dalam kategori Crime of Silent ataupun kejahatan dalam diam.
Lantas bagaimna dengan para oknum Cendekiawan, yang malah larut dan terekstasi dalam lingkaran penguasa?. Mereka terlena oleh jabatan dan kekuasaan yang diberikan penguasa sebagai kompensasi atas diamnya mereka, atau atas usahanya (konspirasi licik) membantu penguasa membodohi umat dan melanggengkan kekuasaan korup, jelas ini adalah suatu kejahatan kemanusiaan yang tidak bermoral. Inilah yang sering penulis istilahkan sebagai malapraktik dalam dunia akademik, inilah pelacuran kaum intelek yang nyata. Meminjam istilah Imam Al-Gahazali dalam salahsatu kitabnya, sebaik-baiknya manusia diantara kalian adalah umara (pemimpin) yang selalu mengikuti ulama (cerdik pandai), dan seburuk-buruknya manusia diantara kamu adalah ulama yang selalu mengikuti umara, serta berdiam diri atas kerusakan yang diperbuat oleh penguasa. Menjadi ulama sejati yang diridhai Allah SWT ataukah menjadi ulama su’u yang dibenci Allah SWT adalah dua pilihan yang sama besar, dengan kadar nilai yang sangat berbeda, anda manusia dewasa, memilihlah.  
Untuk mempertegas ketokohan anda sebagai Cendekiawan (dosen, guru, pendidik, ustadz, dsb) yang bertanggungjawab secara sosial dan moral terhadap kemaslahatan umat, momentum politik lokal pilkada 09 Desember 2015 yang akan datang akan menjadi penegas kualitas saudara yang sesungguhnya. Momentum Pilkada akan menjadi garis demarkasi mana Cendekiawan, dan mana oknum Cendekiawan yang berkhianat terhadap nilai-nilai kemanusiaan,  Pilkada akan menjadi indikator layak dan tidaknya saudara mengemban status sebagai Cendekiawan, sebagai sang pencerah ditengah kegelapan moral.  Atau, bagi anda para oknum Cendekiawan yang kini tengah tersesat dalam pesta-pesta penguasa, dan terpesona oleh badut-badut birokrasi, segeralah kembali ke jalan yang benar, dan camkanlah bahwa tiada pesta yang tidak berakhir, selalu ada ujung diatas panjangnya jalan kehidupan, dan senantiasa ada garis finish dalam setiap pertandingan. Cianjur kini membutuhkan Perubahan ke arah yang lebih memanusiakan, dan saudaralah agen perubahan yang sesungguhnya yang telah Allah pilihkan. (Wassalam) * Disarikan dari berbagai sumber.   



                                                                                                Cianjur, 06 Oktober 2015





Tidak ada komentar: