PECUNDANG SEJATI
Benar saja pikir ku ini,
kau memang bukan manusia bijaksana,
kau benar-benar pecundang
atau mungkin saja
manusia setengah binatang.
Empat masa berlalu
kau tak berani menatapku,
jangankan kau hadir tuk mengungkap tabir,
menghampiriku saja kau tak mampu.
Jika begitu adanya,
untuk apa kau mendusta kata-kata hampa,
menebar isu seolah kau tertipu,
kau tebar jala muslihat jahat ditepian lautan,
kau lupa akan pijakan,
tebing curam mengancam
siap menelanmu kapanpun Tuhan mau.
Sekali lagi kutegaskan kepadmu
bahwa kau memang penguasa
bermental pecundang.
Kau korbankan kebebasan mereka
yang ikhlas menebar kebaikan
di Tatar Wiratanudatar,
kau hinakan mereka
dengan kuasa semu mu itu,
kau kira kau menang
dan akan Berjaya selamanya.
Kau salah besar kau tetap pecundang
dan selamanya akan
tetap menjadi pecundang.
Kami disini
dalam kubur lumpur yang kau timbun
adalah pejuang dan selamanya
akan tetap menjadi pejuang.
Rumah Penjara,
21 Agustus 2019
“Terbentur-Terbentuk”
Karya Sang Gembala (RM)
AKU DAN TUHAN
Aku percaya Tuhan itu ada,
bukan karena ia mencipta segala,
melainkan ia kuasa untuk menjadikan
dirinya untuk ada.
Ada dengan sendirinya
karena Tuhan
maha kuasa,
tak perlu mencipta
apa yang kita maknai sebagai
tanda dan penanda, sebagai pertanda
bahwa Tuhan memang ada.
Ada adalah segala apa
yang dapat didefinisikan, bisa diidentifikasi
dan dapat pula diwacanakan.
Aku, kamu, dan mereka
ada dalam ketiadaan.
Tiada dalam keadaan,
kita dilahap oleh sang waktu
pada akhirnya dan tiada pada awalnya.
Aku, kamu dan mereka
adalah kreasi Tuhan yang paling sempurna,
tiada dengan sendirinya,
melainkan senggama menjadi perantara,
dua tubuh menjadi satu, dua rasa menjadi satu,
dua jiwa menjadi satu, kita semua satu dalam
dua,
dua dalam satu dan itu yang menjadi pertanda
bahwa Tuhan memang ada.
Aku, kamu, dan mereka…
mahluk Tuhan yang katanya paling sempurna
sekaligus menjadi paling hina,
kita manusia tercipta
dari satu bahan yang sama,
aku adalah air,kamu adalah air,
mereka semua adalah air,
kita semua adalah air pada bentuk
dan wujud yang berbeda,
suatu saat nanti, yakinilah
kita akan menguap bersama.
Rumah Penjara
21 Agustus 2019
“ Terbentur-Terbentuk”
Karya Sang Gembala (RM)
TEGAR
Terkurung dalam ruang sempit,
tercerabut kebebasan
sebagai manusia merdeka,
terpuruk dalam kehinaan
dititik nadir kemanusiaan.
Aku tetap tegar diambang batas kesabaran
selaku hamba Tuhan.
Hidup menapaki kaki langit,
menelusuri lorong waktu yang terus berlalu
tanpa mau menunggu,
berlari kencang bersama asa para jelata
yang merindu kesempurnaan.
Meski terseok dan hampir rubuh
ku tetap teguh disela angkuh
para penjilat dan kaum hipokrit.
Aku hanya menjalani
apa yang kau gariskan Tuhan,
aku berusaha sekuat tenaga yang tersisa,
tanpa mengeluh.
Meski sulit aku terus bertahan,
Melangkah gontai merangkak pelan.
Tertatih bangkit dan terjatuh,
di tengah badai fitnah kejimu itu.
Terus berulang dan berulang,
hingga ku tak tahu lagi
entah berapa ratus kali ku berhitung,
yang kutahu pasti…
angkuh dustamu adalah kehinaan
yang tak kan putus dirundung malang.
Tegar sikapku adalah kehormatan
yang memuliakan kehidupan
Kuyakin dengan segenap kesungguhan
bahwa Tuhanpun tahu…
jika aku tertipu kesalehanmu !
Rumah Penjara
21 Agustus 2019
“ Terbentur-Terbentuk”
Karya Sang Gembala (RM)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar