Banyak kasus kekerasan yang menimpa Tenaga Kerja Wanita (TKW) di luar negeri, menambah panjang nestapa kaum hawa. Ragam bentuk eksploitasi dilakukan penyalur, majikan dan pihak-pihak tertentu hanya untuk mengejar keuntungan sesaat dengan mengorbankan nilai kemanusiaan. Belum lagi proyek ini bermasalah secara syar’i, secara kultur ketimuran-pun sebenarnya agak sedikit bergesekan. Jika memang demikian mengapa tidak dihapuskan saja?.
Di Provinsi Jawabarat ada beberapa kabupaten yang dikenal sebagai daerah penyuplai TKI/ TKW terbanyak dalam setiap tahunnya, diantaranya Indramayu, Cirebon, Majalengka, Garut, Purwakarta, dan tidak ketinggalan tentunya Kab. Cianjur sebagai salah satu kabupaten yang paling getol “mengekspor” manusia-manusia pekerja ke luar negeri terutama Arab Saudi.
Jika logika sederhana ini yang dipakai, sangatlah logis mengapa masih banyak buruh migran yang diberangkatkan setiap tahunnya dari Kab. Cianjur. Lantas adakah suatu proses advokasi hukum dan peraturan daerah (perda) yang sistematis guna melindungi para pekerja ini dari tindakan kriminal yang senantiasa mengintai jiwa dan raga mereka.
Miris memang, ketika banyak dari anak bangsa ini yang berkerja ke luar negeri tanpa diimbangi dengan skill yang mumpuni dan bekal ilmu pengetahuan yang memadai. Tak sedikit pula dari para buruh migran yang notabene saudara sebangsa dan setanah air bahkan ada dari sebagaian mereka yang satu akidah dengan kita, berangkat hanya dengan modal nekad karena terdesak kebutuhan ekonomi di dalam negeri.
Sehingga banyak sudah kasus tindak kekerasan yang dilakukan oleh para majikan kepada para buruh internasional asal
Masih segar dalam ingatan kita ketika seorang Nirbala Bonat, TKW asal Nusa Tenggara Timur yang fisiknya melepuh karena didera dengan siksaan setrika panas dan siraman air mendidih oleh majikannya diluar negeri. Berikutnya kasus meninggalnya TKW asal Cianjur pada bulan Maret 2005, dan jenazahnya baru diberikan kepada keluarganya 3 bulan kemudian oleh pihak pemerintah dan pihak terkait. Kasus seperti ini merupakan bagian kecil dari fenomena gunung es permasalahan TKI yang sebenarnya. Yang nampak ke permukaan mungkin hanya 2 sampai 3 kasus saja yang berhasil di ekspos oleh media massa, dibawah sana, berjuta kasus yang tiada terselesaikan bahkan sengaja “dipeti es-kan” karena alasan-alasan politis dan ekonomis. Sehingga kasus tinggalah kasus, tanpa proses investigasi dan peradilan dari pihak pemerintah
Dilema Menjadi Buruh Migran
Kenapa banyak dari kaum perempuan kita memutuskan untuk menjadi TKW?. Selidik punya selidik ada beberapa sebab yang melatarinya. Pertama, kelemahan iman. Godaan pencapaian materi setinggi-tingginya, membuat mereka mengabaikan kewajiban sebagai seorang isteri dan ibu. Cerita tetangga yang baru saja pulang kerja dari luar negeri, dengan membawa segepok duit dan perhiasan, membuat mereka semakin ngiler untuk berangkat.
Kedua, lemahnya wibawa suami dan tidak berfungsinya dirinya sebagai pemimpin rumah tangga. Akibatnya, ia tak mampu mencegah isterinya untuk berangkat kerja ke luar negeri. Hal ini disebabkan oleh dominasi isteri dalam rumah tangga, sehingga suami nyaris tidak mempunyai keputusan yang berarti. Sebab lain adalah, karena suami tidak berkerja, alias pengangguran atau memang dasarnya sang suami malas untuk berkerja. Akhirnya, guna menjaga kelangsungan asap dapur, sang isteripun berkerja.
Ketiga, keinginan meningkatkan kesejahteraan hidup. Menurut pengamatan penulis, mereka yang berangkat ke luar negeri untuk menjadi TKW, bukan disebabkan oleh kemiskinan akut yang mereka derita. Buktinya, mereka mampu mendapatkan uang untuk keperluan tiket dan paspor ke luar negeri. Seringkali tanah dan rumah-pun dijual untuk memenuhinya.
Keempat, pengaruh media masa dan dampak globalisasi sajian-sajian sinetron yang semakin marak belakangan ini dengan menjual bahkan memberi mimpi-mimpi indah tersendiri bagi kaum hawa. Siapa yang tak tergiur dengan rumah mewah dan perhiasan melimpah? Masalahnya, di daerah ekonomi sentralistik yang berlaku di negeri kita tidak memberi ruang cukup untuk menderapnya roda perekonomian secara signifikan. Alih-alih buat hidup mewah, buat makan saja susah. Kelima, tidak adanya political will pemerintah untuk mengatur permasalahan ini.
Betapapun hal ini tidak bisa dilepaskan dari lemahnya peran pemerintah. Lebih disayangkan tak satupun kebijaksanaan pemerintah yang bisa dijadikan solusi. Sementara itu berita-berita mengenai penganiayaan yang dialami oleh TKI/ TKW terus menambah coreng-moreng wajah
Penulis, sering mengasumsikan nilai mata uang yang ada di dunia ini dengan nilai kemanusiaan bangsa-bangsa di dunia. Sebagai contoh, nilai 1 dolar Amerika berbanding Rp.9.000,- rupiah mata uang kita. Hal ini berarti bahwa nilai 1 nyawa orang Amerika setara dengan 9.000 nyawa rakyat
Proyek “eksport” manusia ini juga bermasalah dari sisi syari’ah. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh ibnu Umar Ra. Rasulullah pernah bersabda, “Tidak halal bagi seorang wanita untuk bersafar (bepergian) lebih dari tiga hari kecuali dengan suami atau muhrimnya”. Belum lagi persoalan meninggalkan anak dan suami yang membuat perempuan pekerja tidak dapat menunaikan kewajibannya sebagai seorang ibu dan isteri. Dalam kondisi demikian, mungkinkah keluarga sakinah, mawadah, wa Rahmah yang merupakan impian setiap muslim dapat terwujud?, jawabnya tentu saja Tidak.
Lantas bagaimana solusinya? Dalam hal inui, pemerintah harus tegas melarang pengiriman TKW ke luar negeri. Seruan dan peringatan untuk menghentikan penempatan TKW ke Arab Saudi jika tidak bisa menjamin dan hak-hak perlindungan atas mereka para pahlawan devisa, kerap dilontarkan ormas-ormas Islam. Namun lacur, anjing menggonggong kafilah tetap berlalu. Teriakan dan kritikan seolah sesuatu yang biasa-biasa saja bagi pemerintah, pengiriman TKW bukannya surut malah makin menjadi. Seolah memang ada sindikat dan mafia yang senagaja menumbuhsuburkan bisnis eksploitasi manusia di persada ini. karenanya berhati-hatilah dengan praktek penjualan perempuan (women trafficking) yang terselubung, apalagi yang dilindungi oleh Undang-undang seperti halnya TKI/ TKW.
Kita harus memiliki sekaligus mempertahankan harga diri kita sebagai bangsa yang merdeka dan berdaulat, sebagai hamba Tuhan yang memiliki hak asasi. Bumi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar