Kamis, 04 Desember 2008

MEMAKNAI KEMBALI REVOLUSI KEBANGSAAN KITA


Penulis : Ridwan Mubarak, S.Sos

MEMAKNAI KEMBALI REVOLUSI KEBANGSAAN KITA

“Revolusi Kerakyatan untuk Indonesia yang Berkeadilan”


…Akulah anak bangsa yang terlahir dari rahim Revolusi,

Akulah putra sang fajar pengukuh keadilan,

Biarkan aku terkapar menjadi martir

Satu kisah Revolusi negeri ini…

Revolusi, satu kata yang tidak akan pernah mati dalam semangat perubahan kita. Perubahan secara mendasar, total dan menyeluruh atas berbagai lini kehidupan penopang ajegnya demokrasi bangsa, itulah sejatinya revolusi. Jika dulu kita mengenal istilah revolusi fisik dalam merebut kemerdekaan dari tangan penjajah Belanda dan Jepang, saat ini kita dihadapkan pada permasalahan kebangsaan yang agak sedikit berbeda, namun sesungguhnya substansinya sama karena dapat mengakibatkan lenyapnya Indonesia dari peta dunia internasional, yakni ancaman disintegrasi bangsa yang dipicu karena tidak meratanya kesejahteraan antara pusat dan daerah, pejabat dan rakyat, tuan dan majikan, maupun antara si kaya dan si miskin.

Beragam permasalahan akut bangsa kini tengah menggerogoti setiap sendi negeri ini. Mulai dari krisis satu dimensi ekonomi, hingga krisis multi dimensi kebangsaan dan degradasi moral rakyat serta birokrat. Tahun 1998 silam, seluruh elemen bangsa yang prodemokrasi sempat menggagas Reformasi untuk menyelamatkan bangsa dari keterpurukan, namun sayang, hingga sekarang 10 agenda reformasi yang direkomendasikan kepada pemerintah, belum satupun yang terealisasi secara utuh.

Sejatinya reformasi adalah revolusi setengah hati. Agenda utama reformasi tiada lain ingin menciptakan sebuah perubahan yang lebih baik, namun hingga bangsa ini berganti penguasa beberapa kali, reformasi terkesan mati suri. Reformasi belum menyentuh secara menyeluruh kultur birokrasi kita, baik eksekuitif, legaslatif, yudikatif, maupun TNI dan Polri. Segala sesuatu jika hanya dilakukan dengan setengah hati, yakin sesuatu itu tidak akan pernah terwujud secara sempurna, begitupun dengan reformasi kita. Seyogianya perubahan kita haruslah dilakukan secara serentak, cepat dan menyeluruh oleh segenap elemen bangsa. Perubahan yang parsial untuk elemen tertentu saja, hanya akan memperpanjang ritme derita rakyat karena harapan-harapan masyarakat kecil untuk dapat hidup makmur, tetap saja harapan yang sulit untuk dapat direalisasikan menjadi kenyataan.

Jika kita runut ulang ikhwal sejarah revolusi bangsa-bangsa di dunia, banyak hal dapat kita tauladani disamping banyaknya korban yang menjadi martir dari proses revolusi itu sendiri. Di Eropa pada awal abad ke-18 kita mengenal revolusi industri yang dipelopori oleh Inggris dan Perancis ketika untuk pertama kalinya James Watt menemukan Mesin uap. Pada masa awal revolusi industri, masyarakat Eropa mengalami kemajuan yang sangat luar biasa dalam berbagai hal. Peningkatan kesejahteraan karena terbukanya lapangan kerja serta mudahnya masyarakat mengakses berbagai kebutuhan hidup hasil produksi industri adalah hal yang tampak nyata kala itu. Ekonomi mengalami pertumbuhan yang sangat pesat ditandai dengan tumbuh suburnya pusat-pusat perekonomian diseluruh daratan Eropa, ilmu pengetahuan yang menjadi elemen pertama dan utama masyarakat Eropa, menjadi sesuatu yang sangat berharga sehingga pihak pemerintah saat itu banyak memfasilitasi berdirinya pusat-pusat ilmu pengetahuan seperti perpustakaan dan perguruan tinggi.

Di Amerika kita mengenal Revolusi Amerika, yang merupakan tonggak awal berdirinya negara adidaya Amerika yang berserikat. Perang saudara (perang sipil) sesama rumpun Eropa yang pro kemerdekaan dengan pasukan Britania raya (Inggris) yang ingin menanamkan dominasinya di benua baru Amerigo tersebut, turut mewarnai jalannya revolusi. Seandainya Amerika tidak mengalami perjalanan revolusi, penulis meyakini bahwa tidak akan pernah ada yang namanya negara Amerika Serikat sekarang ini. Inilah buah manis revolusi rakyat Amerika yang sampai saat ini terus dirasakan hikmah besarnya oleh generasi bangsa Amerika berikutnya. Di Iran kita mengenal Revolusi Islam Iran. Shah Pahlevi yang menjadi penguasa Iran dengan system Monarki Absolutnya, harus mundur dan mengakui Ayatulloh Ruhulloh Khomaeni sebagai pemimpin bangsa Persia pada awal tahun 1980-an melalui satu proses revolusi berdarah. Pasca revolusi, kini Iran menjadi salah satu negara yang disegani oleh kawan maupun lawan, baik di Timur tengah maupun dalam kancah pergaulan dunia internasional. Bahkan Amerika sendiri merasa segan dan harus berpikir sekian kali untuk menginvasi negeri para Mullah ini. Revolusi ini memiliki keunikan tersendiri karena mengejutkan seluruh dunia Tidak seperti berbagai revolusi di dunia, Revolusi Iran tidak disebabkan oleh kekalahan dalam perang, krisis moneter, pemberontakan petani, atau ketidakpuasan militer; menghasilan perubahan yang sangat besar dengan kecepatan tinggi ; mengalahkan sebuah rejim, walaupun rejim tersebut dilindungi oleh angkatan bersenjata yang dibiayai besar-besaran dan pasukan keamanan dan mengganti monarki kuno dengan ajaran teokrasi yang didasarkan atas Guardianship of the Islamic Jurists (atau velayat-e faqih). Hasilnya adalah sebuah Republik Islam "yang dibimbing oleh ulama berumur 80 tahun yang diasingkan ke luar negeri dari Qom," sebagaimana seorang cendekiawan menyatakan, "jelas sebuah kejadian yang harus dijelaskan”.

Revolusi di Negeri Tirai Bambu-pun sempat bergulir. Masyarakat RRC berbondong-bondong bersama pemimpin revolusi mereka Mao Zedong menyusuri ganasnya alam liar menentang kekaisaran Cina yang feodal. Sejarawan Cina menggambarkan pemimpin besar Mao dan pengikutnya (pasukan merah-pen) ketika mereka melakukan long march di pegunungan sebagai seekor naga besar yang meliuk-liuk menyusuri alam bebas, saking panjangnya pasukan revolusi tani yang dipimpin oleh Mao. Berkat ketekunan Mao dan pasukan merahnya, lambat laun revolusi tani ataupun biasa disebut sebagai revolusi budaya, akhirnya dapat membuahkan hasil yang memuaskan. Mao naik kepucuk pimpinan dan menjadi pemimpin sosialis RRC dalam kurun waktu yang panjang.

Gerakan revolusi paling popular dan menjadi tren gerakan revolusi kita selaku kaum muda diseluruh dunia saat ini adalah semangat revolusi rakyat Amerika Latin (Kuba dan Bolivia-pen) melawan hegemoni Amerika Serikat. Fedel Castro dan Che Guevara, adalah dua tokoh revolusi Amerika Latin yang gigih menentang segala usaha intervensi Pentagon. Peristiwa perang Teluk Babi merupakan bukti nyata bahwa masyarakat kuba dengan kekuatan Revolusinya mampu mematahkan kekuatan invasi Amerika yang membonceng pemerintah boneka Kuba saat itu.

Bagaiamana dengan bangsa kita saat ini? apa solusi ampuh guna memecahkan beragam permasalahan kronis kebangsaan kita? Jawabannya pasti Revolusi dan Revolusi. Hanya dengan perubahan yang mendasar, total dan menyeluruh bangsa ini akan terselamatkan dari keterpurukan. Ketika dulu kita sanggup merengkuh kemerdekaan dan mengukuhkan bangsa Indonesia sebagai sebuah bangsa yang berdaulat dengan jalan revolusi fisik, kenapa hari ini tidak. Bangsa lain mampu memperbaharui nilai-nilai ideal kebangssaannya dengan jalan revolusi, kita-pun akan mampu melakukan hal yang sama, bahkan lebih baik. Kini saatnya kita menjalankan revolusi kita, Revolusi kerakyatan yang berawal dari rakyat oleh rakyat untuk kemaslahatan rakyat banyak seutuhnya. Revolusi kerakyatan yang bersumber dari suatu Revolusi kesadaran yang sempurna dan ideal seorang anak bangsa yang belum terkontaminasi oleh perilaku pragmatis-hedonis materi. Mengawali segala sesuatu dari diri sendiri, memulai sesuatu dari yang dianggap kecil dan remeh temeh, memulai dari sekarang apa yang dapat kita lakukan, tidak menunggu besok atau lusa, do what you can do now, inilah sejatinya revolusi kesadaran seorang anak bangsa.

Viva la revolucion, hasta la Victoria siempre, jayalah terus revolusi yakinlah bahwa kemenangan akan senantiasa bersama kita dan rakyat. Demikian ungkap seorang Che Guevara dalam suatu kesempatan ketika memimpin pasukan revolusinya melawan hegemoni Amerika. Revolusi yang berhasil adalah revolusi yang didukung sepenuhnya oleh rakyat, people power adalah suluh utama yang mendidihkan semangat perlawanan atas ketidakadilan, kesewenangan, dan kemunafikkan kekuasaan yang korup. Bukankah ada satu logika kaum Machiavellian menyatakan bahwa the absolute power tends to corrupts, kekuasaan yang absolute selalu cenderung korup. Karenanya rakyat harus menjadi watch dog, penggonggong atas beragam kebijakan pemerintah yang tidak bijak.

Revolusi kerakyatan kita hari ini haruslah mampu memangkas satu generasi korup yang kini duduk dalam sistem pemerintahan kita dan menjadi virus kebobrokan kultur birokrasi negeri ini. Inilah solusi yang solutif dan konstruktif guna mengawali perbaikan Negara Kesatuan Republik Indonesia menyongsong fajar baru keadilan dan pemerataan kesejahteraan demi terwujudnya kemakmuran seluruh elemen bangsa, tanpa monopoli kesempatan, tanpa mafia peradilan, tanpa pelacuran konstitusi, tanpa jual beli jabatan, tanpa aksi trafficking dan pembalakan, serta tanpa kemunafikkan. Akan tetapi seorang Soekarno pernah mengatakan ‘bahwa tidak ada satu proses revolusi yang tidak memakan anaknya sendiri’ kalaupun demikian, kita selaku anak-anak dari rahim revolusi, harus senantiasa siap untuk menjadi martir tumbal revolusi demi tegaknya pemerintahan yang amanah , bersih dan berkeadilan. Clean government and clean governance dalam kultur birokrasi pemerintahan kita adalah satu hal yang sangat kita dambakan kehadirannya. Jayalah terus revolusi !!! (wassalam)

Cianjur, 03 November 2008

Penulis

Tidak ada komentar: