Rabu, 20 November 2013

DUL dan PETAKA AROGANSI ORANGTUA

DUL dan PETAKA AROGANSI ORANGTUA “Mempertegas Pola Asuh Adil Terhadap Anak” Oleh: Ridwan Mubarack / 081809448318 - 085723307081 (Penulis Bergiat di UIN SGD Bandung, UNPI, UT, Unsur, dan Ketua KSN Jawa Barat) “Wahai orang-orang yang beriman janganlah harta-harta kamu dan anak-anak kamu melalaikan kamu dari mengingat Allah...“ (Al-Qur’an, 63: 9) “Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya diantara istri-istri dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu...“ (Alqur’an, 64: 14) “Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan...” (Al-Qur’an, 64: 15) Tragedi tabrakan maut di Tol Jagorawi Km 8+200, pada hari minggu (8/9) pukul 00.45 WIB menelan korban 6 tewas dan 11 orang luka berat. Dialah Abdul Qodir Jaelani (13) yang akrab disapa Dul, putra bungsu pemusik handal Ahmad Dhani yang menjadi pemicu kecelakaan lalu lintas tersebut. Publik kini dibuat akrab dengan satu kata “Dul” pasca terjadinya peristiwa maut ini. Bagaimana tidak, hampir semua media masa tanah air, baik cetak ataupun elektronik menjadikan tragedi ini sebagai headline pemberitaan selama beberapa hari secara berturut-turut, baik media masa lokal maupun nasional. Begitu istimewakah bocah ingusan yang bernama Dul ini?. Sampai-sampai, sehari setelah peristiwa tabrakan maut terjadi, media online disibukan dengan aksi penggalangan solidaritas dan belasungkawa terhadap sosok yang bernama Dul. Pertanyaan berikutnya, apakah hanya cukup dengan mengutarakan kepedulian dan belasungkawa saja? Tentu saja penulis katakan tidak. Variabel berikutnya yang akan muncul adalah, bagaimana nasib keluarga yang ditinggalkan oleh para korban tragedi lalin tersebut?, sejauhmana polisi mampu mengungkap kasus istimewa ini? dan bagaimana upaya preventif yang harus dilakukan oleh orangtua agar putra-putrinya tidak menjadi petaka bagi keselamatan nyawa orang lain? Inilah dia hal pokok yang wajib kita renungkan bersama-sama. Karena hal ini tidak sekali dua kali saja terjadi, bahkan sering kali, layaknya fenomena gunung es di tengah samudera lepas. Dalam teori sederhana Psikologi Perkembangan, terdapat pernyataan “tidak ada anak yang nakal, bandel, dan salah, yang ada adalah orangtua yang tidak bisa mendidik anak-anaknya, tidak ada orangtua yang tidak bisa mendidik anak-anaknya, yang ada adalah orangtua yang tidak mau belajar metodologi mendidik dan orangtua yang tidak cermat belajar dari sejarah“. Sekian banyak tamsil dan tafsir dalam Al-Quran yang diisyaratkan kepada umat manusia tentang tatacara mendidik buah hati sang generasi nanti. Dalam surat Lukman, Ali-Imran, Yusuf, bahkan hampir setiap surat dalam Al-Quranul Karim menyinggung metodologi mendidik anak yang baik sesuai tuntunan Allah Swt, dan RasulNya. Anak layaknya cermin kedua orangtuanya, karena orangtua dan keluarga adalah madrasatul ula¸ sekolah pertama bagi anak-anaknya. Anak akan senantiasa berpotensi mencontoh apapun yang menjadi kebiasaan ibu dan bapaknya. Dalam teori Tabula Rasa yang digagas oleh Jhon Locke, anak dikiaskan sebagai kertas putih tanpa noda, tanpa cacat sedikitpun. Orangtua, keluarga, lingkungan, adalah tinta yang kerap mewarnai kertas putih itu. Merah, hijau, kelabu, biru, atau bahkan hitam pekat, tinggal pilih saja sesuai selera. Bahkan sabda Rasulullah SAW, seorang anak akan sangat bergantung kepada kedua orangtuanya dalam hal beragama sekalipun, apakah ia akan menjadi Yahudi, Nasranai, Majusi ataukah Islam, kesemuanya akan sangat berkait erat dengan peran kita selaku orangtua. Peristiwa yang menimpa si “Dul” merupakan fenomena gunung es di negeri ini. masih banyak diluar sana Dul Dul yang lain yang berpotensi menjadi biang musibah, trouble maker bagi dirinya sendiri, orangtua, keluarga, dan bahkan orang lain. Sejatinya, benar apa yang diungkapkan oleh Kak Seto Mulyadi dari Komnas Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) beberapa waktu lalu, bahwa Dul merupakan korban bukan pelaku. Namun logika sederhana kita sudah bisa menebak, ketika ada korban maka harus ada pelaku, dalam hukum kausalitas, ada sebab pasti harus ada akibat, keduanya tidak bisa berdiri sendiri-sendiri. Lantas siapa pelaku utama dari kasus kecelakaan maut ini, lagi-lagi tegas penulis utarakan, Orangtua si Dul tentunya, yakni Ahmad Dhani dan mantan isterinya Maia Septianti (Maia Ahmad). Si Dul adalah korban ketidakharmonisan dari perpisahan orangtua, ia adalah korban kelalaian dan arogansi ayah dan bundanya. Ahmad Dhani selaku ayahanda dari Dul, tentunya harus siap menghadapi tuntutan perdata (kerugian material dan imaterial) dari keluarga para korban. Lebih jauh lagi, jika benar bahwa orangtua Dul menghadiahkan mobil mewah Mitsubishi Lancer keluaran terbaru untuk putra bungsunya, padahal ia masih berusia dibawah 13 tahun, membiarkannya mengendarai sendiri tanpa SIM, jelas ini satu bentuk pelanggaran berlapis terhadap UU Lalu lintas yang dapat dituntunt dengan pasal berlapis pula. Ahmad Dhani dalam hal ini, dapat dituntut pidana karena kelalaian yang menimbulkan korban jiwa dan kerugian orang lain. Ancaman tuntutan perdata ataupun pidana cukup jelas diatur dalam UU kita. Sikap kolokan orangtua yang terkesan membiarkan anak-anaknya yang berusia dibawah umur mengendarai kendaraan baik roda empat ataupun roda dua dijalanan, sejatinya ia tengah menggali kuburnya sendiri, untuk anak dan orang lain yang berada disekitarnya. Ia tengah memberikan petaka bagi buah hatinya. Terkadang, seringpula kita jumpai orangtua yang tidak hanya bangga ketika melihat anaknya yang masih kecil, mahir menggunakan kendaraan dijalanan sambil balapan dan boncengan hingga tiga orang, yang lebih ironis lagi, orangtua mewajibkan dan memfasilitasi anak-anaknya yang masih kecil untuk bisa (dipaksa untuk bisa) mengemudi. Padahal, perilaku tersebut sebenarnya merupakan tindakan pidana, dan pelanggaran terhadap UU Lalu Lintas karena berpotensi menjadi sumber kecelakaan yang mengerikan seperti halnya pada kasus si Dul. Pola asuh orangtua yang salah terhadap anak, pada waktu selanjutnya akan menjadi bom waktu yang berujung dengan penyesalan. Memberikan ragam fasilitas hidup terhadap buah hati memang tidak ada salahnya, karena secara naluriah, orangtua yang baik pastilah akan berusaha memberikan yang terbaik pula untuk anak-anaknya. Segala apa yang dibutuhkan pasti akan dikabulkan. Setiap apa yang diperlukan harus disegerakan demi sang buah hati, pelanjut asa penerus cita. Namun, segala bentuk kepedulian dan kasih sayang kita, haruslah dilandasi oleh pemikiran yang sehat, logis-rasional, terarah dan terukur. Mendidik anak jangan Nyaah Deudeuh tapi kudu Nyaah Jeujeuh (mendidik anak hendaknya tidak membuatnya manja, tetapi harus membuatnya menjadi pribadi yang mandiri dan kuat) demikian ungkap filosofis kisunda dalam tata cara mendidik anak-anaknya. Seorang anak yang baik hasil didikan maksimal orangtuanya, meski masih di dunia ia akan membawakan syurga untuk kedua orangtuanya. Ia akan menjadi kebaikan, kebahagiaan, dan sumber cahaya bagi keluarganya, hingga tibanya Syurga di Akhirat kelak. Sebaliknya, seorang anak yang tidak baik, karena gagalnya orangtua mendidik anak-anaknya, maka ia akan menghantarkan neraka di dunia kepada keluarganya. Menjadi biang keonaran, masalah dan aib bagi keluarga hingga ke Neraka di Akhirat kelak, Naudzubillah summa naudzubillah. Biarkan Dul Dul berikutnya (anak-anak kita yang masih di bawah umur) tumbuh dan berkembang sesuai dengan usianya, selaras dengan masanya. Biarkan ia menjelama menjadi pribadi-pribadi yang “alami” matang dalam bersikap, mandiri dalam berbuat, selektif dalam bergaul, dan jujur dalam menjalani kehidupannya. Jangan paksakan anak-anak negeri ini menjadi pribadi yang dewasa sebelum waktunya, matang sebelum saatnya, karena arogansi “Kita” selaku orangtuanya. Sekiranya segala ke Akuan kita, arogansi kita, dan ambisi buta kita para orangtua yang terkesan memaksa, akan menjerumuskan putra-putri kita menjadi pribadi-pribadi yang asing ditengah keluarga, alangkah lebih baiknya kita menakar kembali apa yang sudah kita perbuat terhadap mereka. Asas proporsionalitas (adil) dalam mendidik merupakan keyword bahkan harga mati yang tidak bisa ditawar lagi. Berikan porsi asuh yang pas bagi setiap generasi kita, kini dan nanti. Jika sekiranya Ekspresi kasih sayang berlebih Ahmad Dhani terhadap Abdul Qodir Jaelani (13 th) dalam wujud memberi hadiah ulangtahun Mitsubishi Lancer menjadi pertanda “kejahatan orangtua/ arogansi” terhadap anaknya, dan menjadi sumber petaka, mengapa pula kita melakukan hal yang sama. Bukti kasih sayang orangtua terhadap buah hatinya, tidak selamanya berkonotasi kebendaan yang bersifat materialistik, lebih dari itu, ketulusan dan keikhlasan hati dalam memberi, kejujuran dalam ruang-ruang komunikasi, serta kepedulian kita dalam upaya mengawalnya tumbuh dan berkembang menjadi manusia dewasa, merupakan investasi berharga tiada tara dan tiada duanya. Kelak, yakinilah, mereka anak-anak kita, akan melakukan hal yang sama yang jauh lebih baik dan lebih bernilai terhadap anak-anak mereka, cucu dan cicit kita yang telah sukses mewarisi dan mewariskan hikmah pola asuh ideal bagi keturunannya. Wassalam (Disarikan dari berbagai sumber) Cianjur, 09 September 2013 Hormat Saya Penulis

Tidak ada komentar: