Rabu, 20 November 2013

51 PP-HIMAT

51 TAHUN HIMAT; HARAPAN dan TANTANGAN “ Suatu Upaya Memadukan Kekuatan Putera Daerah Yang Terpendar “ Oleh: Ridwan Mubarack / 081809448318 - 085723307081 (Penulis Bergiat di Forum Dosen Muda/ FORDEM, UNSUR, UNPI, UT, UIN SGD Bandung, ICMI, Mantan Ketua PP-HIMAT 2005, dan Ketua KSN Jawa Barat) “ Ceuk saha Cianjur tumpur, nupuguh Cianjur nanjur. Ceuk saha urang Cianjur joledar, nunyata urang Cianjur-mah motekar “. Kamis 22 Agustus 2013 lalu, penulis berkesempatan mengikuti acara halal bilhalal dan anjangsono Ikatan Keluarga Alumni HIMAT (Himpunan Mahasiswa Tjiandjur) lintas generasi disalahsatu rumahmakan ternama di kota Cianjur. Para pinisepuh yang juga pendiri HIMAT pada tahun 1962 yang didominasi oleh mahasiswa lulusan ITB, UI, UNPAD, IPB, dan IAIN tumplek dan “turun gunung” demi mengikuti perhelatan silaturahmi tersebut. Meski kebanyakan usia para pendiri HIMAT sudah senja, kisaran 70-80 tahun, namun semangat dan kecintaan mereka terhadap Tatar Santri ini nampak nyata dari “orasi ilmiah”, sambutan, dan diskusi yang mereka kemukakan. Komitmen pengabdian para Good Father HIMAT terhadap tanah kelahirannya, tidak perlu diragukan lagi. Meski kebanyakan dari para pinisepuh tinggal di luar Cianjur dan sukses menjadi tokoh-tokoh regional dan nasional, mereka menyempatkan diri untuk melihat lebih dekat lagi kondisi objektif HIMAT dan IKA nya saat ini. Hal yang menjadi catatan penting penulis adalah banyaknya alumni HIMAT yang eksis dan manggung di level nasional ataupun regional. Sebutlah saja Ir. Yustika Baharsjah mantan menteri pertanian era orde baru, Prof. Yuyun Muslim Taher pemilik Universitas Jayabaya Jakarta dan UNPI Cianjur, Ir. M. Kohar pakar pertambangan Kementerian ESDM, Prof., Dr. Hedi (putera Dr. Sumedi Cianjur dulu; mohon maaf jika salah) spesialis paru-paru dan penyakit dalam yang juga pimpinan R.S ASRI Jakarta, Ir. Dudun pemilik Intan Hotel Purwakarta, Drs. Benyamin Dudih mantan Bupati Purwakarta dua kali periode, Muslih Abdussyukur Walikota Sukabumi, Dedi Ridwan, M.Sc alumnus Wels University Inggris yang juga Purek 1 UNPI Cianjur, Prof., DR. Atjep Djajuli Guru Besar UIN SGD Bandung, dan masih banyak lagi yang lainnya yang tidak dapat disebutkan satu persatu. Untuk skup lokal dan regional, publik Cianjur tentunya sudah tidak asing lagi dengan tokoh-tokoh muda aktivis Cianjur, sebutlah Unang Margana mantan Ketua KPU Cianjur yang kini dicalonkan oleh masyarakat Cianjur sebagai calon Anggota DPD RI 2014, Muhamad Toha Ketua DPC. PBB yang juga sekeretaris Komisi IV DPRD Cianjur, Ujang Awaludin Ketua KPU Cianjur, Adhi Susilo anggota KPU Cianjur, Sudradjat Laksana Asda 1 Cianjur, dan lainnya. Berikutnya, muncul pertanyaan dalam benak penulis, mengapa pribadi-pribadi yang berpotensi ini tidak terinventarisir denga baik sejak dulu-dulu? mengapa baru sekarang muncul keinginan untuk mempersatukan persepsi demi kemajuan Cianjur?. Memang tidak ada kata terlambat untuk dapat memulai segala kebaikan dalam hidup ini, begitupun dengan HIMAT dan alumninya, lebih baik terlambat daripada terlambat banget, karena sekaranglah momentum tepat untuk mempertegas kembali kejayaan HIMAT dimasa lalu. Orang Cianjur yang merupakan bagian dari etnik Sunda di Jawabarat, terkenal Single Fighter dan ceuceulenceungan sorangan, dimanapun ia berada. Namun uniknya, meskipun demikian, etnik lain mengakui akan kaparigelan urang Cianjur dalam memperjuangkan nasib hidupnya jika dibandingkan dengan bukan orang Cianjur. Logikanya, jika hanya sosoranganan saja urang Cianjur mampu tampil di pentas nasional, apatahlagi jika urang Cianjur bersatupadu, berkolektif, ngahijikeun kakuatan, dalam rangka ngaheuyeuk dayeuh ngolah nagara, pastinya akan jauh lebih hebat lagi. Ketika Garut punya WI Asgar (warga Indonesia Asli Garut) dan ASGAR Jaya yang tersebar di seluruh dunia sebagai perekat silaturahmi sesama urang Garut, kenapa Cianjur tidak?. Memang Cianjur memiliki RWC (Rukun Wargi Cianjur), akan tetapi sepengetahuan penulis, RWC belum memiliki bargaining posisition dan daya gebrak yang kuat terhadap peta politik nasional. Kini saatnya orang Cianjur tampil dan memainkan peran dalam berbagai lini kebangsaan negeri ini. Hal lain yang tidak kalah penting, dalam sambutannya, Kang Dudun yang merupakan pendiri HIMAT tahun 1962, dengan penuh semangat berpesan kepada kader-kader HIMAT saat ini untuk dapat memposisikan HIMAT sebagai organisasi tempat berhimpunnya cerdik-pandai pituin Cianjur. Organisasi yang selalu mampu menelorkan gagasan brilian terhadap problematika kedaerahannya. Organisasi cendikia yang mampu melahirkan calon-calon pemimpin masa depan yang syarat dengan penguasaan Iptek dan Imtaq. Juga HIMAT harus menjadi pelaku sejarah nanjeurna Cianjur dimasa depan, Cianjur kudu nanjur dina sagala juritan. Hal ini selaras dengan adagium HIMAT; Himat hari ini adalah prototipe Cianjur hari esok dan Indonesia masa depan. Penulis pikir cita ini tidaklah berlebihan, buktikan. HIMAT Antara Harapan dan Tantangan “HIMAT hari ini adalah potret Cianjur hari esok“ benarkah?. Apakah tidak terlalu naif untuk dapat kita buktikan bersama-sama kebenarannya dengan realitas pentas yang ada saat ini?. Cukup bijaksanakah para elit politik dan birokrasi di Kabupaten Cianjur untuk menyelaraskan kondisi objektif HIMAT hari ini dengan perkembangan Cianjur yang beranjak hari semakin menggeliat menampakkan keelokkannya di pentas lokal maupun nasional?. Atau mungkin, cukup cerdaskah segenap kader HIMAT (terlebih mereka yang memegang otoritas tertinggi di organisasi) untuk mampu membuktikan, lagi-lagi di atas pentas percaturan konstelasi organisasi di tatar santri ini, ikhwal keberpihakan HIMAT kepada kalangan arus bawah yang merupakan komunitas dominan warga Cianjur, mulai dari pesisir pantai selatan Cidaun, hingga perbukitan utara Cikalongkulon. Dapatkah dibuktikan dengan satu aksi nyata bahwa HIMAT mampu memberikan kontribusi terbaik untuk kemajuan dan kemaslahatan masyarakat Cianjur secara menyeluruh. Atau bahkan lebih parah lagi, adagium ‘HIMAT hari ini adalah Cianjur hari esok’ hanyalah pengklaiman yang tidak mendasar, alat propaganda segelintir oknum (yang mengaku kader HIMAT) demi memuluskan akal bulus guna merengkuh kekuasaan. Penulis meyakini, segenap masyarakat Cianjur tentunya mengenal, atau paling tidak pernah mendengar ikhwal eksistensi HIMAT (Himpunan Mahasiswa Tjiandjur) sebagai organisasi kemahasiswaan tertua dan terbesar (minimal secara kuantitas) di Kabupaten Cianjur. HIMAT yang lahir pada tanggal 24 juni 1962 merupakan wadah berserikat dan berkumpulnya kaum cerdik pandai pituin urang Cianjur, yang berawal dari gerakan mahasiswa Cianjur sekitar tahun 60-an yang kuliah di Kota kembang Bandung. Mereka adalah kaum muda yang senantiasa “gelisah-resah” menyikapi realitas dan gandrung akan perubahan, serta memiliki sense of belonging yang tinggi terhadap tanah kelahirannya, dan pada satu titik kulminasi berikutnya, bersepakat untuk membentuk suatu wadah primordial dengan nama HIMAT guna menampung beragam aspirasi mahasiswa yang berguna untuk memajukan dan mengembangkan kabupaten Cianjur di masa depan. 51 Tahun HIMAT Syarat Amanat HIMAT yang kini usianya genap 51 tahun, terbilang organisasi mapan dalam hal usia, namun apakah lantas kedewasaan dan keudjuran usia yang pada tanggal 24 Juni lalu telah dirayakan milangkala HIMAT oleh segenap kader yang ada di seluruh Indonesia, dibarengi pula oleh kedewasaan gerakan berpikir dan bertingkahlaku para alumni, anggota serta para pengurusnya?. Bukankah life begin at fourty, hidup tegas dimulai pada usia 40. Kematangan usia yang dibarengi dengan kematangan pola pikir dalam mengelola dan memanaj organisasi, akan mampu memunculkan HIMAT dengan wajah baru yang lebih populis, serta mampu menawarkan beragam solusi cerdas yang solutif-konstruktif guna membenahi ragam problematika masyarakat dan pemerintahan di Kabupaten Cianjur. Seiring dengan bergulirnya waktu, HIMAT dalam perkembangannya senantiasa mengalami fase fluktuatif. Memang benar, pasang surut antara keberhasilan dan kegagalan dalam suatu organisasi besar merupakan suatu hal yang lumrah, akan tetapi yang menjadikan permasalahan adalah durasi waktu kevakuman eksistensi gerakan dan kepemimpinan di tubuh HIMAT ekses dari “ketidakpedulian” atau mungkin ketidakmampuan alumninya menangkap message kegelisahan kader aktif HIMAT seperti saat ini. Tak ayal, HIMAT dengan kondisi seperti halnya sekarang, adalah salahsatu interpretasi kondisi “surutnya” sebuah organisasi. Tentunya bagi mereka yang merasa pernah dibesarkan dan didewasakan oleh HIMAT, tidak akan pernah berpangkutangan melihat kondisi yang memprihatinkan dalam organisasi keluarga besar HIMAT. Tindakan-tindakan prepentif yang cerdas, cepat dan tepat sasaran dengan dilandasi semangat kebersamaan, adalah harga mati bagi setiap kader untuk melakukannya. Sekalipun terkesan progresif reaksioner, kenapa tidak? Toh untuk menyelamatkan organisasi dan kader HIMAT itu sendiri. Sampai kapan HIMAT harus merana dan dipandang sebelah mata oleh sebagian kalangan yang tidak mengenal HIMAT secara lebih dekat. Tak dapat dipungkiri memang, sampai sejauh ini organisasi kemahasiswaan yang telah banyak melahirkan pemimpin-pemimpin dikancah birokrasi lokal maupun nasional ini, telah banyak memberikan sentuhan dan santunan pemikiran dalam mengembangkan “Kota Tauco” yang kita cintai. Contoh konkret, diselenggarakannya kegiatan Bakti Sosial (Baksos) HIMAT senantiasa dilaksanakan setiap tahun. Ini merupakan wujud kepedulian dan keterpanggilan hati kader HIMAT untuk turut berperan aktif membangun masyarakat Cianjur secara langsung baik fisik maupun psykis. Program Baksos hanyalah bagian terkecil dari sekian banyak program kerja yang sering dilaksanakan HIMAT. Tidak sedikit dari kalangan elite politik menjelang pemilu baik lokal (pemilukada) maupun nasional beberapa tahun yang lalu akan dilaksanakan, ada banyak “broker politik” melamar dan mengharapkan HIMAT untuk dapat dijadikan patner kerja guna memperoleh suara simpatik dari segenap masyarakat Cianjur, hanya untuk mendapatkan dan memuaskan syahwat kekuasaannya. Namun, HIMAT tidak bergeming, tetap konsisten memegang teguh nilai-nilai idealismenya yang tersurat dalam kitab suci konstitusi HIMAT untuk tidak terjebak dalam ranah politik praktis yang akan membawa kepada disintegrasi di internal keluarga HIMAT itu sendiri. Penulis reueus, bahwa pengurus HIMAT beberapa tahun silam mampu memproteksi organisasi kader kedaerahan ini dari intervensi politik para politisi karbitan, HIMAT terselamatkan dari gempuran pola hidup pragmatis yang mengenyampingkan proses dan berorientasi kepada hasil materil. Namun, ekses dari keteguhan sikap kader idealis tersebut, HIMAT harus berjuang keras dan kadang tertatih-tatih guna sekedar menghidupkan organisasi melalui program-program sederhananya seperti diskusi reguler, perekrutan kader, membangun rumah baca, dsb. Mengutip apa yang ditulis Soe Hok Gie dalam catatan Seorang Demonstran-nya, bahwa seorang idealis selamanya akan termarginalkan dari komunitas, namun ia-pun dengan tegas menyatakan, bahwa “lebih baik termarginalkan daripada harus menyerah pada kemunafikkan”. Apa yang layak dibanggakan oleh seorang manusia selain prinsip dan idealisme hidupnya. Jabatan tinggi, kedudukan memadai, dan harta melimpah bukanlah parameter sukses dan bahagianya seseorang, ketika harga dirinya lenyap tak tersisa, maka tak ada nilai sedikitpun selain kehinaaan yang melekat sampai kapanpun. HIMAT: Menyebar dan Mengakar Hal ikhwal mengenai realitas HIMAT yang telah dikemukakan di atas, dapat membuktikan bahwa HIMAT memang besar (minimal secara kuantitas). HIMAT merupakan representatif mahasiswa dari seluruh pelosok kecamatan yang tersebar luas di Kab. Cianjur. Kader HIMAT hampir terdapat di setiap daerah Kabupaten Cianjur, dengan beragam latar belakang kultur sosiologisnya. Penulis yakin, mereka yang mengenal HIMAT dan paham kondisi internal HIMAT (terlebih kader) akan senantiasa bergandengan tangan mempersatukan persepsi demi menciptakan kebersamaan dan menjadikan HIMAT sebagai sarana perjuangan untuk memperjuangkan suara-suara parau manusia yang terkerangkeng oleh hegemoni sang tirani, penguasa dan pejabat yang korup. HIMAT sejatinya adalah organisasi yang terdiri dari beragam komponen kemahasiswaan. Kaum midlle class yang memiliki multi peran dalam kancah kehidupan sosial kemasyarakatan. Tentunya kita selaku kader haruslah memahami secara komprehensif akan fungsi dan peran mahasiswa itu sendiri. Posisi strategis yang dimiliki mahasiswa (HIMAT) sebagai kaum idealis progressif haruslah dimanfaatkan sebagaimana layaknya, tanpa trik dan intrik politik menjerumuskan kader, demi kepentingan yang hanya sesaat. Kepekaan nurani mahasiswa dalam menyikapi realitas objektif rasional hendaknya menjadi ciri khas dalam memperjuangkan hak-hak rakyat. Mahasiswa sebagai agen perubahan, agen kontrol, dan agen pembaharu di tengah-tengah masyarakat, tentunya harus dapat dibuktikan dengan tindakan-tindakan riil, bukan hanya sekedar mengumbar wacana tanpa makna. Ingatlah wahai kader HIMAT...”The Cianjur in my Hand, not in My Heart”. Seorang Heraclitus, sempat berujar Life is Move, bahwa indikator hidup adalah bergerak. Barang siapa mampu bergerak maka ia akan mampu melakukan perubahan, dan perubahan hanya akan terwujud jika ada perlawanan. Tentunya kita tidak ingin di cap sebagai kader apatis, rigid dan apolitis. Diam terpaku mengharap sesuatu yang belum pasti, mengharap mukjizat dan wangsit semu untuk memperbaiki kondisi internal HIMAT yang kini tengah mengalami krisis identitas, adalah tindakan yang teramat memalukan tentunya. Karenanya bergeraklah untuk dapat mempertegas keberadaan kita selaku kaum cerdik pandai di tanah ini. Regenerasi kepemimpinan dalam alur kehidupan ini adalah suatu keharusan, apalagi di internal sebuah organisasi besar sekaliber HIMAT. Keharusan untuk menyelenggarakan FOSMAT, MUBES, upgrading, pelantikan, diskusi reguler dan rapat kerja ditingkat kepengurusan HIMAT pusat tak ayal harus dilaksanakan berdasarkan amanat konstitusi yang berlaku dan masih dianggap kesakralannya oleh seluruh kader. Paheuyeuk-heuyeuk lengeun, paantay-antay tangan, rame ing gawe sepi ing pamrih, haruslah menjadi tradisi dan ciri khas kader HIMAT, karena memang kita lahir dan dibesarkan dari satu local wisdom yang sama. Masih mampukah HIMAT hari ini untuk terus ajeg berdiri di tengah terpaan pergolakan konstelasi perpolitikan negeri ini menjelang perhelatan pemilu capres/ cawapres dan pemilu legislatif nanti? Atau mungkin HIMAT hari ini telah kehilangan taring dan mandul untuk bisa sedikit saja menyeringai kepada khalayak, terlebih pemerintah daerah guna menyikapi kebijakan-kebijakan yang tidak bijak dan tidak memihak kepada rakyatnya. HIMAT tentunya tidak ingin di peta konflik-kan oleh segelintir orang yang berkepentingan pada moment perhelatan politik, baik saat ini ataupun nanti. Hal ini bukan berarti bahwa HIMAT tidak mau bersentuhan dengan politik, namun HIMAT harus lebih arif bersikap, mana politik praktis dan mana moment yang memiliki nilai pendidikan politik, mana gerakan pure politik, dan mana gerakan idelogik. Sekiranya HIMAT hari ini mampu untuk tidak melewatkan kesempatan emas perpolitikan negeri ini, baik lokal maupun nasional, kenapa tidak HIMAT menjadi bagian yang akan turut menawarkan (minimal ide) kriteria calon kepala daerah, legislator, dan kepala negara yang benar-benar amanah dan aspiratif, yang akan mampu membawa kepada kemaslahatan, baik lahir maupun bathin. Kenapa tidak, HIMAT yang memiliki peran strategis mencoba untuk turut mengawasi prosesi pesta demokrasi segenap rakyat Indonesia yang akan datang, minimal untuk skup lokal Kabupaten Cianjur. Peran aktif mahasiswa untuk turut mensukseskan pemilu 2014, merupakan satu kekuatan yang akan turut membantu pemerintah dalam menciptakan tatanan kehidupan demokrasi, demi terwujudnya civil society “Gerbang Marhamah”. Terlebih HIMAT sebagai organisasi kemahasiswaan, wadah berkumpulnya kaum intelektual (cerdik-pandai) yang lahir dan besar oleh orang Cianjur pituin, hendaknya mampu menawarkan gagasan-gagasan bernas untuk dapat terciptanya sistem birokrasi yang sehat di Cianjur ini. Besar harapan, semoga HIMAT hari ini masih tetap eksis dan tegar mengawal dan memperjuangkan kepentingan umat. Tidak hanya puas berada di bawah bayang-bayang kebesaran nama rakanda-rakandanya, yang telah lebih dulu sukses dalam berbagai bidang profesi serta status sosialnya, penulis selaku junior mengucapkan selamat dan sukses dari lubuk hati yang paling dalam. Senior yang paripurna adalah senior yang sanggup memanusiakan manusia. Segenap keluarga besar HIMAT hari ini hendaknya bangga menjadi pelaku sejarah, bukan malah merugi menjadi penonton sejarah, apalagi menjadi celaka karena dipaksa sistem menjadi korban dari ketidakbijakan sejarah yang korup dan lalim. Tunduk tertindas, atau bangkit melawan, karena sejatinya diam adalah sebuah pengkhianatan. Maju bergerak atau diam dan mati terinjak, adalah dua pilihan yang sama-sama memeberikan satu konsekuensi logis. Akan tetapi tak dapat dinafikkan, bahwa Life’s Choice, hidup memang sebuah pilihan, karenanya memilihlah yang terbaik untuk ummat wahai HIMAT. Vivere Pericalaso Mente, Hiduplah mulia dalam cita-cita yang membahayakan, Viva La Revolucion Hasta La Victoria Siempre, Jayalah Terus Revolusi, camkan bahwa kemenangan akan senantiasa bersama kita dan rakyat (Che Guevara, Bolivia 1959) Selamat Berkiprah dan Berjuang Kader HIMAT...!. Wassalam. (Disarikan dari berbagai sumber, dianalisis melalaui pengamatan rasio yang apik, dan disajikan kepada khalayak dengan penuh cinta kasih). Cianjur, 21 Agustus 2013

Tidak ada komentar: